
"Bagaimana kau akan memenangkan perang jika perut mu kosong kelaparan? hm?" tanya Nasya pada suaminya yang hanya meminum susu saja,
"Aku harus cepat cepat pergi, aku bisa makan diluar nanti baby" jawabnya dengan senyum memesona, lalu ia mencoba menggapai kening Nasya untuk memberinya kecupan selamat tinggal, namun Nasya malah menghindar dan melahap sandwich yang sudah ada di meja
"Apa kau tidak ingin mendapat kecupan dariku?" tanya Nicho sambil memeluk tubuh Nasya dari belakang.
"Makanlah, aaaaa,,,," ucap Nasya sambil menyodorkan sandwich bekas gigitan nya ke mulut Nicho. "Apa kamu tidak mau bekas ku? bekas istri itu berkah loh mas"
"Mas, mas, mas, kamu pikir aku tukang kredit?" ucap Nicho kesal Karna dirinya di panggil mas oleh Nasya,
"Lalu apa Abang?" tanya Nasya lagi sengaja menggoda Nicho.
"Apalagi ini? Abang? aku bukan tukang bakso" ujarnya sambil memakan sandwich di tangan Nasya tanpa duduk lebih dulu.
"Daddy?" tanya Nasya yang langsung membuat wajah Nicho cerah seperti bulan purnama di malam 15.
"Begitu lebih baik" ucapnya lalu mengecup singkat bibir Nasya.
Cup
"Aku pergi dulu" ucapnya lalu berbalik tapi lengannya ditahan oleh Nasya.
"Salim dulu dong, biar jadi istri Solehah gak Soleh hot terus" ucap Nasya sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Lebih enak yang Hot lah beb" jawab Nicho sambil memberikan tangannya pada Nasya untuk di cium.
"Dasar Otak se*langka Ngan"teriak Nasya sebal saat tangan Nicho dengan lancangnya meremas buah simalakama milik Nasya.
"Kalo pagi gini emang harus pegangan sama yang empuk empuk biar semangat" jawabnya tanpa malu, lalu pergi meninggalkan Nasya yang sedang menahan amarahnya.
Di perjalanan Nicho tidak langsung pergi ke kantor, ia memilih pergi mengunjungi Bastian dahulu di rumah sakit yang tidak jauh dari kantor nya bekerja.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Nicho tanpa merasa bersalah, pada Bastian.
"Cihh,,,, dasar manusia tidak tahu diri" umpat Bastian sebal saat melihat senyuman melebar dari bibir sensual milik Nicho
"Hahahaha,,,,, apa kau baru sadar jika aku memang tidak tahu diri?" tanya Nicho sambil mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di samping ranjang Bastian.
"Bahkan setelah apa yang kau lakukan kemarin kau masih bisa tersenyum dihadapan ku? teman macam apa kamu?" tanya Bastian mengejek
"Ayolah Bas, ini juga salahmu yang berani memeluk wanitaku" jawabnya
"Wanitamu? bahkan dia sangat membencimu saat ini" ucap Bastian tanpa menatap wajah Nicho yang membuatnya semakin merasa dongkol.
"Dia tidak akan membenciku bas," jawabnya tenang
"Tidak usah terlalu mengkhayal, wanita mana yang tidak akan membenci orang yang sudah memfitnahnya dan menyiksanya baik fisik maupun batinnya" ucap Bastian skakmat yang langsung membuat hati Nicho ketakutan jika Nasya hanya pura pura memaafkannya saja, tapi buru buru dia menghilangkan ketakutannya.
"Wanita mana yang akan meninggalkan ku di saat sudah merasakan keperkasaan ku?" tanya Nicho pada Bastian sambil menaik turunkan alisnya, yang langsung membuat mata Bastian melotot tidak percaya.
"A...Aaa,,,pa kau sudah meniduri adikku?" tanya Bastian tak percaya.
"Bukan aku, tapi adikmu yang memperkosa ku" ucap Nicho sebal Karna Nasya selalu mendahului apa yang seharusnya menjadi sesuatu yang harus di lakukan pria lebih dahulu.
Hahahahahaha
Bastian tertawa terbahak bahak bahkan Maxim yang baru datang saja langsung menertawakan Nicho saat mendengar Nasya memperkosanya.
"Kau tau max? bahkan Nasya orang pertama yang berani men*cumbu bibir mahal Nicho lebih dulu" ucap Bastian di tengah tengah aksinya yang sedang memakan bubur.
"Tetap saja, first kiss nya adalah aku" ucap Maxim membanggakan diri yang langsung membuat Nicho tidak terima
"Apakah hanya sekedar menempel saja bisa dibilang ciuman? hah?" tanya Nicho tidak terima sambil memukul mukul tubuh Maxim dengan majalah di tangannya
"Lalu menurut mu ciuman itu apa hah?" tanya Maxim mencoba menghalau pukulan Nicho. "Apa ciuman yang erotis? yang membangkitkan gairah? hah?"
"Tentu saja, apa kau pikir sekedar menempel saja bisa dibilang ciuman? hah?" tanya Nicho tetap kekeh jika yang Nasya lakukan pada Maxim bukanlah ciuman
"Ya, pasti, ciuman adalah menempelnya bibir satu pada bibir satunya lagi" ucap Maxim dengan ekspresi yang mendalami sengaja menggoda Nicho
Nicho yang tidak terima langsung bangun dan memukuli Maxim namun Maxim tidak diam saja, ia membalas pukulan Nicho tak kalah gilanya dengan Nicho, sampai sampai Bastian yang sakit harus memisahkan keduanya.
"Sudah cukup!" teriak Bastian namun Nicho dan Maxim tidak menghiraukan teriakan Bastian hingga akhirnya para bodyguard bersusah payah menyeret mereka untuk menghentikan aksi gilanya.
*
*
*
"Apa di jam segini Nicho dan Maxim masih belum sampai?" tanya Nyonya Orlando yang sudah kesal, sudah dua jam lebih dia menunggu menantunya datang namun rupanya sampai detik ini menantunya masih belum datang datang pula.
"Sabar Mih, sebentar lagi Nicho pasti datang, mungkin ada urusan mendesak" ucap Stev mencoba menenangkan Mamihnya.
Sedangkan Nyonya Vernandes hatinya tetap gelisah, ia masih tidak menerima jika Nicho benar benar menghamili Stev sesuai permintaan papahnya.
Sebenarnya Tuan Vernandes tidak bodoh, ia mengetahui bagaimana gilanya dia pada putra tirinya, Tuan Vernandes juga tau apa yang dilakukan istrinya kepada putranya, hanya saja ia diam demi menjaga imagenya. Jika Jessica tau suaminya mengetahui aksi gilanya mau di taruh dimana wajahnya sampai Jessica yang dulu tergila gila padanya kini terpincut oleh putranya.
Maka dari itu Tuan Vernandes cepat cepat menikah kan putranya dengan Stev, bisa saja ia menikahkan Nicho dengan Nasya hanya saja dia sudah berjanji pada Rita jika Rita menyanggupi perintahnya dulu maka setelah Nicho besar nanti ia akan menjodohkannya dengan Stev
Tok tok tok
"Masuk" teriak Tuan Vernandes dari dalam.
"Maaf Tuan, apa Tuan ingin makan siang di sini? jika iya, kami akan menyiapkan nya" ujar sekretaris wanita yang terlihat sexy dengan rok mini warna coklat susu yang dipadukan kemeja warna hijau army, apalagi ia sengaja membuka tiga kancing atasnya hingga buahnya hampir keluar.
"Bukankah sebaiknya kita makan dulu?" ujar Tuan Orlando namun matanya tidak teralihkan pada sekretaris yang ada di pintu.
"Bawakan kita makanan" ujar Tuan Vernandes pada sekretaris yang langsung dijawab anggukan oleh nya.
Tuan Orlando tidak diam meski kulitnya sudah keriput namun, hasrat kelelakiannya malah semakin menggila saat melihat daun muda.
"Aku keluar dulu, aku harus mengabari asistenku jika aku tidak masuk kantor" ucap Tuan Orlando memperlihatkan ponsel di tangannya.
Tuan Orlando cepat cepat keluar dari sana dan turun menuju lantai 29 dimana sekretaris tadi tinggal, namun saat kakinya baru saja melangkah keluar dari kabin yang membawanya turun pandangannya langsung tertuju pada wanita yang sudah merampas jiwa dan raganya.
Wanita yang selalu dirindukan nya siang dan malam kini tengah membelakanginya dengan memakai baju tanpa lengan berbahan ketat hingga menampakkan lekukan tubuhnya, sepertinya dia juga memakai outer Karna di lengannya tergantung sebuah outer berbahan tipis.
"Hai Honey, aku merindukanmu" ucap Tuan Orlando memeluk Nasya dari belakang
Siall