
"Nasya Moon!" Dosen membentak sambil menggebrak meja Nasya dengan keras. "Apa yang sedang kau pikirkan, hah?" tanya nya sinis.
Nasya membuang nafasnya dengan berat, seakan akan hal yang sedang dipikirkannya kali ini memang benar benar masalah besar.
"Kekasihku akan menikah" ucapnya tenang dengan kaki terangkat sebelah dan tangan yang dilipat di dada dengan mata yang menerawang jauh.
"Oh My God? apa dia akan menikah dengan orang lain?" tanya sang dosen penasaran.
"Apakah kau penasaran profesor?" tanya Nasya dengan alis mengangkat sebelah. Sebenarnya hanya dosen inilah yang peduli padanya meskipun sangat menyebalkan dalam memberikan tugas.
"Untuk apa aku penasaran?" jawabnya berdecih lalu kembali melanjutkan aktivitas materinya. "Nasya fokus liat ke depan, bukan mengkhayal masa depan!"
hahahahahahaha
Perkataan profesor mengundang gelak tawa seluruh mahasiswa.
"Dasar dosen sialan" ucap Nasya sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.
Setelah menyelesaikan pelajarannya Nasya masuk kesebuah cafe yang ada di dekat kampusnya untuk menghilangkan kepenatannya.
"Loh lagi ngapain moonkei? bengong terus kesambet apaan sih loh?" Alana datang bertanya sambil menepuk pundak Nasya.
"Lagi cedra hati" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya yang menatap ke arah jalan.
"Yaelah gaya Luh, kenape emang?" tanya Alana kepo
"Di sleding ekspektasi"
hahahhahahaha
Alana tertawa terbahak bahak mendengar jawaban yang keluar dari bibir mungil milik Nasya, bahkan Bram yang sedang duduk dibelakang bangku merekapun ikut cengengesan Karna jawaban konyol Nona nya.
"Nyata Bege!" ucap Nasya kesal Karna di tertawakan oleh Alana.
"Oh My God, makanya jangan banyak hallu" Alana menoyor Nasya dengan lembut.
"Sialan! sakit"
"Apanya yang sakit? orang gue pelan pelan juga noyornya" Alana memeriksa kepala Nasya takut takut memang benar ada yang terluka. "Gak da"
"Ini yang sakit" menunjuk nunjuk dadanya dengan wajah dibuat buat seolah olah ingin menangis.
"T3t3 Luh Napa? diapaain sama si Daddy?" tanya Alana lagi konyol
"Eh, sialann hati gue yang sakit" Nasya menghentak hentakan kakinya dan membenturkan badannya ke kursi saking kesalnya akan pertanyaan Alana.
"Yah sorry dong gue kan gak tau? emang kenape?" tanya Alana
"Si Daddy mau Nikah"
"Yah bagus dong, apa salahnya Nikah Muda?"
"Masalahnya si Daddy nikahnya sama Model internasional " Bu dosen entah datang dari mana yang jelas saat ini tanpa tahu malunya dia mencomot makanan Nasya dan duduk bergabung dengan mereka.
"Whattt!" Alana syok mendengar penuturan Gabby sang dosen agresif, hingga berdiri dari duduknya.
"Terus ngapain loh diem terus? hajar tuh si Daddy" Alana memukul mukul udara melampiaskan kekesalannya.
"Mana bisa lan? badannya aja kecil gini" ledek Gabby dengan tertawa renyah.
"Jangan gitu Gab, kasian si mookei" ucap Alana sambil memeluk tubuh Nasya dan dibalas pelukan erat nan manja oleh Nasya. "Kita ke luar negri ajah? gimana? biar tuh si Daddy tau rasanya kehilangan"
"Usulan yang bodoh" jawab Nasya lesuh.
"Bodoh? Luh yang bodoh mumpung gak da si Daddy " ucap Alana lagi tetap kekeh mengajak Nasya ke luar negeri
"Loh gak liat di belakang gue?" tanya Nasya sambil menunjuk kebelakang dengan ekor matanya.
"Loh di kasih bodyguard?" tanya Gabby dan Alana bersamaan.
"Yeahh,"
"Tenang ajah masalah si bodyguard mah, serahin ke dosen"
"Maksud loh?" tanya Alana tidak mengerti
"Bramm!" panggil Nasya dengan nada sedikit tinggi.
"Yah Nona?" jawab Bram beranjak dari duduknya dan menghadap kearah Nasya.
"OMG!" Alana dan Gabby berteriak Karna melihat mata Bram yang masih di perban sebelah.
"Sampai sini kalian ngerti? jangan kasih gue saran konyol" ucap Nasya lalu bangun dari duduknya. "Ayo Bram kita berangkat"
Setelah Nasya dan Bram Terlihat menaiki mobil, Alana dan Gabby masih memegang dada mereka dengan perasaan yang masih Syok, mereka benar benar tidak percaya jik Nicho yang terlihat bak pria sempurna ternyata memiliki sisi psychopat.
"Alana, itu beneran Daddy Nasya yang ngelakuin?" tanya Gabby dengan wajah bingung dan tidak percaya.
"Bukan, kekasihnya Nasya. Yah jelaslah si Nicho, gak mungkin si Moonkei" ucap Alana sambil terus menatap kepergian Nasya dengan diikuti mobil SUV hitam dibelakangnya.
"Itu mobil kok baru pergi disaat mobil Moonkei pergi?" tanya Alana bingung.
"Chatt Nasya cepett, bahaya, itu pasti mafia LAN" ucap Gabby dengan dada bergemuruh khawatir terjadi apa ap dengan Nasya.
Alana segera mengambil gawainya dan mengetikkan pesan teks pada Nasya.
Moonkei mobil loh di intilin SUV black
"Gimana udah?" tanya Gabby tak sabar.
"Belom dijawab Gab,"
"Gab, Gab, terus dosen bege, ini Kampus bukan rumah sialan" ucap Gabby menoyor kepala Alana tanpa memakai perasaan Karna status Gabby adalah mantan istri dari Almarhum Kaka Alana.
"Loh juga, Lan lan dan lan ajah, loh pikir gue kak Alan? masih belom mov_" ucapan Alana terjeda karena hpnya berdering.
itu bodyguardku yang lain sialan!!
"What?!!" mereka berdua tidak mempercayai ini.
*
*
"Apa yang lakukan son? mengapa kau mengabaikan stev?" tanya Nyonya Vernandes lembut Karna malu sedari tadi Nicho malah sibuk dengan gadgetnya.
"Nicho? bisakah kau menemani calon istrimu mengobrol dulu?" tanya Nyonya Orlando sedikit geram pada calon menantunya.
" jika bukan karna sosialita, mana mungkin aku menjodohkan putriku ini pada pria sombong sepertimu sialan!"
"Apa baru saja kau mengumpatiku Tante?" tanya Nicho tanpa mengalihkan pandangannya pada diagram saham yang ada di gadgetnya. "Pergilah jika kalian sudah selesai" lanjut Nicho sambil berjalan menuju kursi kebesarannya.
"Sayang! ayolah dia calon istri dan mertuamu, tidak baik bicara seperti itu"
"Apa yang kau rencanakan dari pernikahan ini? apa kau mengharapkan harta dari papah?" tanya Nicho yang sudah geram akan kelakuan mamih tirinya.
"Sayang!" panggil Nasya sengaja masuk ke dalam meski banyak orang disana.
"Kau sudah datang baby?" tanya Nicho dengan tersenyum lebar dan berjalan menghampiri Nasya dengan merentangkan kedua tangannya.
"Aku lapar" ucap Nasya manja sambil mengerucutkan bibirnya.
"Okey kau ingin makan apa baby?" tanya Nicho sambil mencium singkat bibir Nasya tanpa memedulikan tatapan semua orang yang ada di sana. Terutama Stevani dan Nyonya Orlando yang menatap mereka tanpa berkedip, Nyonya Orlando tidak bisa percaya jika putri yang tidak diinginkannya ternyata masih hidup dengan layak.
"Dasar J****g!" Nyonya Vernandes menjambak rambut Nasya dengan brutal saking kesalnya pada kelakuan mereka.
"Stop!" suara bariton menggema di seluruh ruangan hingga semua orang yang ada didalam tertunduk ketakutan tapi tidak dengan Nicho. "Pergilah kemanapun yang kamu mau, aku akan membayar biayanya" ucap Tuan Vernandes pada Nasya membuat semua orang terkejut akan ucapannya.
"Maksud papah apa?" tanya Nicho emosi
"Berhenti membantah, biarkan J****g ini pergi"
Brakkkkkkk