
Pagi menyapa, polusi telah merebut udara di pagi hari, mobil dan motor mulai berlalu lalang memenuhi jalanan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.
Nicho membawa masuk makanan di troli ke dalam kamar yang ditempatinya bersama Nasya, saat sampai di kamar ia hanya duduk termenung menatap wajah indah yang damai saat tertidur tidak seperti saat bangun yang akan menjadi garang dalam seketika.
Nicho hanya mengusap wajah Nasya dengan lembut sambil sesekali mencium hangat wajah wanita yang dicintainya,
"Kamu benar, aku terlalu takut kehilanganmu sampai akhirnya kamu harus terluka oleh genggaman ku sendiri, I'M sorry semua yang aku lakukan Karna aku sangat mencintaimu" lirihnya lalu mengecup singkat bibir Nasya yang semalam hanya menangis mendengar penuturannya.
Flash back of
"***Cepat buka pintunya Bastard!" teriak Nasya pada Nicho sambil menendang nendang ranjang yang ditempati Nicho
"Aku akan membuka pintu itu tapi izinkan aku menjelaskan semuanya" pinta Nicho sungguh sungguh
"Aku tidak perlu penjelasan mu yang unfaedah," jawab Nasya frustasi.
"Dengarkan aku, beri aku waktu 10 menit untuk menjelaskan semuanya" pinta Nicho lagi mencoba bernegosiasi dengan Nasya.
"10 menit bagiku adalah 100 hari bersamamu, terlalu lama dan membosankan"
"5 menit, kumohon" lagi lagi Nicho tidak putus asa.
"Okey 5 menit tidak lebih, jelaskan apa maksudmu menahanku di sini?"
"Kamu tau Sya? aku sangat mencintaimu sama seperti ucapanmu tadi yang sangat mencintai ku" jelas Nicho
"Lalu, jika kamu memang mencintai ku mengapa harus dengan cara ini? apa tidak ada cara yang lain?" tanya Nasya mulai emosi
"Masih banyak cara, namun kekuatan ku tidak sebanding dengan papahku,"
"Aku dipaksa menikahi Stev, jika tidak Papah akan menghancurkan kredibilitas mu, awalnya aku setuju Karna papah juga berjanji tidak akan ikut campur dalam urusanku setelah aku menikah dengan pilihannya"
"Tapi aku terlalu bahagia dijanjikan terbebas dari jeratan orang tua gila, hingga aku tidak sadar papah memberiku surat perjanjian yang di dalamnya menyatakan jika aku harus memberi keturunan dari rahim Stev, jika aku bisa sebagai imbalannya seluruh koneksi dan kekuatan papah akan jatuh ke tangan ku"
"Mengapa kau tidak menolak? kita bisa saja hidup desa dengan kehidupan yang biasa saja, aku siap miskin dengan pria yang aku cintai, tapi sepertinya kamu tidak siap kehilangan milikmu"
"No baby, kamu salah. Aku setuju Karna jika tidak Papah akan menghabisimu dengan tangannya sendiri, bukan membunuhmu baby, tapi dia akan membuat mu diabaikan oleh masyarakat sekeliling termasuk Bastian, Maxim, Alana dan Gabby"
"Kamu tau bukan seberapa liciknya papah, bahkan Mamah ku sendiri saja habis ditangan dinginnya tanpa ada rasa kasihan sedikitpun, apalagi aku Sya? aku yang lahir bukan dari rahim wanita yang dicintainya, aku terlahir dari seorang ibu yang membunuh kekasih gelap suaminya sendiri,"
"Kau tau? ayahku sangat mencintai j*****g itu hingga dia tega membawa selingkuhannya ke ranjang pengantin mereka,"
"Aku butuh kekuatan untuk menghancurkan otak picik papah Sya, aku selalu gagal dalam membangun bisnis Karna ulah si tua Bangka yang takut jika akulah yang lebih berkuasa,"
"Dulu ada seorang pebisnis yang mengalahkan kekuatan papah ku tapi dengan mudahnya papah menghabisinya tanpa mengotori tangannya, dia hanya perlu mengulurkan tangannya pada seseorang yang kesusahan dan menyuruhnya masuk ke dalam kehidupannya,"
"Papah dengan sabar menunggu rencananya, meskipun dengan waktu yang lama ia masih menunggunya sampai 9 tahun kemudian rencana papah berhasil, orang yang menghalangi jalannya sudah tiada hingga akhirnya papah bisa berkuasa di manapun dia berada" jelas Nicho menitikkan air matanya, dia terlalu malu memiliki ayah keji seperti papahnya.
"Dan korban itu adalah papahku bukan?" tanya Nasya dengan rengekan kecil di bibirnya, "Ayahmu menyuruh mamahku membunuh papah? iya bukan?"
"Sorry Sya, aku tidak bisa menceritakan itu sebelumnya, Karna aku takut kamu akan pergi saat tau jika pembunuh Ayahmu adalah papahku" ucap Nicho, dia tidak kuasa menahan air matanya sampai sesuatu yang lembut mengusap air matanya yang bercucuran kemana mana.
"Apa alasan tidak memberitahuku ancaman ayahmu Karna kamu takut aku akan memilih pergi darimu demi kredibilitas ku?" tanya Nasya pada pria yang ada di hadapannya.
"Yes, apa alasan mu merencanakan hal gila ini Karna takut kehilangan ku baby?" tanya Nicho dengan senyuman mengembang.
"Jika sudah tau perlukah aku menjawab semuanya?" tanya Nasya sambil membuka ikatan di tubuh Nicho.
"Mengapa kau tak membicarakan denganku dahulu? apa sesulit itu untuk bermusyawarah denganku?" tanya Nicho sambil mendekap tubuh ringkih Nasya.
"Lalu bagaimana denganmu? mengapa kamu tidak memberitahuku alasan mu meninggalkan ku, dan mengacuhkan ku?" tanya Nasya dengan wajah yang seolah olah tidak terjadi apa apa.
"Aku tidak memiliki alasan, aku sengaja langsung melakukannya Karna saat itu aku memang sangat sangat takut jika kamu sudah mulai mencintai Stev, jika pun aku meminta izin padamu, apa kamu mau mengizinkanku? aku pikir tidak, Karna kekasih ku over posesif "
"Lain kali, bicarakan lah padaku, agar aku tidak perlu berburuk sangka dan percaya pada orang lain," ucap Nicho lalu menatap tubuh Nasya yang tidak lagi seperti dulu.
"Maafkan aku, kamu harus terluka Karna sifat egois ku" pinta Nicho tertunduk benar benar merasa bersalah.
"Hey dude, aku pikir diantara kita tidak ada yang bersalah, ini semua hanya Karna kurangnya komunikasi kita saja, andaikan aku menceritakan seluruhnya lebih dahulu aku yakin, tanganmu ini tidak akan melukai ku sedikitpun" ucap Nasya sambil mengecup tangan Nicho
"Apa semudah itu kamu memaafkanku?" tanya Nicho lagi memandang wajah yang kini berseri di hadapannya
"Tidak ada yang perlu di maafkan, jikapun memang ada apakah kamu pun akan memaafkanku? kamu melukaiku Karna memang tindakan ku yang keluar batas,"
"Maafkan aku Karna sampai detik ini aku masih belum bisa mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu, baby"
"Emmm, Daddy, tidak perlu kau tau? aku sudah mendapatkan nya dad" ucap Nasya girang sampai berlonjat girang dihadapan Nicho.
"Awhsss" desis Nasya saat se*Lang*kangannya terasa ngilu kembali
"Apa sakit baby?" tanya Nicho khawatir.
"Tidak, apa kau mau tau semua ceritanya?" tanya Nasya pada Nicho yang langsung di jawab anggukan otomatis dari Nicho.
Dengan semangat 45 Nasya menceritakan seluruh rencananya yang terdapat campur tangan Maxim dan Alana, ia juga tidak lupa menceritakan jika wanita yang tidur dengan papahnya adalah mamahnya alias istrinya sendiri, dia bahkan bercerita dengan penuh tawa
"Jika ada peluang untuk kebaikan kenapa kita tidak berbagi? kasihan mamahku yang harus menyewa gigolo hanya Karna tidak dapat nafkah batin dari suaminya" ucap Nasya sambil tertawa.
Merekapun tertawa sambil menceritakan semua hal yang mereka lewati dengan kesalah pahaman ini, terkadang Nicho juga tertawa Karna ulah Nasya yang menurutnya sangat Gila,
Terkadang hubungan juga butuh komunikasi tidak harus tentang s*ex dan sesuatu yang berujung pada bergairah. Komunikasi jauh lebih penting dibanding urusan ranjang, memang benar ranjang adalah tempat yang tepat untuk menyelesaikan sebuah masalah, tapi komunikasi jauh lebih penting untuk menghalau semua kesalah pahaman jika pasangan beranggapan jika dirinya hanya dimanfaatkan di ranjang saja***.
"Apa aku terlihat cantik saat tidur?" tanya Nasya tanpa membuka matanya hingga membuat kekehan kecil dari mulut Nicho
"Terlalu Narsis" jawab Nicho menggelengkan kepalanya, "Cepat bangun, mandilah lebih dulu kita akan makan di kamar saja"
"Mandikan aku," pinta Nasya manja tidak tahu malu,
"Mandilah sendiri, aku harus memeriksa email"
"Ya! aku tidak bisa berjalan Karna milikmu yang terlalu besar, kau tau? di bawah sana robekannya terlalu lebar hingga aku tidak bisa berjalan"
"Siapa suruh memperkosaku?" tanya Nicho sambil menggendong tubuh Nasya ala bridal style
"Tidak ada salahnya seorang istri memperkosa suami," jawab Nasya sambil mengerucutkan bibirnya yang langsung di lahap gemas oleh Nicho. "Lagipula orang orang akan menggendong istrinya setelah mereka bermalam pengantin"
"Apakah kita sudah melakukan malam pengantin?" tanya Nicho bingung Karna dia tidak merasakan ******* semalam
"Ya,,,, iiii,,,,tu juga bisa dibilang begitu bukan?" ucap Nasya malu lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Nicho mendudukkan nya di closed
"Baiklah, mungkin kita bisa melanjutkannya di sini" ucap Nicho sambil mengisi bathtub dengan air hangat dan sabun
"Big No, aku terlalu sakit" ucap Nasya dengan wajah merona
"Aku pikir Tidak, setelah beberapa kali kau akan ketagihan" goda Nicho
"Aku bilang tidak ya tidak" teriak Nasya sebal Karna Nicho terus terusan menggodanya. "Kecilkan dulu milikmu setelah itu kau bebas melakukan apapun padaku"
"Munafik, aku tau kamu menyukai yang besar" goda Nicho lagi ia semakin gesit menggoda istri mudanya yang sedang cemberut.
Tidak sampai disitu bahkan Nicho ikut masuk ke dalam Bathtub menggoda Nasya yang terus terusan berteriak dengan suara cemprengnya, sedangkan si pelaku hanya tertawa terbahak-bahak melihat respon korbannya