
Jika seorang suami biasanya akan sangat antusias saat mendengar kehamilan istrinya, namun pria matang yang memiliki dua istri itu merasa gundah, tidak ada rasa bahagia sedikitpun saat dia akan menjadi ayah, entah mengapa pikirannya memikirkan bagaimana perasaan Nasya saat mendengar kabar ini.
"Mengapa kau terus murung? harusnya kau senang Karna istrimu sedang mengandung benih mu" sindir Maxim sambil menyodorkan berkas yang ke hadapan Nicho.
Ingin rasanya Nicho bercerita tentang semuanya pada sahabat sekaligus asisten pribadinya, tapi dia sangat merasa malu, Karna sang asisten adalah pria yang digadang gadang telah singgah di hati wanitanya.
Drttt drttt
"Hallo Bas?" tanya Maxim setelah mengangkat ponselnya. Nicho yang mendengar jika Maxim memanggil Bas, tiba tiba saja perasaannya lebih tak karuan, ia takut Bastian yang sengaja di deportasi pulang untuk membawa wanitanya.
"Oke, nanti malam aku akan menemuimu" ucapnya lalu menutup sambungan teleponnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Maxim saat Nicho memandangnya dengan tatapan menerawang. "Kau tampak seperti pria yang menyedihkan Nich, berhenti menatapku dengan tatapan banci".
Nicho hanya bisa memandang kepergian Maxim dengan bodoh, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, apapun yang terjadi dia harus bisa mempertahankan Nasya di sampingnya.
Sedangkan di sebuah restoran yang cukup mewah Nasya sedang menangis tersedu-sedu di pundak Bastian yang baru saja tiba.
"Dari tadi terus menangis, tapi kau tak mengatakan apa yang membuatmu menangis?" tanya Bastian.
"Aku ingin pergi dari sini Brother" ucapnya dengan mata yang bengkak.
"Apa kau ingin tinggal bersamaku? aku membeli salah satu villa di Bali, mari tinggal di sana bukankah kau sangat menyukai pantai?" tanya Bastian lagi.
"Aku ingin pergi kemanapun sampai dunia tidak pernah menemukan ku" jawabnya lagi.
"Hahahah,,,, apa kau bodoh? lalu kau akan tinggal dimana? di mars atau Venus?"
"Bisakah kau membawaku ke Juventus?" tanya Nasya
"Hahah, Venus bodoh, bukan Juventus" jawab Bastian menempeleng kepala Nasya sambil tertawa terbahak-bahak. "Kalo Juventus klub bola"
"Yah, bawa aku kesana! kemanapun itu asal jangan di bumi, bumi terlalu menakutkan untuk aku singgahi mereka terlalu jahat dan berambisi" ucapnya seperti anak kecil.
"Apa kau sudah mengunjungi ayahmu?" tanya Bastian.
"Aku tidak ingin mengunjunginya" jawabnya tertunduk.
"Kau berjanji pada dirimu sendiri suatu saat akan memaafkan dirimu, dan mendatangi ayah mu dengan suamimu? bukankah sekarang kau sudah menjadi seorang istri? sekali kali datang lah meski hanya sendiri, kasian ayahmu pasti merindukan putri satu-satunya" ucapnya sambil mengelus rambut Nasya.
"Brother, apa menurutmu aku harus meninggalkan Nicho?" tanya Nasya pada Bastian.
"Aku tidak bisa memberi jawaban Karna aku tidak tau sebesar apa rasa cintamu pada suamimu".
"Aku tidak mencin------
Brak
Pintu di dobrak dengan keras dari luar, hingga Bodyguard yang berjaga diluar terpelanting ke dalam. Mereka beradu tinju memaksa masuk ke dalam, lalu munculah pria yang mengenakan setelan kantor dengan kacamata hitam bertengger di hidung nya keluar dari kerumunan kubu bodyguard yang sedang beradu kekuatan.
"Tidak mau" jawab Nasya menenggelamkan wajahnya di dada Bastian
"Kau ingin pulang dengan cara kasar atau pulang dengan patuh?" tanya Nicho sambil berjalan mendekati Nasya.
"Jangan memaksa adikku" ucap Bastian tak kalah dingin dari Nicho.
"Adik? sejak kapan seorang anak yang ditelantarkan memiliki adik?" tanya Nicho yang langsung membuka luka masa lalu Bastian.
"Jangan mengorek masa lalu oppahku sialan!" teriak Nasya yang emosi saat Nicho sengaja melukai Bastian dengan masa lalunya. Dia tau saat ini Bastian sedang menahan bobot tubuhnya yang bergetar hebat Karna trauma masa lalunya.
"Lalu, pulanglah sebelum kau melihat pria ini diam dalam kurun waktu yang lama" ancamnya. Tapi Nasya tidak beranjak dari duduknya, ia malah mengambil ponselnya menghubungi seseorang namun tidak ada jawaban hanya da operator yang menjawab telponnya. Sedangkan Bastian saat ini sudah terdiam, dengan tatapan menerawang jiwanya masuk kembali ke dalam kehidupan di masa lalunya.
"Hahah, kau akan menghubungi Maxim Botch? sampai kau pulang ke rumah dia tak akan pernah datang kemari" ucapnya, Karna sebelum kemari dia lebih dulu menyekap Maxim di dalam ruangannya dan menyita ponselnya.
"Kau jahat! kau Monster egois!" teriak Nasya dengan kembali meluruhkan air matanya, ia menggoyang goyangkan tubuh Bastian agar keluar dari bayang bayang masa lalunya.
"Oppah, sadarlah aku di sini membutuhkanmu, kau pria terbaik yang aku punya kau bukan pembunuh, mereka menjebakmu Oppah" ucapnya sambil menangis tersedu-sedu mendekap tubuh Bastian dengan erat seolah memberi sinyal pada Bastian jika kehidupannya saat ini bersama Nasya bukan hidup di kehidupan saat semua orang memfitnahnya.
"Tidak usah banyak Drama Botch, tanganku sudah gatal, sepertinya aku terlalu baik akhir akhir ini" ucapnya sembari menggulung lengan bajunya, lalu menarik paksa tubuh Nasya yang sedang memeluk Bastian dengan erat.
"Lepaskan aku sialan!" teriak Nasya saat Nicho menarik paksa tubuhnya.
"Aku tidak suka kau memeluk pria lain Botch!" ucap Nicho sambil mendekap tubuh Nasya yang meronta di dalamnya.
"Kau egois! kau Monster!" umpat Nasya
"Kau tega membuat Bastian kembali seperti dulu, kau egois kau ingin menang sendiri! egois" teriak Nasya masih mencoba keluar dari dekapan Nicho.
"Aku tidak akan membuat orang orang di sekitar mu menderita jika kami tidak mengkhianati ku baby" ucapnya mengelus air mata Nasya yang luruh di pipinya dengan kasar.
"Aku akan membuatmu lebih menderita dari pada ini sialan!" ucap Nasya penuh kebencian.
"J****g sepertimu tidak akan bisa melawan ku bahkan Bastian yang kau agung agungkan bisa membantu mu saat ini hanya diam seperti orang bodoh, lihatlah dia sungguh seperti orang gila yang baru sadar jika dirinya berbeda dengan kita" ucapnya.
Sebenarnya Bastian bisa mendengar seluruh ucapan Nicho, hanya saja jiwanya sudah tersedot ke dalam bayangan masa lalunya, ingin sekali dia keluar dari bayangan masa lalunya namun sepertinya rasa bersalahnya terlalu besar hingga tidak bisa membawanya keluar.
"Ayo pulang!"
"Lepaskan aku! aku tidak ingin tinggal dengan Monster jahat seperti mu, kau egois hanya memikirkan tentang dirimu saja!"
"Aku katakan sekali lagi, sampai matipun aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku memang egois hanya itu caraku mempertahankan mu Botch!" ucapnya sambil menekan dagu Nasya dengan keras.
"Aku menjadi seperti ini Karna orang orang pun tidak pernah peduli dengan keinginan ku, mereka selalu hidup dengan kehendaknya sendiri, aku tidak bisa membiarkan aku sendiri selalu menjadi korban mereka, untuk itu aku harus menjadi seperti mereka agar aku bisa membalas perbuatan mereka, termasuk kamu Botch" ucapnya sambil meludahi bibir Nasya yang terbuka lalu menc*umbunya dengan kasar.
"eghhh,,, kau salah Nich,, aku bukan orang yang kau pikirkan!" teriak Nasya. Tapi Nicho mengabaikan itu semua dia membopong tubuh Nasya seperti Karus beras di pundaknya, dia menghiraukan pukulan Nasya yang menghujam punggungnya dengan pukulan tangan mungilnya.