
Nicho pulang lebih awal dari biasanya, ia sudah tidak tahan ingin menyiksa Nasya Karna pengkhianatan nya yang ternyata sudah lama terjalin, Nicho pikir Nasya hanya Ons saja tanpa menjalin hubungan yang lebih dari Ons ( One Night Stand ).
"J****g!! keluarlah sialann!!" teriak Nicho di bawah sana, melempar membuka dasinya dan menggulung lengan bajunya.
"Apa sih Nich teriak teriak?" tanya Nasya dengan ekspresi kesal.
"Tidak usah berlagak suci sialann!!!!" bentak Nicho tepat dihadapan Nasya.
"Sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan si tua Bangka? oh bukan, sudah berapa orang yang telah menjajah tubuh jelek mu ini?" hina Nicho.
"Apa maksudmu sialan?!" tanya Nasya tidak terima akan ucapan Nicho yang sudah kelewat batas.
"Aku pikir hanya di hari dimana kau aku pergoki saja, ternyata lebih dari itu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa lubang buaya mu!" ucap Nicho dengan suara meremehkan dan menunjukkan nunjuk ke arah bawah milik Nasya dengan pupil matanya.
Plak
Nasya menampar Nicho dengan keras, sambil berurai air mata Nasya berkata dengan suara yang tinggi.
"Aku masih suci bgst!!!" teriak Nasya dengan air mata yang terus menetes ke bawah.
"Bohong, bahkan aku mempunyai buktinya j****g" jawab Nicho sambil memperlihatkan adegan tak senonoh Nasya dan Orlando di ranjang kantornya.
"Apa yang-------" ucapan Nasya mengambang Karna Nicho memotongnya lebih dahulu.
"Kau lihat tidak sesuai dengan apa yan terjadi?" tanya Nicho dengan mengangkat sebelah alisnya "Itukah yang ingin kau katakan?" tanya Nicho lagi yang di jawab anggukan instan oleh Nasya.
"Hahahahahaha" Nicho tertawa sumbang dengan hati yang teriris, sudah dikhianati masih juga dibohongi apakah dia sebodoh ini hingga Nasya berani membohongi nya meski dia sudah memiliki bukti.
"Sadarlah Botch!!! semua pelaku akan mengatakan itu, kau terlalu bodoh untuk membodohi bukti kuatku" ucap Nicho sambil menggoyang goyangkan ponselnya
"Apa kau tau Botch? bahkan si tua bilang sendiri, jika dia memang menikmati permainan mu yang masih sempit" lanjut Nicho dengan mata yang menatap instens ke wajah Nasya yang masih menangis.
Nasya hanya bisa menangis, ia terima akan tuduhan Nicho Karna memang ada bukti, sedangkan dia tidak bisa mengelak akan bukti yang telah Nicho pegang saat ini, haruskah dia buktikan pada Nicho saat ini jika dia memang masih perawan.
"Aku bisa membuktikannya Nich" ucap Nasya mendongak kan wajahnya ke atas.
"Dengan cara apa? bersetubuh denganku?" tanya Nicho mengejek "Bahkan setelah aku melihat bukti ini aku tidak Sudi menyentuhmu sedikitpun" ucap Nicho sambil mendorong Nasya dengan keras hingga terhuyung jatuh ke bawah, lalu berlalu masuk ke dalam kamar.
Di kamar mandi Nicho hanya tertawa dengan linangan air mata, dia tidak menyangka jika hidupnya akan se tragis ini. Di bodohi dan dikhianati oleh seseorang yang sangat istimewa di hatinya.
"Mah? apa sesakit ini rasanya di khianati?"tanya Nicho pada Foto yang ada di ponselnya. "Kau tau mah? aku sedang berusaha memaafkannya, tapi ternyata aku tidak bisa memaafkan seluruh kesalahannya, aku tidak terima milikku di jajah kan pada orang lain mah"
Nicho menghidupkan shower lalu menangis sejadi jadinya, dia bahkan memukul cermin di hadapannya hingga buku buku tangannya berdarah. Jika biasanya ia akan menghajar Nasya habis habisan kali ini dia tidak akan melukai fisik Nasya, ia bersumpah akan membuat Nasya memilih di sakiti fisiknya hingga mati dibanding dengan batinnya yang akan Nicho iris hingga tidak berbentuk sedikitpun.
Setelah menyelesaikan mandinya, Nicho mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, ia pergi mengambil kunci mobil dan berjalan melewati Nasya yang amsih menangis tanpa merubah posisinya.
"Nich, kau akan kemana malam malam begini?" tanya Nasya dengan suara seraknya saat Nicho melewati nya.
Nicho tidak menjawab, berhenti pun tidak, dia tak menghiraukannya pertanyaan Nasya seolah olah dia tidak mendengar apapun. Nicho menghidupkan mesin mobilnya lalu keluar membelah jalanan yang padat, maklum malam ini malam Sabtu besok adalah hari libur, jadi sudah biasa orang orang akan berkencan dengan para kekasih nya.
Saat melihat pasar Malam Nicho memandang nya getir saat mengingat kembali bagaimana antusias nya Nasya dulu saat tau jika akan ada pasar malam, dia bahkan akan menangis sepanjang hari jika keinginannya tidak turuti. Tak ingin terus terusan memikirkan wanita yang telah menghancurkan hidupnya Nicho kembali menjalankan mobilnya menuju mansion orang tuanya. Dia yakin jika Stev sudah menunggunya dengan lingerie yang tentunya berbeda dari kemarin kemarin.
Sampai di mansion, Jessica menghalangi jalan Nicho yang akan masuk ke dalam dia sengaja hanya menggunakan crop top dan mini jeans.
"Menyingkirlah j****g" bentak Nicho pada ibu sambungnya.
"Bisakah kau temani aku malam ini?" tanya Jessica sambil bergelayut manja di lengan Nicho, " aku merindukan milikmu baby"
"Bahkan aku tidak pernah menyuruhmu untuk meng* ulumnya," ucap Nicho saat tangan Jessica dengan nakalnya masuk ke dalam celananya.
Yah, dulu saat Nicho belum jatuh pada pelukan Nasya ia dan kedua sahabatnya adalah penikmat dunia malam, tepat malam itu Nicho sedang menikmati servisan dari salah satu j****g namun tiba tiba lampu padam, Nicho tidak ingin menghentikan aksinya dan menyuruh si pel*acur untuk melanjutkan aksinya, bahkan saking tidak sabarannya dia menyetubuhi j****g itu Karna dia adalah langganannya. Namun naas saat lampu hidup dia baru tau jika orang yang berada di bawah Kungkungan nya adalah Jessica ibu tirinya, ternyata lampu padam adalah rencana Jessica yang tergila-gila akan tubuh putra sambungnya.
Setelah berhasil keluar dari godaan Jessica Nicho segera naik ke atas dan langsung menyerbu Stev yang sedang menunggunya di atas ranjang.
"Ahhhh,,,, Honey, kau sangat kuat" desah Stev di tengah tengah permainannya.
Meskipun yang di gagahinya adalah Stev, namun dari dulu sampai sekarang otaknya tidak lepas dari tubuh padat milik Nasya, hingga membuat gairah Nicho terbakar seakan terbakar oleh Stev pada nyatanya ia terbakar gairahnya oleh fantasinya sendiri.
Setelah menyelesaikan ritualnya Nicho membaringkan tubuhnya di samping Stev yang masih menatapnya lapar meski sudah beberapa kali pelepasan, Nicho mencoba memejamkan matanya, ia ingin belajar tidur di ranjang yang sama dengan Stev tanpa memikirkan Nasya.
Namun sampai pukul 4 dini hari Nicho tetap tidak bisa terlelap, ia melihat kesamping dimana Stev sedang berbaring di sampingnya sambil memeluk tubuh telentang nya. Nicho Frustasi Karna tidak bisa memejamkan matanya meski sebentar sampai akhirnya ia memilih bangun dan pergi kerumahnya.
Saat sampai di rumah, ada rasa iba yang membangunkan hatinya agar memindahkan Nasya dari posisinya yang tidak berubah sejak Maghrib tadi. Nicho membopong tubuh Nasya yang semakin hari semakin kurus, dan merebahkannya di ranjang, lalu setelahnya Nicho tertidur di sampingnya sambil mendekap erat tubuh Nasya seolah olah sedang menumpahkan seluruh kerinduannya.