My Secret Bride

My Secret Bride
Bab30



Malam harinya Nicho pulang dalam keadaan lesu, rambut yang acak acakan, baju yang sudah tidak menentu, dia pulang berteriak teriak memanggil Nasya.


"J****g Moonkei!!!!" teriak Nicho dari lantai bawah.


"Moooonnn......keiiii" teriak Nicho masih tidak ada sahutan dari Nasya.


"Maaf Tuan, sepertinya Nona sudah tidur" ucap Bi Inah yang kesal akan ulah Nicho berteriak teriak di waktu dini hari.


"Sial!!!! siapa yang menyuruhnya tidur lebih dahulu hah?" bentak Nicho pada Bi Inah, dia kesal. Badannya lelah akibat percintaannya tadi dengan Stev yang memakan waktu panjang, ia sengaja melakukan itu agar Stev cepat mengandung, ia juga ingin Nasya cemburu ketika mencium bau bekas percintaan.


"Howamm" Nasya menguap di ujung tangga sana sambil menggerakkan badannya ke kanan dan kiri, "Tidak ada yang menyuruhku tidur lebih akhir" ucap Nasya dengan mata yang tertutup menahan kantuk beratnya, bahkan dia berjalan dengan sempoyongan seperti orang mabuk.


"Ada apa Nich? apa rumah mu kemalingan, sampai sampai suaramu yang tak tahu malu membangunkan seluruh pekerja yang kelelahan sejak siang tadi? hmm?" tanya Nasya sambil mengambil tangan kanan Nicho dan menciumnya dengan takzim, yang mampu membuat mata Nicho melotot.


"Jangan pernah sentuh aku j****g!" bentak Nicho, namun hatinya berdesir hangat mendapat perlakuan yang seolah olah dia sangat mulia di mata Nasya.


"Aku tidak menyentuhmu Nich, aku hanya mencium tanganmu untuk aku salimi" ucap Nasya santai sambil mengambil air hangat kuku di dispenser.


"Minumlah" titahnya pada Nicho, namun Nicho hanya diam mematung heran dengan sifat Nasya yang berubah 180 derajat dari biasanya yang berontak.


"Apa kau salah minum obat?" tanya Nicho dengan volume suara yang pelan.


"Harusnya aku yang bertanya padamu, apa kau salah minum obat? mengapa aku tak boleh menyentuhmu saat aku ingin menyalimi tanganmu? apa bisa aku menyalimi mu tanpa menyentuh kulit kasar mu?" tanya balik Nasya yang geram akan sifat Nicho yang pecundang,


"Minumlah, tanganku pegal" ucap Nasya dengan bibir mengerucut.


Nicho sebenarnya tidak tahan dengan bibir Nasya yang sengaja di manyun kan ke depan. Ingin rasanya dia melahap bibir yang sedari dulu menjadi candunya sekarang juga.


Prang


Nicho membanting gelas yang sedari tadi di sodorkan oleh Nasya, ia bahkan mencekik leher Nasya hingga terhuyung jatuh ke sofa.


"Apa kau sedang menggodaku j****g?"tanya Nicho sambil mengusap kasar bibir Nasya dengan ibu jarinya.


"Bukankah tanpa aku goda pun kau sudah tergoda?" tanya balik Nasya dengan tersenyum mengejek.


Cuppp


mwwwww,,,,, cpppppp,,,aahhhhh,,,


Nicho menc*Umbu bibir Nasya dengan bringas bahkan tangannya tidak diam mengangkat bokong Nasya agar duduk diatasnya. Ia bahkan menahan tengkuk Nasya agar memperdalam ciumannya, tangan lainnya ******* ***** pinggang Nasya yang kurus tidak kenyal seperti dulu.


Bi Inah hanya tertunduk malu melihat aksi majikannya yang tidak tahu malu, dia tidak bisa meninggalkan pecahan gelas di lantai, ia lebih memilih pura pura tidak mendengar dengan sekelilingnya.


"Ahhhhh,,,,"desah Nasya saat lidah Nicho menelusuri lehernya, bahkan Nasya sengaja memaju mundurkan pinggulnya agar terjadi gesekan di bawah sana. Nicho semakin menggila, dengan gilanya Nicho membuka tali piyama Nasya dengan sekali hentakan. Tanpa menunggu lama dia langsung melahap ****** yang tadi pagi menggodanya,


"Ahhhh,,, Nichh, itu geli dad" ucap Nasya tanpa sadar, Nasya terus terusan mendesah dia tidak bisa menahan gejolak nafsu yang sudah membakarnya. Dia meremas rambut Nicho dan menenggelamkan wajah Nicho seolah olah meminta lebih dari itu, tapi sialnya Nicho malah mendorong tubuh Nasya hingga terjerembab ke bawah.


"Kau menyukainya j****g? bahkan kau sangat liar, kau pasti menginginkan yang lebih dari ini bukan?" tanya Nicho sambil menoel Noel paha Nasya dengan kakinya.


"Jangan berharap, Karna aku sudah puas dengan servisan yang diberikan Stev" ucapnya seolah sedang mengingat hal yang mereka lakukan. "Aku jijik menyentuh j***g yang mau di sentuh orang yang berstatus ayah, meski ayah sambungnya"


"Buatkan aku makanan Bi," teriak Nicho lalu berlalu ke arah kamar.


"Siap Tuan"


Sedangkan Nasya dia hanya berdecih jijik tanpa berniat bangun dari lantai.


"Dasar Munafik, bahkan sebelum menc*umbuku saja pedang nya sudah bangun, lucu sekali Bambang" ucap Nasya lalu berdiri dan pergi ke kamarnya.


Di kamar mandi Nicho Mati Matian menuntaskan hasratnya yang tidak mereda reda, sudah sekitar satu jam setengah Nicho bersolo karir, dan sudah 4 kali muntah pula tapi entah mengapa si jamur malah menyukai berdiri tegak bak tiang bendera.


"Tidurlah Jon, nanti ku beri lubang Stev? kau mau bukan?" bagaimana si Joni akan layu jika di otaknya saja bayangan Nasya saat bertelanjang dengan duduk di ranjang membuka kakinya hingga berbentuk huruf v seakan akan mempersilahkan Nicho masuk tidak hilang dari otaknya.


"Shittt sial,"


Dari pukul 1 dini hari hingga pukul 3:45 Nicho baru bisa menidurkan juniornya, sampai sampai bibirnya membiru dan membuat flu seketika. Dia membuka pintu saja dengan gemetaran.


"Shittttt!" umpatnya saat membuka pintu Nasya sudah ada duduk di kursi meja rias yang dibawanya tepat di depan pintu kamar mandi dengan posisi menekuk lututnya ke atas hingga dengan jelas Nicho dapat melihat irisan daging yang masih merah di bawah sana.


Dia hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar saat juniornya dengan nakalnya malah kembali bangun membatalkan tidurnya. Dia memilih berjalan menuju ranjang, dibanding menuntaskan hasratnya, masa bodo jika harus mengompol di ranjang ia tidak peduli lagi yang dia pedulikan hanya tubuhnya saja yang butuh kehangatan.


"Ada apa?" tanya Nasya heran saat Nicho langsung masuk ke dalam selimut tanpa memakai pakaian hanya memakai handuk yang dililitkan di area pribadinya saja.


"Oh sial," umpat Nasya saat sadar jika dia tidak memakai dalaman hingga miliknya terlihat jelas menyenter keluar.


"Nich, di dalam kamar mandi ngapain aja, nyampe ada 4 jamnya?" tanya Nasya pada Nicho yang menggelung tubuhnya dengan selimut, Nicho tidak menjawab dia hanya diam Karna flu menyerang nya.


"Pake baju dulu Nich" ucap Nasya sambil mengambilkan satu set baju piyama milik Nicho, bahkan dia mengambilkan underwear milik Nicho dia tidak malu lagi pula, Nicho suaminya untuk malu?.


"Pake dulu bajunya Nich" ucap Nasya sambil menggoyang goyangkan tubuh Nicho namun Nicho tetap diam tak bergeming.


"Lebih baik aku pakaikan saja" Nasya membuka selimut yang menggulung Nicho, setelahnya Nasya membuka lilitan handuk yang masih betah melilit di pinggang Nicho,


"Astagfirullah" ucap Nasya terkejut saat melihat milik Nicho yang tidak bisa dibilang kecil.


"Anjir, ini Otong Segede gaban banget?" ucap Nasya sambil berusaha memakaikan underwear nya, sebenarnya Nicho tidak tidur dia hanya tidak kuat untuk bangun saja, bahkan rasanya Nicho ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi Nasya yang terkejut dengan pipi memerah bak kepiting rebus.


"Akhirnya selesai juga berperang di palestin" ucap Nasya lalu merebahkan dirinya diujung ranjang sebelah Nicho.


Dalam hitungan detik Nasya sudah mendengkur dan masuk ke dunia tenang dengan cepat, setelah dirasa Nasya sudah pulas Nicho dengan cepat memindahkan tubuh mungil Nasya ke tempatnya dan mendekapnya dengan erat. Kehangatan inilah yang Nicho rindukan bahkan dia menghujani wajah Nasya dengan kecupan bahkan dia tidak segan menggigit hidung mungil milik Nasya, hingga si empunya terusik.


"Jangan menggigit milik Nicho tuan crepes" ucap Nasya mengigau, mungkin di mimpinya dia sedang duduk dengan tuan crepes, ingin rasanya Nicho tertawa saat Nasya menyebut tubuhnya milik Nicho