My Secret Bride

My Secret Bride
Bab31



Terik matahari membangunkan seorang insan yang masih tertidur di dalam dekapan pria tampan, ia menggeliat kan tubuhnya yang pegal, dia juga mencoba mencari oksigen yang entah mengapa dia sulit sekali untuk bernafas. Saat matanya terbuka ia baru sadar jika dia berada dalam dekapan Nicho.


"Mencari kesempatan dalam kesempitan" umpat Nasya pada Nicho yang masih tertidur pulas. Dia mencoba melepaskan tangan Nicho yang mendekapnya dengan erat.


"Biarkan seperti ini dulu Stev, aku hanya butuh pelukanmu baby" ucap Nicho mengigau dalam mimpinya yang langsung membuat Nasya menghempaskan tubuh Nicho dengan satu kali dorongan hingga tubuh Nicho terpelanting ke bawah.


Brughh


"Ahhh Shittttt,," umpat Nicho kesal.


"Siapa suruh mencari kesempatan dalam kesempitan?" ucap Nasya lalu berlalu masuk ke dalam bathroom dan merendam seluruh tubuhnya di dalam Bathtub.


"Memuakkan sekali, kau pikir aku tidak tau jika kau sudah bangun lebih dulu?" gerutu Nasya sambil menggosok gosok tubuhnya dengan busa.


"Lalu apa tadi? kau Pura pura mengigau memanggilku Stev? hahahaha lucu sekali,"


"Mari kita sedikit bermain dengan alur yang kau ciptakan Nich" ucap Nasya dengan tersenyum iblis lalu melanjutkan ritual mandinya.


Sekitar 30 menit kemudian Nasya keluar hanya dengan handuk yang hanya menutupi sampai setengah paha saja, dan rambut yang di Gelung menggunakan handuk yang lebih kecil.


Nicho yang melihat Nasya hanya memakai handuk pendek merasa jika Nasya sengaja melakukan itu agar dirinya tergoda.


"Apa kau sedang menggodaku j*****g" tanya Nicho sambil memelintir kan ****** Nasya yang handuknya sudah dilempar entah kemana oleh Nicho.


"Apalagi tugas j****g selain menggoda?" tanya balik Nasya tanpa menatap lawan bicaranya, ia bahkan dengan enjoynya mengolesi seluruh tubuhnya dengan krim pemutih yang dibelikan Nicho.


"Pergilah mandi, sebentar lagi waktu istirahat, kau bisa bekerja setengah hari bukan?" ucap Nasya.


"Di sini aku bossnya, jadi terserah aku mau bekerja atau tidak" ucap Nicho sembari duduk di atas ranjang memperhatikan gerak gerik Nasya yang masih sibuk mengolesi tubuhnya dari belakang.


"Yaya, aku tau, tolong panggilkan pelayan, pakai interkom saja biar praktis" ucap Nasya meminta tolong pada Nicho.


"Untuk apa?" tanya Nicho heran.


"Aku tidak bisa mengolesi punggung ku tanganku tidak sampai ke belakang" jawabnya.


Tanpa mengatakan apapun Nicho langsung mengambil alih krim di tangan Nasya, dia mengolesi tubuh Nasya dengan hati hati seakan akan tubuh Nasya adalah sebuah barang berharga. Dasar pria plin plan, kemana harimu saat merusak tubuh Nasya.


"Apa kau terbiasa memperlihatkan tubuhmu pada orang lain?" tanya Nicho dingin.


"Ya, aku sudah biasa, aku adalah model jika kau lupa,"


"Apa selain untuk pekerjaan apa kau masih memperlihatkannya pada orang lain?"


"Tidak paling hanya Maxim kekasihku saja, selebihnya tidak ada Karna aku takut dia akan murka, oh ya, pergilah ke perusahaan kasihan Maxim bekerja sendirian" ucap Nasya yang tidak sadar jika ucapannya mengundang amarah Nicho, "Dia pasti kelelahan".


Prang prang


Nicho membanting make up Nasya yang tersusun rapi di meja rias, dia cemburu mendengar penuturan Nasya yang mengkhawatirkan Maxim.


Brak


Ia bahkan menutup pintu Bathroom dengan keras seolah protes akan ungkapan Nasya. Sedangkan Nasya ia hanya tersenyum tipis melihat aksi Nicho, kini dia mulai yakin jika di dalam lubuk hati Nicho masih tersimpan namanya di sana.


"Dasar Idiot, berani memanasi dipanasi balik malah kayak kesurupan, gue santet sekalian" gerutunya sambil mengambil satu set baju kantor untuk Nicho dan piyama tali yang menjadi penutupnya dalam beberapa Minggu kebelakang.


"Max, kau harus bertanggung jawab" teriak Alana menggila Karna sampai saat ini ia tidak mengetahui kabar Nasya yang entah kemana bak di telan bumi.


"Tenanglah Lan, kita akan mencari bersama sama" jawab Maxim mencoba menenangkan Alana dan mendekap tubuhnya agar berhenti memukuli tubuhnya


"Kau bilang, anak buah mu bisa melacak alamat IP siapapun tapi kenapa kau tidak bisa melacak milik Nicho?" tanya Alana dengan air mata yang tak berhenti mengalir, "Kau tau? aku takut Nasya akan terluka tanpa ada yang membantunya"


"Nasya pasti baik baik saja Lan,"


"Lalu, kenapa kau tak melacak alamat rumah Nicho saat ini?" tanya Alana mendongak ke atas menatap wajah tampan namun kantung matanya menghitam kelelahan.


"Seharusnya kau tau, aku dan Bastian bisa melacak apapun Karna Nicho, apakah kita bisa mengalahkan yang lebih bisa?" tanya Maxim yang juga bingung.


Sebenarnya Maxim tidak tega membohongi Alana yang setiap hari mencari keberadaan Nasya, bahkan dia mengenyampingkan rasa malunya untuk bertanya pada siapapun yang melihat Nasya, laporannya pada polisi tidak verifikasi sama sekali, mereka mengabaikan laporan Alana dengan alasan Nasya pergi keluar negri bukan menghilang.


Maxim terpaksa berbohong Karna dia tidak ingin Alana terluka saat mengetahui jika sahabatnya terluka parah, bahkan wajahnya saja sudah tidak bisa dikenali. Maxim yakin Alana pasti akan menyalahkan dirinya Sendiri Karna dia bertanggung jawab atas seluruh kehidupan Nasya yang bernaung di agensi ayahnya.


Seluruh karyawan yang melihat Nicho masuk ke dalam lobi segera membungkukkan badannya hormat, Nicho berjalan masuk ke dalam Lift dengan dada yang masih naik turun. Baru saja menginjak kan kakinya di lantai tempatnya bekerja Nicho langsung dihadiahi tamparan oleh Alana yang sedang berdiri tepat di depan pintu Lift, bahkan Alana tidak takut untuk meludahi wajah paripurna milik Nicho.


"Cuwwwhhhh,,,, Bahkan wajahmu tidak bisa menyembunyikan kebusukan mu Bastard!" umpat Alana dengan nada tinggi, Nicho yang emosinya sedang tidak stabil tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Alana dia mengangkat tangannya ke atas bersiap memberi Alana pelajaran Karna kurang ajarnya.


Bughh


Dentuman keras terdengar di seluruh penjuru lantai yang sunyi ini, suara itu bukan berasal dari Alana melainkan Maxim yang mendekap tubuh Alana hingga mengorbankan punggung tegap miliknya menjadi samsak empuk untuk Nicho.


"Minggir bajingan, aku akan memberi j****g ini pelajaran" bentak Nicho pada Maxim, namun Maxim tidak bergeming dia malah mengusap punggung Alana yang masih Shock saat mengetahui jika Nicho ternyata sangat kasar meski pada perempuan.


"Oh,,,, baiklah, aku akan menghajar mu habis habisan Max" lalu Nicho memukuli tubuh Maxim dengan pukulan kerasnya, Maxim tidak melawan sudah biasa baginya terkena amukan sang atasan, bahkan dengan tenang nya Maxim memberikan senyuman penenang agar Alana tidak menumpahkan air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.


"Hen,,,ti, ,,,kan Nichh" ucap Alana terbata bata ketakutan melihat aksi iblis Nicho, bahkan penenang Maxim tidak bisa menahan air matanya yang turun ke pipinya.


"Sayang hentikan," ucap Stev saat tiba di lantai suaminya bekerja. "Bukan Maxim yang harus kau pukuli, tapi si j****g Nasya yang ternyata tidak sekali menggoda papah" lanjutnya sengaja mengompori Nicho, sampai akhirnya Nicho menghentikan aksinya saat mendengar penuturan istri pertamanya.


"Apa maksudmu?" tanya Nicho pada Stev.


"Aku punya bukti video saat Nasya menggoda papah hanya demi sebuah Iklan" ucapnya tersenyum iblis menatap Alana dan Maxim yang masih kesakitan.


"Masuk," titah Nicho menyuruh Stev masuk ke dalam ruangan nya lalu menguncinya dengan rapat.


Sedangkan Alana dia hanya bisa menangis tersedu-sedu,


"Max, katakan pada Nicho, ini tidak seperti pemikirannya" pinta Alana pada Maxim dengan air mata yang tidak berhenti


"Percuma Lan, hanya Nasya yang bisa membuktikannya semuanya" ucapnya lalu mencoba berjalan ke arah ruangannya. "Awhhhh" desis Maxim saat kakinya terasa sakit di gerakkan.


"Apa sangat sakit Max?" tanya Alana khawatir Karna Maxim seperti ini akibat menyelamatkannya.


"Sedikit Lan, Bisa bantu aku berjalan ke ruangan?" tanya Maxim pada Alana yang langsung di balas anggukan kepala oleh Alan, Alana menggandeng tubuh tegap milik Maxim ke dalam ruangan, ia bahkan bersusah payah mendudukkan Maxim di kursi nya.