My Secret Bride

My Secret Bride
Bab45



Rasanya tubuh Nicho tidak bertenaga, ia gundah memikirkan malam nanti harus tidur dengan Stev bukan dengan Nasya, entah 4 malam akan terasa berapa malam jika harus dengan Stev.


"Yes!" ucap Nicho lantang dengan ekspresi bahagia, saat melihat sekeliling dia baru sadar jika sekarang dia menjadi fokus utama semua orang yang ada di ruang rapat.


"Tuan, apa anda baik baik saja?" tanya Maxim terpaksa menghentikan presentasi nya,


"Kenapa?" tanya Nicho datar menyembunyikan rasa malu yang menyerangnya, dia terlalu bahagia saat tahu jika hari ini adalah hari Rabu, secara tidak langsung dia tidak perlu bermalam 4 malam di istri pertamanya, dia hanya perlu bersabar 2 malam saja untuk menunggu malam Sabtu datang.


"Saya sedang mempresentasikan keuntungan kita bulan ini, mengapa anda seperti bahagia saat keuntungan kita lebih kecil dari bulan kemarin?" tanya Maxim kesal.


"Bahagia? kamu gila? mengapa bisa menurun?" tanya Nicho saat melihat diagram saham dihadapannya


"Ini semua mungkin Karna kita beluk memiliki strategi baru dalam pemasaran, apa saya bisa melanjutkan presentasi saya agar semua orang tahu apa yang harus kita lakukan?" tanya Maxim lagi


"Yah harus lanjut mengapa harus berhenti?" jawab Nicho santai, sedang kan Maxim dia hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar.


"Mari kita lanjut," ucap Maxim menghilangkan rasa canggung nya.


Setelah menyelesaikan rapat dengan seluruh kepala divisi, Nicho menyuruh Maxim untuk mengantarkan makan siang ke ruangannya.


Cklek


"Sayang,,," teriak Stev menghambur ke dalam pelukan Nicho saat Nicho baru saja membuka pintu ruangannya.


"Sedang apa di sini?" tanya Nicho datar sambil melepaskan pelukan Stev


"Aku merindukanmu," ucapnya tanpa ingin melepaskan pelukannya pada Nicho


"Nanti malam aku akan pulang ke rumah, jadi sekarang pulanglah, bukankah kau sedang hamil?" titah Nicho.


"Jika kamu tau aku sedang hamil, kenapa kamu tidak mengantarku ke dokter kandungan?" tanya Stev manja


"Untuk apa? apakah seorang pria harus ikut ke dokter kandungan?" tanya Nicho lagi.


"Kamu suamiku Nich, jadi sudah seharusnya seorang suami mengantar istrinya check up ke dokter kandungan" keluhnya.


"Hm, baiklah nanti aku akan mengantarmu" ucap Nicho lalu duduk di kursi kebesarannya. "Duduklah di sofa jika kamu tidak ingin pulang lebih dulu"


Stev langsung mengembangkan senyumnya saat Nicho tidak terlalu dingin terhadapnya, hatinya berbunga-bunga ia merasa sangat di hargai keberadaan nya, benar bukan seberapa bencinya pun seorang pria pada pasangannya dia akan berubah saat wanitanya mengandung buah cintanya, setidaknya itulah yang Stev rasakan saat ini.


Sedangkan Nicho hanya menghela nafasnya melihat senyuman indah yang tercetak di bibir Stev, Nicho tidak bodoh dia tahu apa yang Stev pikirkan mungkin stev berpikir jika dia merubah sikap kepadanya Karna stev sudah mengandung benihnya.


Tapi kenyataannya bukan, dia sedikit melembutkan sikapnya pada Stev hanya Karna ucapan Nasya yang menyuruhnya untuk menghargai Stev dan memperlakukan nya sama, jika masih tidak bisa menghargai kehadiran Stev setidaknya dia harus bisa menghargai kehadiran putranya yang sedang bersemayam di rahim istri pertamanya.


"Apa kau sudah makan Stev?" tanya Nicho pada Stev tanpa mengalihkan pandangannya dari gadget di tangannya.


"Belum" jawab Stev berjalan ke arah Nicho lalu duduk di bangku yang ada di hadapan Nicho.


"Kau ingin makan apa? biar Office boy membawanya kemari" tawar Stev.


"Aku ingin pancake entah kenapa semenjak hamil aku sangat menyukai pancake dan jajanan kaki lima padahal sebelumnya aku paling anti pada pancake apalagi jajanan di pinggir jalan" ucap Stev bercerita pada suaminya.


Deghh


Entah mengapa hati Nicho berdebar kencang, ada apa dengan calon anaknya? bukankah pancake makanan favorit Nasya, dan Nasya juga sangat menyukai jajanan kaki lima meskipun Nicho sering memarahi nya Karna belum tentu sehat, lalu apa ini? mengapa Stev tiba tiba menyukai makanan yang jadi favorit Nasya bukankah anaknya tidak ada kaitan darah dengan istri keduanya.


"Hey Nich" ucap Stev melambai lambaikan tangannya di depan mata Nicho Karna sedari tadi Nicho hanya melamun tanpa menyahuti ucapannya.


"Hmm?" ucap Nicho mengangkat kedua alisnya.


"Mengapa kamu melamun?" tanya Stev


"Entahlah, itu pun tidak selamanya aku mau, tapi tetap saja saat melihat jajanan yang berjejer di sana, aku sangat sangat tergiur" ungkapnya.


"Mungkin ini bawaan baby, tapi jika dipikir-pikir mengapa hasil benih mu sangat norak? aku tidak pernah menginginkan makanan mahal bahkan aku sangat jarang makan di restoran akhir akhir ini".


"Baguslah" jawab Nicho acuh


"Mengapa bagus? apa kamu takut uang mu habis Karna setiap aku makan harus di restoran?" tanya Stev beruntun dengan emosi menggebu.


"Hm, agar sedikit mengirit kamu tahu bukan biaya melahirkan sangatlah mahal, jadi aku harus mempersiapkan banyak uang untuk nanti persalinan anakku"


"Apa kamu gila?!" emosi Stev menggebu akan sikap Nicho yang menurutnya pelit padahal dirinya sedang mengandung benihnya.


..."Mungkin,,," jawab Nicho enteng, dia tidak peduli jika saat ini wajah Stev sudah merah padam dan tangan nya pun sudah mengepal dengan kuat...


Tok tok tok


"Masuk" teriak Nicho dari dalam, tidak lama seorang office boy membawa satu nampan makanan yang di pesan Nicho tadi.


"Ini pesanan anda Tuan Muda" ucap Office boy meletakkan makanan nya di atas meja tamu.


"hm, tolong belikan jajanan kaki lima, dan bawakan pancake yang ada di restoran sebrang, ini uangnya" titahnya sambil menyodorkan satu lembar uang berwarna merah.


"Kamu gila hah?!" teriak Stev frustasi merebut uang yang akan diberikan pada OB tadi. "Hanya satu lembar? cukup untuk apa hah?!"


"Itu cukup, harga pancake di sebrang delapan puluh lima ribu, sisanya lima belas ribu beli jajanan yang ada di pinggir jalan, cukup bukan?" tanya Nicho heran.


Srekk


Stev merobek uang pemberian Nicho hingga menjadi potongan dadu kecil, dia benci seperti ini seumur hidupnya dia tidak pernah membeli 2 jenis makanan dengan satu lembar uang, harga dirinya turun saat diberi uang pas Pasan, sejak kecil dia tidak pernah memegang uang 100 ribu rupiah ini sangat memalukan baginya.


"Harga diriku turun saat kau memberiku uang 100 ribu, mau di taruh dimana mukaku hah?!" bentaknya.


"Kamu tau? seratus ribu bagi orang lain sangat berarti, lalu kamu apa? sedikitpun kamu tidak bersyukur," ucap Nicho datar.


"Kamu bekerja dalam satu jam bisa menghasilkan puluhan juta, lalu apa salahnya memberiku uang sedikitnya sepuluh juta," teriak Stev sebal.


"Sepuluh juta bukanlah sedikit tanyakan pada orang di samping mu untuk menghasilkan uang sepuluh juta dia harus bekerja setidaknya 2 bulan lebih, tanyakanlah jika kamu tidak percaya" titahnya santai.


"Kamu keterlaluan Nicho! sudah jelas status sosial ku tinggi tidak seperti OB ini yang rendahan, bahkan bertemu dengannya saja mengganggu Indra penglihatan ku" hinanya melirik jijik pada OB di sampingnya yang sudah tua.


Brak


Bukan Nicho yang menggebrak melainkan orang yang baru saja datang menendang pintu dengan keras, dia tidak suka saat seorang pegawai di rendahkan seperti itu.


"Apakah ini cara anda memperlakukan bawahan suami anda Nyonya Vernandes?" tanya Nasya menekankan nama Nyonya Vernandes.


"Ada apa kau kemari j*****g!" teriak Stev menghampiri Nasya dengan dada yang bergemuruh


"Aku mampir ke ruangan Maxim, tapi Maxim tidak ada jadi aku berniat menanyakan nya pada Nicho,"


"Alasan! kau pasti berniat menggoda suamiku j****g! jikapun iya kau ingin menemui Maxim, untuk apa? hah?" tanya Stev.


"Dia kekasih ku" ucap Nasya yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Nicho, "Aku kemari ingin membahas tentang pembayaran papahmu, yang tak kunjung lunas,"


"Dasar j****g, murahan!" hina Stev menjambak rambut Nasya.


"Berhentilah, lebih baik murahan dari pada gratisan" jawab Nasya sambil menghembuskan tubuh Stev, hingga sedikit terhuyung ke belakang.


"Ayok pak kita keluar, tidak baik berlama lama dengan putri dari kayangan" ajaknya pada office boy di sana.