
Plak
"Apakah harus dengan cara kasar agar kau pulang?!" bentak Nicho, bahkan dia memukul bokong sintal Nasya yang ada di samping pundaknya ia terus berjalan ke lantai atas Rumahnya meski telinganya hampir pecah, mendengar teriakan dan umpatan Nasya.
Brugh
Nicho membanting tubuh Nasya ke atas ranjang dengan kasar, lalu dia segera mengukung Nasya di bawahnya agar tidak bisa bergerak kemana mana.
"Hey sialan! kau Mau apa?!" tanya Nasya dengan suara melengking
"Bukankah ini yang kau mau Botch? aku akan memenuhi fantasi mu yang sangat liar" jawabnya sambil menggigit kecil telinga Nasya
"Lepaskan aku!!!!" pinta Nasya meronta di bawah sana, tapi Nicho tidak diam dia segera ******* bibir ranum milik Nasya yang tidak berhenti mengoceh sedari tadi, dia juga menggigit kecil bibir bawah Nasya agat memberinya jalan untuk mengeksplor seluruh rongga mulut Nasya, setelah bibir Nasya sedikit terbuka Nicho langsung masuk dan membelit lidah Nasya.
Nasya tetap diam ia tidak ingin mengikuti permainan Nicho saat ini dia sudah hafal ujungnya akan bagaimana, dia tidak ingin lagi merasakan kepalanya berdenyut hebat karna hasratnya tidak tersalurkan. Tapi jangan katakan Nicho jika dia tidak bisa membuat Nasya mengikuti alurnya, ingat bukan jika Nicho adalah raja ranjang? tangannya tidak tinggal diam mengelus bagian sensitif Nasya agar hasrat Nasya naik. Dia segera turun kebawah menelusuri leher mulus milik Nasya, dia sengaja membuat banyak stempel di sana agar semua orang tahu jika Nasya sudah ada yang memiliki, saat melihat goresan Nama di atas dada Nasya Nicho tersenyum sambio mengelusnya dengan ibu Jari, ada sedikit rasa bangga saat namanya masih ada di tubuh Nasya tapi entah di hatinya.
"Ahhhh,,,,," desah Nasya saat Nicho meraup putingnya dan ******* nya bagaikan bayi kecil yang kehausan, Nicho menc*Umbu buah yang selalu jadi tempat ternyaman nya, tangan satunya membelai buah Yang lain, Nasya tidak bisa menahan hasrat yang semakin dalam dia tidak ingin Nicho terus terusan menyiksa nya, dia harus menghentikan aksi Nicho dengan menahan suara desahannya. Tapi baru saja berniat menahan desahannya, suara laknat itu malah keluar lebih indah dari sebelumnya.
"Ahhh,, erghhh,,, Nichhh--- ,,,,, Jang,,,,,ngann,," pintanya sambil mendesah saat Nicho menjilati irisan dagoang Ng merah dibawah sana bahkan Nicho memainkan sesuatu yang kecil yang berada di sana dengan lidahnya.
"Ahhhh,,, Nichhh---,,, aku,,,, ahhhhh----" desahnya, dia mencoba menarik Kepala Nicho agar bangun dari tempat persembunyian nya namun alih alih mengangkat tangannya malah menahan Nicho lebih dalam seolah ingin lebih, tubuhnya bergelinjang hebat saat sesuatu di bawah sana ingin keluar.
"Lebih cepat Nichhh,,,, ahhhh-----,,,, ahhhhhh
Nasya mengangkat area bawahnya agar Nicho lebih leluasa tangannya juga menenggelamkan wajah Nicho agar hasratnya segera tersalurkan.
Di bawah sana Nicho tersenyum smirk saat tubuh Nasya bergetar hebat dan meminta lebih dia bangun dari sana, membuat Nasya terbengong bodoh, melihat aksi Nicho yang mengakhirinya saat hasratnya akan mencapai titik.
"Jangan terlalu berekspektasi Botch" ucapnya lalu tidur terlentang di samping Nasya,
"Kau gila Nich,,," teriak Nasya frustasi, kepalanya berdenyut hebat, seakan ingin pecah saat ini pula. Dia jelas tau saat ini Nicho menginginkan pelepasan juga, tapi sialnya Nicho malah memejamkan matanya di sampingnya
"Aku akan membalas mu Nich" ucap Nasya lalu beranjak dari ranjang mengambil piyama dan turun ke lantai bawah.
Nicho bingung melihat aksi Nasya apakah ia akan pergi mencari pria yang akan memuaskan nya? ia tidak terima namun saat pikirannya berkecamuk Nasya kembali masuk ke ruangan, dengan membawa sesuatu di dalam kardus. Nicho yang tidak peduli memilih memejamkan matanya, mencoba meredam sesuatu yang bergejolak di bawah sana.
Grepp
"Eghh,,,, "teriak Nicho tertahan saat Nasya membekapnya dengan handuk kecil ditangannya, dia mencoba meronta tapi tenaganya tiba tiba habis, dan kesadarannya pun menghilang. Nasya sengaja memberikan Nicho obat bius dengan disisi tinggi, dia ingin Nicho tau, jika apa yang Nicho pikir tentangnya tidaklah benar.
"Sorry Nichh" ucapnya sambil memasang borgol Dia kedua tangan dan kaki Nicho dan menahannya pada tali yang sudah diikat di seluruh ranjang. Saat ini Nicho sudah seperti budak, terlentang di ranjang dengan borgol dan tali yang menahannya.
"Apa kau sudah membawanya ke rumah sakit?" tanya Nasya pada Maxim.
"Anak buah Nicho sudah membawanya, kondisinya saat ini baik baik saja, dia sudah mulai bicara lagi, meski tatapannya masih mengingat masa lalunya tapi kau tak usah khawatir fokuslah pada rencanamu"
"Oke sip" jawab Nasya.
Seperti nya dosis obatnya terlalu tinggi hingga saat ini Nicho masih belum bangun, Nasya memeriksa urat nadinya, ternyata masih stabil malah terdengar ada sedikit dengkuran yang keluar dari mulut Nicho.
"Kau harus tau semuanya Nich," ucapnya pada Nicho sambil membelai pipi tirus yang dipenuhi dengan jambang, Nasya bahkan cekikikan saat mengusap pipi Nicho yang berjambang.
"Apa yang kau lakukan di atas tubuhku? turun" titah Nicho dingin dia masih belum sadar jika tubuhnya saat ini sudah Nasya borgol.
"Aku akan turun Daddy" jawab Nasya mengerlingkan sebelah matanya lalu membuka piyamanya hingga buah dada itu menggantung tepat di hadapan wajah Nicho.
"Tapi aku menginginkan mu Daddy" ucapnya pelan di belakang telinga Nicho lalu menggigit ke telinga nya.
"Awas,,!!!" ucapnya namun tatapannya baru menangkap tali tambang, dan tangannya yang di borgol. "Apa yang kau lakukan Botch"
"Aku hanya ingin kepuasan darimu, jadi mungkin ini salah satu caranya agar aku bisa dimiliki olehmu" ucap Nasya.
"Hahah, berhenti bermimpi aku tidak Sudi meniduri j*****g yang rela tidur dengan ayah tirinya sendiri!" hina Nicho.
"Berhenti memanggilku j****g!" ucap Nasya dengan mata sendu. "Aku bukan j****g Nich" lirihnya lagi
"Tidak usah mengubah wajahmu seperti itu, aku tidak akan bersimpati pada j****g sepertimu".
"Aku bukan j*****g, bahkan aku masih perawan" jelas Nasya menatap mata Nicho tanpa keraguan
"Kamu tidak pernah mau mendengarkan penjelasan dariku Nich, apa kau tau aku melakukan segalanya hanya untukmu bukan aku, dia atau mereka tapi kamu Nich" teriak Nasya .
"Berhenti mengataimu jika kau masih perawan, jelas jelas aku tau jika sedari dulu kau sudah bukan perawan, bangkit dari tubuhku dan lepaskan aku" Nasya bangkit dari tubuh Nicho dan berjalan menuju laci di meja riasnya, ia mengambil salah satu Guntung di sana.
"Cepat potong tambangnya" ucap Nicho saat melihat Nasya membawa gunting, ia pikir Nasya akan melepaskan nya namun nyatanya salah, Nasya malah meletakkan gunting nya di bawah sana.
"Kau mau apa hah?" tanya Nicho saat melihat Nasya menoel Noel miliknya dengan gunting, ia takut Nasya akan menyiksanya.
"Aku hanya ingin kamu tau semuanya" ucapnya dingin, Nicho yang melihat tatapan dingin Nasya merasa buku kuduknya meremang, tapi ternyata Nasya hany menyobek baju dan celananya, kini Nicho sudah telanjang bulat tanpa mengenakan sehelai benangpun.
"Shittttt,,, ahhhhhh Nichhhhh,,,"