
Malam yang sunyi seorang insan hanya duduk termenung di balkon kamarnya, matanya melihat keindahan bintang di langit namun pikirannya menerawang kesana kemari. Dia kesepian, berada dalam genggaman seorang lelaki penguasa namun tidak membuatnya bahagia. Dulu sekali dia selalu merasa betapa berharganya dirinya dan betapa istimewanya dirinya dapat mencuri seluruh hati seorang pria penguasa, namun kini dia sadar si penguasa sudah bukan miliknya seutuhnya lagi. Dia sudah memiliki seseorang yang jauh lebih berhak darinya, meskipun si penguasa tetap menunjukkan sifat yang seperti dulu baik, penuh perhatian dan over protective, tapi kita tidak tahu apakah hatinya tetap seperti dulu banyak orang mengatakan "Rasa akan tertanam jika kita sering bersama dan cinta akan hadir dengan berjalannya waktu" apakah dia pun sama?.
"Pah andaikan papah tau, aku sangat merindukanmu. Apakah kau tak mencintaiku hingga kau meninggalkanku sendirian? apa kau tak bisa memeluk ku lagi seperti sewaktu aku kecil dulu? kau selalu bilang jika kau mencintaiku lalu kenapa kau meninggalkan putrimu sendirian Pah?" tanya Nasya dengan deraian air mata.
"Apakah itu kau?" tanya Nasya pada dirinya sambil menunjuk bintang. "Kau bilang jika seseorang yang telah pergi, sebenarnya tidak pergi mereka ada disamping kita dan selalu ada untuk kita, jika memang kau ada bisakah peluk aku malam ini saja! aku sungguh bingung Pah" teriaknya dengan air mata yang semakin deras.
Nasya menangis sesegrukan di pojok balkonnya, bahkan dia menghiraukan rasa dingin yang menerpanya, dia hanya ingin ayahnya datang, dulu waktu ayahnya masih hidup jika Nasya menginginkan sesuatu maka dia akan merajuk dengan sengaja membiarkan tubuhnya kedinginan agar dia terkena sakit, lalu ayahnya akan datang menemaninya tidur dengan memeluknya sepanjang malam sambil membelai kepalanya tanpa lelah
Tapi kini dia hanya sendirian tidak mungkin ada orang yang akan melakukan hal yang sama dengan ayahnya jika biasanya disaat Nasya merindukan ayahnya dia selalu meminta Nicho menemaninya tidur seperti yang ayahnya lakukan lalu saat dia sudah terlelap tidur Nicho akan pulang ke apartemennya Karna Nasya selalu marah jika melihat Nicho masih ada di ranjangnya saat pagi hari.
*
*
"Sayangg, bisa kau antar aku ke lokasi syuting?" tanya Stev sambil memeluk suaminya yang sedang memakai dasi dari belakang.
"Kenapa? bukankah biasanya kau bersama supir?" tanya balik Nicho.
"Aku tidak hanya ingin diantar olehmu saja, apakah kau tidak mau mengantar istrimu sendiri hm?" Stev merajuk manja di depan suaminya yang sudah gagah dengan setelan kantornya.
"Baiklah, segeralah bersiap aku akan menunggumu di bawah" ucap Nicho lalu berjalan keluar kamar lebih dulu.
Sesampainya di meja makan di sana sudah ada papah dan Mamihnya yang sudah menunggu kehadirannya.
"Mana istrimu?" tanya Nyonya Vernandes ketus.
"Dia sedang berdandan" jawab Nicho lalu mendudukkan bokongnya di kursi dekat ayahnya.
"Harusnya seorang istri selesai lebih dulu ketimbang suaminya, dia harusnya melayani makan suaminya bukan malah terus terusan mertuanya yang melayaninya" ucap Nyonya Vernandes lagi dengan nada meremeh.
"Aku tidak pernah minta di layani oleh siapapun, kau saja yang selalu memberiku perhatian yang tak seharusnya" jawab Nicho yang mampu membuat Nyonya Vernandes bungkam namun jika di telaah jawabannya memang melantur tapi percayalah Nicho tidak menyukai perhatian ibu tirinya yang menurutnya caper.
"Berhenti beradu mulut cepat makan" titah Tuan Vernandes dingin.
"Sayang" ucap Stev lalu duduk di kursi samping Nicho dan memakan roti selai yang sudah ada di piring Nicho
"Belajarlah membuat sendiri jangan selalu mengganggu makan suamimu" ucap Nyonya Vernandes sinis
"Aku pikir tidak masalah jika memakan punya suamiku, suamiku saja diam tidak mengatakan apapun lalu kenapa kau selalu mengkritik ku?" tanya Stev dengan gaya arogannya.
"Apa kau tidak bisa bicara sopan pada mertuamu?" tanya Nyonya Vernandes berang.
"Kau memang mertuaku tapi hanya tiri, apalagi sikapmu yang selalu memperhatikan suamiku membuatku muak" jawab Stev tak kalah berang dengan mertua tirinya.
"Dia putraku, jadi wajar jika aku memperhatikannya" ungkap Nyonya Vernandes dengan raut wajah ketakutan.
"Tapi menurutku bukan____" ucapan Stev terpotong oleh gebrakan meja
"Aku tidak suka saat makan malah bertengkar di meja makan" ucap Tuan Vernandes dingin lalu beranjak dari kursinya dan berlalu dari sana dan di susul oleh Nicho dan Stev.
"Apa sudah ada cinta diantara mereka? mengapa akhir akhir ini Nicho selalu menuruti keinginannya? kupikir Nicho akan berpaling padaku jika dijodohkan dengan wanita yang bukan seleranya, sialann ternyata aku salah" ucap Nyonya Vernandes nyalang dengan tangan yang mengepal dan dada yang bergemuruh. Entah mulai sejak kapan Nyonya Vernandes mulai menyukai putra tirinya yang gagah dan perkasa terkadang jika dia sedang di gagahi oleh suaminya dia malah berfantasi sedang di gagahi oleh putra tirinya.
Sepanjang perjalanan Nicho tidak mengeluarkan sepatah katapun hanya Stev yang terus terusan menggodanya, lama kelamaan Stev pun merasa bosan jika selalu di anggurkan oleh suaminya sendiri sudah berjalan setengah tahun pernikahan tapi Nicho sama sekali belum pernah melakukan hal yang lebih intim dari make out, Stev wanita yang haus akan S*x dia tidak bisa jika terus terusan digagahi oleh alat atau tangan Nicho dia merindukan c*mb*an yang memuaskan nafsunya.
"Turunlah" titah Nicho pada Stev
"Apa kau tak ingin menemaniku sebentar saja?" tanya Stev
"Aku sibuk" jawab Nicho dingin
"Ohh, aku tau kau masih menyukai j****g itu hingga kau tak ingin menemaniku Karna takut dia melihatmu bersikap baik padaku?" tanya Stev dengan nada membentak.
"Baiklah, ayo turun" ujar Nicho pria yang mencintai meski nyatanya ia ingin sekali menendang wajah Stev yang berani memanggil kekasihnya j****g
Stev dengan sengaja berjalan sembari memeluk lengan Nicho dengan manja dia ingin semua orang tahu jika pria penguasa yang dijuluki pria dingin hanya bisa jatuh pada pelukan wanita sepertinya.
Semua orang berdesas desus kagum akan pasangan yang sedang berjalan menghampiri mereka, Nasya yang sedang duduk di kursi membaca dialognya pun merasa risih dengan suara suara yang mengganggu konsentrasinya.
"Shittt! memuakkan, apa kau tidak bisa katakan pada mereka untuk tidak berisik Alana?" tanya Nasya pada Alana.
"Kau bodoh atau bagaimana? kau mau citramu jelek di mata mereka? sekarang kau selebriti bukan anak petani" jawab Alana yang kesal juga.
"Sorry, gue gak pernah menyandang gelar anak petani" ucap Nasya sebal sembari memukul Alana dengan berkas di tangannya.
"Good morning" sapa Stev pada semua orang yang ada di sana.
Mereka semua membalas sapaan Stev bahkan mereka tidak segan untuk memuji keramahan Stev, Stev yang dipuji pun merasa bangga akan keberhasilannya mengalahkan Nasya.
"Good Morning Sya" sapa Stev ramah dengan tangan yang masih setia memeluk lengan Nicho
"Too Stev" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang dihafalnya.
"Sayang duduklah, temani aku sebentar saja, lalu nanti kau beri aku penilaian bagaimana aktingku menurut mu dan aku juga meminta saran darimu jika ada kekurangan, are you understand honey?" tanya Stev pada Nicho yang sedari tadi malah fokus menatap Nasya dibalik kaca hitamnya dia merasa gemas saat mulut Nasya bergerak gerak bak orang sedang berkomat kamit membaca mantra.
"Are you Listen to me honey?" tanya Stev dengan tangan mengepal menahan amarah.
"Aku mengerti sayang" jawab Nicho mengusap pucuk kepala Stev tetapi matanya tetap fokus menatap Nasya.
"Nona Stev dan Nona Nasya bersiaplah" titah Kru pada Stev dan Nasya.
"Ya"