My Secret Bride

My Secret Bride
Bab11



"Apa kau akan terus-menerus mengikutiku Bram?" tanya Nasya sebal Karna sedari tadi Bram terus mengikutinya bahkan Bram ikut ke dalam ruangan pemotretan dan mengaku sebagai asistennya.


"Benar Nona" jawabnya jujur


"Kau gila! pergi ke rumah sakit, segera operasi matamu jika kau ingin menjagaku" ucapnya penuh penekanan. "Aku malu jika harus diikuti pria dengan mata yang bermasalah" lanjutnya terus terang tanpa memikirkan perasaan Bram yang entah tersinggung atau tidak.


"Baik Nona, setelah selesai menjaga anda saya akan pergi ke rumah sakit"


"Sekarang aku akan pulang jadi kau bisa menjadwalkan operasi matamu jika sudah ada donor" ucap Nasya lagi.


"Tidak bisa Nona, saya harus menjaga anda selama 24 jam" jawabnya tanpa menatap Nasya yang syok akan jawabannya.


"Whatt?" Nasya memekik frustasi. "Apa kau gila? lalu kapan waktu istirahat mu, lagipula aku tidak memiliki pengawal jadi tidak usah menjagaku"


Nasya pergi dari sana dengan emosi yang memuncak Karna Bram tetap kekeuh memilih menjaganya dibanding mengobati matanya.


"Telpon Bos mu" ucap Nasya tanpa berhenti berjalan.


"Baik Nona" Bram segera mengambil hp di sakunya untuk menelepon majikannya.


"Tidak diangkat Nona"


"Sialll" umpatnya sambil memberhentikan jalannya. Lalu mengambil handphone miliknya untuk menelepon Nicho.


Nicho yang baru saja sampai ke mansionnya langsung menerima panggilan Nasya dengan girang.


"Hallo baby?" ucapnya sambil kembali masuk ke dalam mobil agar tidak ada yang mendengarnya.


"Terimakasih" ucap Nasya di seberang sana.


"untuk?" tanya Nicho bingung Karna wanita yang dicintainya malah mengucapkan terimakasih.


"Kau mengirim Bram untuk menemaniku tidur bukan?" tanya Nasya enteng sambil membekap mulut Bram yang akan mengeluarkan protesnya.


"Berhenti bicara omong Kosong" ucap Nicho dengan tertawa Karna dia tahu betul kekasihnya hanya ingin mendengar suaranya saja, Karna hal itu sudah biasa Nasya lakukan jika dia merindukan Nicho. "Aku tau kau merindukanku bukan? seperti hari hari biasanya kamu terlalu gengsi untuk mengatakan jika kamu merindukanku" ungkapnya bangga.


Ahhhhh


"Bram pijit yang benar bukan seperti itu" ucap Nasya sengaja mendesah sedangkan Bram hanya melotot mendengar ucapan Nonanya dia akan protes tetapi Nasya sudah lebih dulu mencium Bram tanpa tahu malu.Nasya sengaja mematikan telpon saat suara kecapan terdengar ke seberang sana.


Nicho yang mendengar suara itu, segera mengemudikan mobilnya ke apartemen Nasya dengan kecepatan tinggi. Jika Bram benar benar menerima ciuman dari Nasya maka ia tidak segan untuk menghabisi nyawa Bram saat ini juga, dia tidak suka berbagi jika masalah Nasya.


Sesampainya di sana ia berdiri di depan pintu apartemen Nasya dengan gaya arogannya, tangannya sudah gatal ingin menghabisi nyawa Bram saat ini juga bahkan tangannya terkepal dengan sangat kuat untuk menetralkan emosinya.


Tingg


Pintu Lift terbuka menampakkan sosok yang tadi pagi ditemuinya tengah berjalan ke arahnya di iringi dengan teman wanitanya dan Bram bodyguardnya. Nicho menghampiri Bram dengan amarah yang membara tetapi Nasya mencegat Nicho dengan memberikan video di handphone milik Bram.


Di video itu menampilkan jika Nasya mencium tangannya yang menempel di pipi Bram. Setelah tau apa yang terjadi emosi Nicho mulai turun tetapi saat dia melihat ke samping dilihatnya kekasihnya sudah tidak ada di sana.


"Kemana mereka Bram?" tanya Nicho bingung


"Nona sudah masuk Tuan"


***shitttt


tok tok tok***


"Baby buka pintunya" ucapnya sambil menggedor-gedor pintu dengan keras. Tidak ada sahutan hanya ada suara notifikasi pada hp Bram yang dipegangnya.


Pergilah ke rumah sakit, aku tidak Sudi diikuti bodyguard bermata satu.


"Jika kau ingin Bram ke rumah sakit maka buka pintunya" teriak Nicho dari luar.


"Daddy loh berisik bener" gerutu Alana kesal Karna fokusnya mengatur jadwal Nasya terganggu. "Buka sana"


Dengan malas Nasya membuka pintunya dengan terpaksa. "Ada apa?" tanya Nasya sambil berjalan kembali ke sofa tadi.


"Berhenti bekerja, aku tidak mau kamu kelelahan" ucap Nicho sambil mengekori Nasya.


"Takut aku kelelahan atau takut istrimu terkalahkan?" tanya Nasya sinis, jujur sebenarnya dia kesal pada Nicho yang lebih memilih harta dibanding dirinya. "Aku hanya ingin kaya raya agar tidak ditinggalkan kembali hanya Karna tak punya harta".


"Ayolah Baby, ini semua untukmu" ucap Nicho mencoba lembut pada Nasya.


"Untukku? apa untuk kelanggengan perusahaanmu?"


"Jangan mencoba berspekulasi sendiri" ucap Nicho mengingatkan.


"Pulanglah aku ingin istirahat" ucapnya pada Nicho namun lain dengan hatinya, dia berteriak agar Nicho tidak pulang.


"Aku akan pulang, tapi aku merindukan masakanmu" ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya mencoba menggoda Nasya. Ingin rasanya Nasya tertawa saat mengingat masakannya untuk Nicho tapi sebisa mungkin ia menahan tawanya.


"Kau tak mau memasak untukku?" tanyanya sambil mengangkat tubuh Nasya ke atas pangkuannya.


"Turunkan aku sialan" bentak Nasya dengan wajah yang memerah.


"Bukankah kau selalu bilang jika posisi ini nyaman?" tanya Nicho sengaja menggoda Nasya, bahkan dia tidak segan memepetkan paha Nasya agar menempel pada sesuatu yang sedang tidur di dalam sana.


"I heart you Bastard!" ucap Nasya lagi merasa dirinya ****** tapi tubuhnya malah dengan berengseknya menggesek di bawah sana hingga yang tadinya tidur kini malah terbangun.


"Kau menyukainya?" tanya Nicho malah sengaja memundur majukan tubuh Nasya.


"Sialann!" teriak Alana dengan wajah memerah menahan malu, padahal mereka yang tidak tahu malu tapi kenapa Alana yang malu melihatnya. "Pergi kau dari sini" ucapnya sambil memukul mukul tubuh Nicho dan mendorong Nasya ke samping agar turun dari pangkuan Nicho.


"Diam kau anak kecil" ucap Nicho sambil berdiri dan menahan tangan Alana.


"Akhhhhhh" Alana berteriak bahkan menutup mulut dan matanya tidak percaya dengan hal yang ada di depannya sebuah tonjolan besar namun sedikit basah di area depannya, Karna saat ini Nicho mengenakan celana jeans berwarna Coklat susu.


Nicho yang melihat Alana berteriak segera menutup miliknya dengan telapak tangannya tetapi dia bingun kenapa basah? padahal dia tidak mengeluarkan apapun.


"Baby?" tanya Nicho dengan wajah yang ingin tertawa Karna sang kekasih menikmati hal yang barusan dilakukannya. Nasya yang ketauan oleh Nicho segera berlari ke kamar dan mengunci pintu dari dalam, melihat hal itu Nicho malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sang kekasih.


*


*


Seminggu, dua Minggu, bahkan dari bulan ke bulan pernikahan mereka tidak ada kemajuan sama sekali, Nicho memang selalu mengabulkan apapun keinginan Stev tapi tidak dengan Make love mereka hanya melakukan make out saja.


"Apa kau tidak menginginkan baby diantara kita sayang?" tanya Stev sambil bermanjaan di lengan Nicho.


"Aku belum siap sayang" jawabnya sambil membelai pipi Stev dengan manja


"Apanya yang belum siap? kita sudah memiliki segalanya" ujar Stev dengan penuh emosi.


"Aku menginginkan lahan yang ada di kota C, tapi entah siapa pemiliknya sampai sekarang aku belum tahu" ucap Nicho dengan ekspresi bingung.


"Mengapa kau sangat menginginkan lahan itu?" tanya Stev penuh selidik.


"Aku ingin membuat Club, sepertinya cukup menantang jika aku mencoba terjun ke bisnis abu abu" ucap Nicho bersemangat sambil menatap wajah Stev. "Aku janji setelah aku mendapatkan lahan itu, aku akan menanamkan benih ku di rahim ini" ucapnya sambil mengusap perut Stev.


Stev merasa Nicho sudah benar benar mencintainya, tetapi dia tidak begitu yakin Karna tidak ada anak diantara mereka, dan salah satu cara agar mengetahui jika Nicho benar benar mencintainya hanya dengan cara membujuk sang ayah agar membeli lahan yang diinginkan Nicho dari Nasya, dan itu berarti surat wasiat Tuan Alvaro akan segera berada di tangan Nasya.