My Secret Bride

My Secret Bride
Bab64



Keesokan harinya Nicho membawa Nasya pulang ke rumah mereka lagi, rumah yang dihuninya bersama Nasya rumah yang menjadi saksi suka duka antara mereka.


"Sayang, bagaimana jika kita beri nama baby kita Marcello Napoleone Alvaro? indah bukan?" tanya Nicho saat mereka sudah duduk di ruang keluarga rumah mereka, sedangkan Nasya ia hanya tersenyum tanpa menghiraukan ucapan Nicho.


"Baby" ucap Nasya, mungkin Nasya belum mengerti dia hanya tau nama baby saja.


"Sayang nama dia Baby Napo" ucap Nicho mengacak rambut Nasya dengan gemas.


"Napo?" tanya Nasya pada Nicho yang langsung dijawab anggukkan oleh sang suami.


"Iyah sayang, aku harap karena keberadaan Napo kamu bisa kembali lagi seperti dulu" ucap Nicho mencium kening Nasya dengan air mata yang sulit untuk di bendung.


"Baby, jangan takut untuk mengingat segalanya kembalilah menjadi diri kamu seperti dulu meskipun aku juga tau, tidak mudah bagi kamu untuk mengingat masa masa kelam yang kamu lewati tanpa sempat aku tolongi, tapi percaya lah aku akan menjagamu dan tidak akan membiarkan ini semua terjadi untuk yang kedua kalinya" Nicho menangis sembari memeluk Nasya dengan penuh cinta.


"Aku mohon Baby, aku sangat bersalah. Karena aku kamu menjadi seperti ini, aku tidak bisa tenang baby" Nicho menangis sejadi jadinya, ini adalah pertama kalinya dia menangis sesenggukan, terakhir kali ia menangis seperti ini adalah ketika kematian ibunya.


Nasya menatap Nicho dengan tatapan kosong namun dadanya terasa sesak saat Nicho menangis karena dirinya yang tidak ingin keluar dari dunianya. Nasya ikut meneteskan air mata meskipun dia tidak mengerti mengapa dirinya harus ikut menangis.


"Nich?" ucap Nasya lirih yang sontak membuat Nicho yang tadinya tertunduk dengan tangis sesenggukan kini langsung mendongakkan kepalanya melihat apakah dia tidak salah dengar jika Nasya kembali memanggilnya Nich.


"Baby, jangan di tahan aku tau itu menyakitkan tapi cobalah untuk keluar dari bayang bayang masa kemarin" ucap Nicho mengusap air mata Nasya yang sudah mengalir melewati pipinya.


"Arghhhhh" Nasya menangis menjerit kesakitan seperti orang yang di siksa habis habisan. Bahkan Nasya yang biasanya tidak menurunkan baby Napo di gendongan nya kini menyimpan nya di box baby khusus bayinya, Nasya menangis meraung Raung dengan memejamkan matanya. Nicho yang tidak kuat memilih memeluk Nasya dan menepuk nepuk punggung istrinya.


"Tidak usaha mengingatnya lagi baby, aku tidak ingin melihatmu menangis seperti ini" ucap Nicho pada Nasya dia tidak tahan melihat istrinya menangis meraut dan menjerit kesakitan. "Lebih baik tetap sepeti ini, jangan mengingat nya lagi, maafkan aku yang telah memaksamu mengingat kembali hal yang ingin kamu musnahkan dari bayanganmu"


Nicho mengepalkan kedua tangannya, dia tidak terima istrinya sampai menangis meraung sepeti ini itu artinya Nasya benar benar tersiksa saat hari hari kemarin.


"Bram, bawa hasil visumnya ke rumah" ucap Nicho setelah menelepon bawahannya, dia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Nasya. Kemarin saat di rumah sakit Nicho memang ingin melihat hasil Visum, namun Nasya tidak ingin Nicho pergi kemanapun atau melakukan apa-apa, Nasya hanya meminta Nicho untuk tetap diam di sampingnya mengajak nya mengobrol dan bercanda dengan baby Napo.


"Tidurlah Baby, aku pasti membalas perlakuan mereka dengan balasan yang setimpal" ucap Nicho membaringkan tubuh Nasya di atas ranjang mereka, lalu mengecup keningnya. Saat ini mereka berada di kamar yang biasa dipakai oleh tamu, Nicho sengaja memindahkan kamar mereka ke sini karena mengingat keadaan Nasya yang masih dalam proses pemulihan setelah Opera kemarin.


Nicho juga sengaja menyimpan ranjang di dekat tembok tidak di tengah ruangan seperti ranjang di kamar utama, ia sengaja melakukan itu karena Napo dan dirinya membutuhkan Nasya, agar tidak terjadi apa apa pada Napo, Nicho sengaja menidurkannya di samping dekat tembok dan dirinya di ujung ranjang.


*


*


*


Hay para pembaca gaib ku, jangan lupa baca karyaku yang satu lagi yah Reader's


jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak, like komen dan vote nya agar aku jadi semangat nulisnya.


prolog


Salahkah aku jika menikah karena wasiat?


Salahkah aku jika harus menikah dengan pria yang sedang berhubungan dengan wanita lain?


"Aku bukan pelakor! aku menikah denganmu hanya karena wasiat, bukan karena uang mu, mas!"


Aliyanza Florida wanita muda yang kehilangan orang tuanya di waktu yang bersamaan, karena sebuah kecelakaan.


Bagaikan Cinderella, yang tadinya hidup dengan seadanya kini menjadi hidup dengan di penuhi segalanya. Namun untuk apa materi jika hidupnya tetap kesepian.


" Dasar wanita murah! jangan bermimpi haluan mu tercapai"


Helmi Putra Nugraha pria matang berumur 37 tahun yang terpaksa menikah dengan wanita pilihan Omanya.


Bagaimanakah kehidupan mereka selanjutnya? yuk ikuti kisahnya.