
Terkadang kita terlalu takut mengungkapkan kebenaran, dan bodohnya kita malah menyembunyikannya hingga berakhir dengan kekecewaan.
"Kemarin kan saya suruh kamu ke ruangan saya kalo udah selesai, kenapa tiba tiba kamu pergi? apalagi siapa yang jemput kamu tuh? rusakin foto foto shoot kamu, untung aja Potograper nya pinter file yang dirusak bukan foto kamu" jelas Tuan Orlando pada Nasya yang saat ini sedang duduk berhadapan.
"Tidak usah bertele tele ada apa kau menyuruhku kemari?" tanya Nasya to the point.
Bukannya menjawab Orlando malah mendekati Nasya dan merangkul pinggang ramping milik Nasya lalu berbisik tepat di samping telinga nya
"Aku menginginkan mu" bisiknya lalu membopong Nasya ke dalam ruangan pribadinya.
Nasya tau ini salah, melakukan hal tak senonoh pada pria yang berstatus ayah tirinya. Tapi ini adalah satu satunya cara agar bisa menghentikan Nicho.
Tuan Orlando dengan beringasnya mencium bibir Nasya, bahkan dia dengan semangatnya melucuti seluruh pakaiannya tapi di saat ia akan melucuti pakaian Nasya ia segera dihentikan gerakannya oleh Nasya.
"Kenapa sayang?" tanyanya sambil mengecup pundak polosnya.
"Aku tidak suka keringat, menurut ku tidak etis jika ada keringat selain keringat kerja keras kita" gombalnya dengan tangan membelai halus pipi keriputnya dan mata yang berkedip genit.
"Okelah, tunggu di sini dan jangan macam macam aku pasti tau apa yang kamu lakukan, di sini ada cctv" ucapnya sambil menunjuk cctv yang ada di dekat pintu.
"Apa yang kau takutkan? tenang saja aku tak kan macam macam" ucapnya lalu mengecup bibir Orlando sekilas. "Cepatlah keringat mu membuatku tak nyaman"
Tanpa berpikir lama Tuan Orlando segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, tidak membutuhkan waktu yang lama Tuan Orlando segera menerjang Nasya tanpa ampun, apalagi suara erotis Nasya yang menggema di seluruh ruangan membuatnya semakin bersemangat. Dia dengan semangat melepas dalaman segitiga milik Nasya tapi aktivitas nya terhenti oleh dering hp Nasya
"siapa?" tanya Tuan Orlando dengan suara parau menahan gejolak dibawah sana.
Nasya mengangkat teleponnya lalu sedikit berbincang. Setelahnya dia segera mengambil pakaian yang dilempar sembarangan oleh Tuan Orlando dan memakainya kembali.
"Kau mau kemana?" tanya Tuan Orlando emosi melihat Nasya yang akan pergi begitu saja.
"Aku harus pulang, kampus ku menelpon" jawabnya. "Kirimkan uangnya aku harus membayar SPP"
"Kau bahkan belum melakukan tugasmu" bentak Tuan Orlando beranjak dari ranjang dengan tubuh bugilnya.
"Tugasku memang belum, tapi kau sudah menjamah ku belajarlah bertanggung jawab, cepat kirimkan aku harus pergi sekarang" titahnya dingin. "4 miliar, tidak kurang aku harus pergi sekarang bye" ucapnya lalu mencium pipi kanan Tuan Orlando.
Tuan Orlando yang tadinya sempat marah kini padam Karna kecupan perpisahan dari Nasya. Tanpa berpikir panjang Tuan Orlando segera mengirimkan uang yang Nasya inginkan, ia tidak mau Nasya kecewa jika dia tidak mengirimkan nya sekarang. Dia benar benar terobsesi dengan Virgin, dia percaya jika Nasya virgin Karna sebelumnya dia sudah mencari informasi dengan menggunakan detektif swasta.
Nasya yang saat ini sedang berada di perjalan menuju apartemennya hanya tersenyum meremeh saat ada pemberitahuan transfer dari Tuan Orlando.
"Dasar lelaki tua, mau saja dibodohi" ejeknya sambil menaikkan kecepatan mobilnya.
Nasya tidak bodoh dia sudah memasang alat penyadap di beberapa penjuru yang dilewatinya saat berjalan, sebenarnya tidak ada telpon dia sengaja mengaktifkan timer hpnya agar berdering dalam durasi 3 menit.
Ternyata rencana pertamanya berhasil.