
"Oh jadi ini keinginan mu? hasrat tersalurkan dengan cara memaksa ku begini? bahkan sebutan j****g saja masih terlalu bagus untuk memanggilmu" jelas Nicho, rasanya tidak puas meski sudah memaki Nasya dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Aku harap, kamu tidak menyesal setelah ini" jawab Nasya lalu membuka piyamanya dan naik ke atas tubuh Nicho
"Hahahah,,,, aku pasti menyesal Karna milikku masuk pada lubang jahannam yang dilubangi ayah tirinya lebih dulu" ejeknya.
"Kau akan menyesal dude" ucap Nasya tersenyum smirk, lalu mencium bibir Nicho dan menye*sapnya lebih dalam, dia membuat rangsangan dengan meremas si junior hingga Nicho sedikit mendesah.
"Ahhh, shittt" umpatnya Karna suara laknatnya keluar begitu saja.
"Kau menyukainya dad?" tanya Nasya sambil melanjutkan aksinya hingga kebawah sana, sampai pada antara paha Nicho Nasya diam di sana, dia hanya mengelus halus milik Nicho yang sudah berdiri tegak dan membesar hingga uratnya terlihat sangat mengencang.
"Lepaskan aku sialan!" bentak Nicho Karna kepalanya saat ini berdenyut hebat menahan hasratnya yang sudah bergejolak.
"Tidak, aku hanya ingin mencoba milikmu apa lebih nikmat dari yang lain atau tidak?" ucap Nasya lalu berdiri menghadap Nicho, dia sengaja berdiri sembari mengapit tubuh Nicho di tengah lalu turun pelan pelan sampai milik Nicho menyentuh miliknya, Nasya sedikit menggesekkan milik Nicho agar membuatnya terangsang.
"Ahhh,,, ternyata begini lebih Nikmat" ucap Nasya sambil mendongakkan kepalanya, tubuh Nicho bergelinjang bahkan dia menendang nendang kakinya mencoba menghilangkan denyut hebat di kepalanya.
"Lepaskan aku sialan!!!!" teriak Nicho di bawah sana, dengan wajah memerah dan tangan terkepal.
"Ahhhh,,, shitt,,, Nichhhh......" desah Nasya sambil mencoba memasukkan milik Nicho ke miliknya. Nicho merasa heran Karna milik Nasya mengapa sangat sempit, apalagi Nasya yang merintih ke sakitan Nicho tidak mengerti ada apa dengan keadaan ini, bukankah Nasya sudah terbiasa, tapi mengapa Nasya ke sakitan.
"Ahhhhh,,,,, mmmmm,,,,, awhhhhhhh" desis Nasya saat terus mencoba menenggelamkan milik Nicho, sampai pada akhirnya milik Nicho tertanam di dalam meski baru setengah nya.
"Ahhhh, sakit," ucap Nasya menahan rasa nyerinya sambil menghapus air matanya yang keluar.
"Apa kau masih perawan?" tanya Nicho Ling Lung, ada rasa bahagia saat mengetahui jika Nasya masih perawan, namun dia merasa bersalah Karna tidak percaya pada ucapan Nasya.
"Aku tidak bisa melanjutkannya" ucap Nasya lalu mencoba bangkit dari sana
"Apa sekarang kau tau semuanya Nichhh?" tanya Nasya dengan air mata yang lolos begitu saja.
"Maafkan aku sya, aku salah"
"Jangan meminta maaf, bahkan azab saja tidak cukup untukmu" ucap Nasya dengan mata penuh amarah
"Kau tau? aku melakukan semuanya hanya Karna mu Nich!" teriak Nasya penuh emosi. "Apa sekarang kau akan percaya pada ucapanku?"
"Kau tau, semua yang Maxim katakan adalah tentang aku dan kamu bukan tentang aku dan Maxim" teriaknya sambil menendang milik Nicho yang sudah tertidur kembali.
"Aku melakukan hal gila hanya Karna aku takut kamu jatuh pada pelukan Stev, kamu tau? aku bahkan tidak bisa tertidur lelap saat kau tidak ada di samping ku, pikiranku berkecamuk entah kamu sudah mulai mencintai stev ayu belum".
"Mengapa kamu tidak mempercayaiku? bukankah sudah aku bilang, aku tidak akan mencintai siapapun selain kamu baby,"
"Apakah aku harus percaya dengan ucapanmu? bahkan orang gila saja akan menertawakan ku jika aku masih tetap diam, aku sudah memberimu waktu, tapi sampai 6 bulan lamanya tidak ada kemajuan sedikitpun, harus kah aku tetap percaya?" tanya Nasya dengan air mata yang berlinang.
"Wanita mana yang akan diam saat di acuhkan? kau tau bukan jika aku sangat mencintaimu? tapi kamu dengan teganya memberi harapan dengan ucapan namun kamu menghancurkannya dengan sikap acuh mu saat bertemu ku diluar sana,"
"Aku pikir kamu tidak berani meniduri Ste, tapi setelah berpikir beberapa kali tidak ada salahnya seorang suami memberi nafkah batin pada istrinya bahkan itu kewajiban,"
"Lalu apa kabar dengan hati ini yang terluka? aku selalu mengobati nya sendiri, aku terus terusan mencoba positif thinking tidak apa botolnya keluar masuk sana sini yang penting isinya hanya tumpah di tempatku tidak di tempat lain,"
"Tapi ternyata aku masih salah menebak, aku salah terlalu positif thinking, nyatanya kamu lebih mempercayai wanita lain yang menjadi ibu dari anakmu ketimbang j****g sepertiku, itu benar Karna penggoda sepertiku tidak pantas menjadi seorang ibu" ucapnya yang mampu membuat air mata Nicho berjatuhan
"Stop baby, itu salah paham, lepaskan aku, aku akan memperbaiki semua kesalah pahaman ini" ucapnya memohon pada Nasya.
"Salah paham? haruskah aku berpikir jika ini salah paham? Stev tiba tiba hamil oleh orang lain bukan oleh suaminya, haruskah aku berpikir begitu? padahal jelas-jelas setiap malam si suami menanamkan bibit di ladang miliknya, apa itu ke salah pahaman?" tanya Nasya
"Setelah sekian lama aku bertahan dan mencoba positif thinking, akhirnya aku harus sadar, cinta tidak selamanya bertahan, cinta juga tidak selamanya di genggam aku pun tidak boleh memaksa seseorang untuk mencintai ku,"
"Sampai satu jawaban lewat di benakku, aku harus pergi aku tidak boleh merusak kebahagiaan seseorang yang aku cintai, aku hanya bisa melepaskan untuk membuktikan jika aku sangat mencintainya" ucapnya sambil mengambil tas nya dan berjalan ke pintu dengan terseok Seok,
"Jika cara mu mencintai ku adalah melepaskan mu, maka caraku mencintaimu menahan mu di sini meski harus bernafas dengan tajamnya duri" ucap Nicho dingin,
"Sorry, aku juga punya hati yang butuh tempat berteduh, aku juga harus mengobati luka yang kamu torehkan di sana, terlalu banyak luka jika aku harus tetap tinggal bersamamu" ucapnya.
"Kunci seluruh pintu" ucap Nicho yang membuat Nasya bingung, Nicho menyuruh pada siapa mengunci pintu padahal jelas-jelas disini tidak ada orang selain mereka, apa Nicho menyuruhnya?
Ceklek dreghhh
Sampai akhirnya Nasya sadar jika rumah ini memiliki fitur otomatis yang bisa menurut hanya dengan suara Nicho
"Apa kau menahan ku di sini?" tanya Nasya frustasi
"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu"
"Apa kau tidak malu dengan kelakuan mu? kau memfitnah ku dan menyiksaku tapi setelah tau kebenarannya kau masih tak tahu malu, tetap mempertahankan ku dan menyekap Ku di sini? apa Karna kau masih mencintaiku?" tanya Nasya lagi
"Yah, aku masih mencintaimu "
"Dasar psychopat, kau pikir aku mau tetap di sini bersamamu? hah?" tanya Nasya lagi "Sampai matipun aku tidak akan pernah mau melakukan hal bodoh untuk kedua kalinya?"
"Lanjutkan lah pernikahan mu dengan Stev, jangan kecewakan buah cintamu dengan Stev hanya Karna kekecewaan mu yang tak berdasar"
"Apa setelah mendengar penjelasan ku kau tetap ingin pergi dari sini?" tanya Nicho mengiba
"Penjelasan apalagi? apa kau akan membual lagi? tanpa diberi penjelasan pun aku akan tetap pergi"
"Cepat buka pintunya, Alana sudah menunggu ku di luar" ucap Nasya sambil mencoba membuka kenop pintu.
"Bukalah sendiri jika kau bisa"