My Secret Bride

My Secret Bride
Bab15



cutt


"Nona apakah anda bisa lebih menghayati akting anda?" tanya Sutradara pada Stev dengan frustasi.


"Why? apa aktingku tidak bagus? kau buta hingga tidak bisa membedakan mana akting yang bagus dan jelek?" bentak Stev Karna tak terima jika aktingnya direndahkan oleh orang lain.


"Tidak Nona bukan begitu hanya saja anda kurang mendalami akting anda" ralat sutradara hati hati.


"Sayang" rengek Stev manja yang dijawab senyuman hangat oleh Nicho.


"Tidak apa sayang, sudah biasa jika kita sedikit salah dalam bekerja" ucapnya menyemangati Stev.


Ingin rasanya Nasya muntah paku sekarang juga, dia merasa muak sendiri mendengar ucapan Nicho, sedangkan Nicho dia hanya tersenyum geli melihat tingkah Nasya yang seakan meledeknya.


"Tapi aku lelah," rajuknya


"Kita bisa meminta istirahat sebentar, iya bukan?" tanya Nicho pada seluruh kru di sana termasuk sutradara. Mau tak mau mereka mengiyakan permintaan Nicho, bisa diartikan itu bukan permintaan melainkan perintah Karna Nicho sendiri adalah investor dalam Film yang sedang mereka kerjakan.


"Harusnya kita bisa profesional, semua orang di sini juga lelah" ucap Nasya angkat bicara Karna merasa geram akan ulah Nicho yang menurutnya tidak profesional.


"Kita sama sama cari uang, kita juga sama sama sibuk, tidak usah membuang buang waktu bukankah baru setengah jam lalu kita beristirahat?" tanya Nasya. "Lagipula kasian mereka yang mempunyai adegan setelah ini jika harus ditunda lagi, kita harus saling menghargai bukan? siapa tahu mereka juga punya jadwal yang lain setelah ini" lanjut Nasya dengan tegas.


"Memang siapa yang mempunyai jadwal setelah disini?" tanya Stev angkuh. "Proyek ini bisa stuck di sini jika suami saya mengambil seluruh investasi nya" ancam Stev dengan gaya arogannya.


"Aku yang mempunyai jadwal setelah ini," ucap Nasya beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Stev yang dengan setia memeluk lengan Nicho. "Oh jadi apakah begini cara bekerja anda Tuan Vernandes? sungguh tidak profesional" ucap Nasya meremehkan.


Semua orang terdiam jantung mereka berdegup dengan kencang mereka takut proyek ini gagal, banyak orang berharap dalam proyek ini Karna proyek ini dibintangi oleh model internasional dan model yang sedang hangat hangatnya dibicarakan.


"Aku lelah sialann!" teriak Stev tanpa memedulikan semua orang di sekelilingnya. "Jika kau tidak lelah kenapa tidak adegan kau saja yang sekarang?" ucap Stev sambil mendorong tubuh Nasya hingga terhuyung ke belakang.


Nasya hanya bisa tersenyum getir melihat Nicho yang tidak bereaksi apapun, malah sejak tadi Nicho terkesan tidak mengenal Nasya sama sekali. Ingin rasanya Nasya menjerit melihat kenyataan jika Nicho benar benar telah melupakannya, benar dugaannya jika cinta akan tumbuh dengan berjalannya waku. Mungkin itu pula yang terjadi pada Nicho dan Stev.


"Okey, kita adegan ku dulu ajah pak Sut" ucap Nasya pada sutradara di sana.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan pekerjaannya, hanya dalam satu kali akting, akting Nasya memang cukup mendalami seakan akan penonton tertawa suasana.


cuttt


Teriak sutradara dengan raut wajah bahagia.


"Sudah cukup adegan anda untuk hari ini Nona" ucap Sutradara dengan sopan. "Anda bisa istirahat di rumah"


"Terimakasih Tuan" ucap Nasya dengan sopan pula.


"Wah Nona, akting anda sungguh membuat hati saya berdebar Nona, anda sangat bagus dalam berakting apakah itu akting atau memang kenyataan yang sedang anda jalani?" tanya asisten sutradara memuji sekaligus meledek Nasya yang aktingnya memang memuaskan mata.


Setelah Alana selesai membereskan barang-barang Nasya. Tanpa menunggu lama mereka segera pulang setelah berpamitan pada seluruh orang yang ada di sana.


"Bram, berhentilah menyupiriku, aku merasa terkekang jika terus terusan seperti ini" ucap Nasya dengan mata memerah menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Tidak apa Nona, saya juga tidak akan melapor hal hal yang menurut saya privasi anda" jawab Bram dengan tersenyum mengembang.


hikss hikss hikss


Nasya menangis sejadi jadinya di dalam pelukan Alana, ia merasa sungguh sial dalam kehidupannya dia tidak pernah merasa benar benar dicintai. Dia pikir Nicho akan berbeda dari orang lain, ternyata Nicho sama saja dengan yang lain. Tadinya ia percaya jika Nicho tidak akan macam macam dengan Stev dia yakin jika Nicho hanya ingin membuat Stev percaya jika Nicho mencintainya tapi nyatanya tanda cinta di leher Nicho itu adalah jawaban dari semua pertanyaan yang ada pada pikirannya.


*


*


Pagi yang begitu cerah, sinar matahari yang masuk ke dalam celah celah gorden nampaknya tidak bisa membangunkan seorang insan yang masih menggelung dirinya di dalam selimut. Padahal hari sudah mulai siang semua orang sudah melakukan aktivitasnya masing-masing namun Nasya tetap betah pada tidurnya.


"Sya bangunn" teriak Alana membuka seluruh gorden agar sinar matahari menyinari wajah Nasya. "Bangun sialan" ucap Alana sambil menggoyang goyangkan badan Nasya dengan keras.


"Diamlah Lan! aku ngantuk" ucap Nasya frustasi.


"Ada penawaran iklan dewasa apa kau mau?" tanya Alana tepat disamping telinga Nasya.


"Benarkah?" tanya Nasya segera mendudukkan tubuhnya tepat dihadapan Alana.


"Ya, apakah kau mau?" tanya Alana.


"Apa menurutmu sudah saatnya aku keluar dari kekangan Nicho?" tanya Nasya dengan tatapan menerawang.


"Sudah ku bilang, jika salah satu diantara hubungan mengkhianati, secara otomatis hubungan itu sudah tidak berarti lagi"


"Apa Nicho benar benar telah jatuh pada pelukan Stev?" tanyanya lagi


"Jika dilihat memang iya, Karna Nicho mulai memperlakukan Stev seperti kamu Sya, itu sih pandangan aku aja kita kan gak tau yang sebenarnya terjadi"


"Haruskah aku terus terusan mempercayai ucapannya meskipun realita yang aku lihat tidak sesuai dengan ucapannya dulu?"


"Kau bodoh? mau sampai kapan kau terus terusan jadi gundik Nicho? berhenti seperti manusia kekurangan uang, penghasilan mu sudah lebih dari cukup Sya" ucap Alana kesal


Setelah mendengar jawaban jawaban Alana dia mulai bertekad akan melakukan apapun yang diinginkannya, tanpa memikirkan perasaan Nicho ataupun larangan Nicho.


"Okey, katakanlah aku siap melakukan pemotretan dewasa" ucap Nasya sambil meliuk liukan tubuhnya di depan cermin


"Cihhh,,, menjijikkan bahkan kau sudah seperti j***g meski tanpa melepas pakaian" ucap Alana sambil menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah Nasya yang di luar kendali.