
Setelah sampai di rumah keadaan Nasya masih tetap sama, tetap linglung. Dokter bilang, keadaan jiwa Nasya terancam, sebenarnya bukan gila hanya saja Nasya tidak ingin keluar dari bayang bayang kenyataan. Diperkosa mertua, kehilangan anak, itu sudah lebih dari cukup membuat jiwanya terguncang dengan hebat.
"Sayang, Baby Napol nya kasih ke ncus dulu yah, kamu harus makan" ucap Nicho hati hati membelai rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
"No, mereka jahat Nich" ucap Nasya ketakutan sembari menyembunyikan tubuh Baby Napol di dalam dekapannya.
"Mereka baik kok sayang, kamu perlu makan" bujuk Nicho mencoba yang terbaik untuk istrinya.
"MEREKA JAHAT!!!!!!" tiba tiba saja Nasya berteriak hingga baby Napol menangis karena suaranya
oek oek oekk
"Syuttt,syutt,,, baby jangan nangis" ucap Nasya mencoba menenangkan bayinya sedangkan Nicho ia hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya ada rasa tidak terima saat melihat keadaan istrinya.
"Aku ambil makan dulu yah?" tanya Nicho dengan bibir tersenyum.
"Jangan tinggalin aku" pinta Nasya dengan mata yang berkaca kaca, dengan penuh kesabaran Nicho menganggukkan kepalanya dan menyuruh bi Inah membawakan makan siang untuk istrinya.
"Pintunya kunci" titah Nasya setelah Bi Inah keluar kamar lagi, dengan segera Nicho mengunci pintunya.
"Makan yah sayang" ucap Nicho menyodorkan sesendok nasi dan lauk.
Nasya mengamati seluruh sudut di kamarnya setelah di rasa aman, baru Nasya meletakkan baby Napol ke ranjang dekatnya duduk. Nicho tersenyum ternyata Nasya hanya terlalu waspada karena kejadian kemarin kemarin.
"Apa kamu tidak makan Nich?" tanya Nasya dengan tatapan sayunya.
"Aku akan makan bersamamu" jawabnya,
"Why?" Nicho tersentak saat Nasya tiba tiba naik ke pangkuannya dengan posisi menghadap ke arahnya.
"Suapi aku" pintanya, Nicho mencoba menahan gejolak ditubuhnya saat Nasya dengan gilanya malah bergerak gerak di pahanya, tidak sadarkah Nasya jika ada sesuatu yang terbangun di area paha akibat ulahnya?.
"Sorry" ucap Nasya penuh rasa bersalah lalu menenggelamkan wajahnya di dada Nicho.
"Nich jangan pergi lagi yah" pinta Nasya penuh harap di dalam pelukan Nicho,
"Maafkan aku baby" ucap Nicho penuh rasa bersalah, ini semua karena kelalaiannya jika saja Nicho tidak lalai mungkin baby mereka akan tetap ada.
"Apa kau melakukan kesalahan?" tanya Nasya menatap wajah suaminya yang sudah mulai di penuhi jambang halus.
"Aku melakukan banyak kesalahan padamu baby" ucap Nicho menggenggam tangan Nasya lalu dikecupnya berkali-kali.
"Hahah, itu pasti karena pria adalah buaya" Nicho terkekeh mendengar penuturan istrinya, memang benar Nicho adalah buaya. Lebih gila dibanding buaya, ia bahkan dengan gilanya menikahi adik kakak sekaligus.
"Ayo makan lagi" ucap Nicho.
Setelah acara makan selesai Nicho meminta izin pada Nasya untuk keluar sebentar, namun Nasya langsung menolaknya dengan keras
"Tapi baby, ini masalah pekerjaan. Aku harus menanganinya langsung" ucap Nicho padahal yang jelas dia ingin melihat bagaimana tersiksanya ayahnya dan mantan istrinya di dalam neraka ciptaan Bastian
"Tidak bisakah di kerjakan di rumah?" tanya Nasya lalu bangkit dari posisi duduknya.
"Tapi ini penting baby" pinta Nicho sekali lagi, "Aku janji akan pulang cepat".
"Pergilah" ucap Nasya lalu merebahkan diri dan memeluk baby Napol dengan posisi membelakangi Nicho, pundaknya bergetar kecewa kepada sang suami yang lebih mementingkan pekerjaan nya dibanding memprioritaskan nya.
Nicho hanya menghela nafas, menelepon Bastian agar segera menyelesaikan pekerjaannya. Setelah nya ia ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya mendekapnya dengan erat dan menciumi rambutnya sembari mengucapkan kata maaf.
"Maafkan aku baby, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu lagi, meskipun satu langkah" ucapnya mengeratkan pelukannya dan menaikkan selimut agar istri dan anaknya tidak kedinginan.