
"Pah! kenapa sih papah gak bisa nurutin permintaanku yang ini kenapa? bukannya mudah kita hanya perlu tanda tangan Nasya? apa susahnya?" teriak Stev yang saat ini sedang berada di mansion orang tuanya.
"Kamu pikir itu mudah? bagaimana jika Nasya tau jika seluruh aset kita adalah miliknya apa kau mau hidup di jalanan?" dengan suara yang tak kalah tinggi dari Stev Tuan Orlando membentak Stev dengan amarah yang bergemuruh.
"Papah pikir Nasya tidak tau? dia tau Pah, lagipula dia harusnya bersyukur dulu kita mau menampungnya disini" ucap Stev dengan nada sinis.
"Harusnya kau yang bersyukur, jika Nasya sudah tau secara otomatis dia sudah merencanakan sesuatu untuk mengambil miliknya kembali!" jawab Tuan Orlando mencoba memprediksi apa yang Nasya rencanakan.
"Mah, apa Mamah tidak bisa meminta tanda tangan Nasya?" tanya Stev pada Nyonya Orlando.
"Mamah bisa saja meminta dia menanda tangani surat tanah yang kau inginkan, tapi pengacaranya yang akan bertanya panjang lebar" ungkap Rita
"Kalian memang tidak bisa diandalkan!" teriak Stev membanting tas nya ke sembarang arah.
"Sekarang aku tanya, untuk apa kau menginginkan lahan itu hah?" tanya Tuan Orlando tak habis pikir.
"Apa aku harus mengatakan untuk apa?" tanya balik Stev dengan gaya arogannya. "Bukankah kau menginginkan cucu miliarder?"
"Maksudmu?" tanya Nyonya Orlando
"Nicho menginginkan lahan itu" ucap Stev dengan mendudukkan bokongnya di sofa sana.
"Untuk apa?" tanya Tuan Orlando lagi
"Harusnya papah tau jika keluarga Vernandes adalah orang orang yang berambisi" ucap Stev mencoba menghela nafasnya. "Nicho menginginkan lahan itu untuk membangun sebuah Club, jika sudah mendapatkan nya dia baru menginginkan anak"
"Jadi maksud mu Nicho ingin fokus pada karirnya dulu dari pada keturunan?" tanya Nyonya Orlando bingung
"Yes, Nicho selalu bilang di masa depan dia menginginkan putra yang banyak maka dari itu dia harus mengembangkan bisnisnya agar putra putri kami nanti tidak merebutkan harta yang kami miliki, dia selalu bilang berhasil satu bisnis maka dia siap membuatku melahirkan satu anak".
"Apa kau yakin Nicho hanya menginginkan itu?" tanya Tuan Orlando mencoba meyakinkan.
"Yes Pah, lalu menurut papah Karna apalagi?"
"Apa Nicho tau jika kekayaan yang kita kelola saat ini bukan milik kita?" tanya Tuan Orlando mencoba mencari jawaban.
" Tidak Pah, jika dia tau aku yakin dia akan menendang ku saat ini pula"
"Benar juga, itu memang alasan yang sangat logis" timpal Nyonya Orlando
"Ayolah Pah, pikirkan masa depan nanti, jika kita terus terusan begini lalu kapan kita bisa menjual apapun yang kita inginkan, semua butuh tanda tangan Nasya" rayu Stev pada ayahnya
"Biar papah pikirkan nanti" ucap Tuan Orlando
"Baiklah aku berharap, papah bisa mengabulkan permintaan ku" ucap Stev lalu berlalu dari sana
Setelah Stev pergi Rita sedari tadi terus terusan memperhatikan sang suami yang sedang berpikir bagaimana caranya mendapatkan seluruh aset miliknya.
"Apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Nyonya Orlando sembari bergelayut manja di lengan suaminya.
"Aku pikir jalan satu-satunya hanya dengan menghabisinya, itu berarti kau yang menjadi pewaris seluruh kekayaannya" jawab Tuan Orlando tanpa menatap sang istri.
"Kau salah sayang, jika dia meninggal seluruh asetnya akan di sumbangkan ke badan amal sayang" jelas Nyonya Orlando dengan tangan yang tak bisa diam.
"Lalu apakah aku perlu menjodohkannya dengan orang bayaranku? agar hartanya jatuh pada orangku?" tanya Tuan Orlando
"Itu lebih baik" jawabnya dengan tangan yang kini mulai membuka resleting celana Tuan Orlando
"Diamlah, aku tidak nafsu" ucap Tuan Orlando lalu berlalu dari sana meninggalkan Rita yang sedang menahan amarahnya.
Memang sudah lama sekali Tuan Orlando tidak pernah menyentuhnya dengan alasan Rita tidak membuatnya nafsu padahal selama ini Rita sudah mati Matian berobat kecantikan agar terlihat tetap muda, terkadang Nyonya Rita membayar gigolo untuk memuaskan hasratnya yang semakin tua bukan semakin mengurang.
*
*
"Apa jadwal selanjutnya max?" tanya Nicho pada sekertaris pribadinya.
"Baiklah, aku akan pulang lebih awal" ucap Nicho dengan tersenyum bahagia
"Apa kau sudah tidak sabar untuk menerkam istrimu Nich?" tanya Bastian sahabat laknat Nicho yang kabarnya tinggal di luar negri namun entah datang kapan dan dari mana tiba tiba dia sudah masuk tanpa mengetuk ke dalam ruangan Nicho
"Biasakan ketuk pintu sebelum masuk" jawab Nicho beranjak dari duduknya dan menoyor kepala sahabat laknatnya.
hahahahaha
Bastian hanya tertawa menanggapi omongan sahabatnya.
"Mengapa kau tak mengundangku sialan?" tanya Bastian kesal
"Itu hanya kolega bisnis papah dan teman arisan mamih saja" ucap Nicho sambil duduk di sofa.
"Hey Max, kau mau kemana?" tanya Bastian saat melihat sekertaris sahabatnya membuka pintu.
"Saya tidak akan kemana Tuan" ucap Max namun tangannya membuka lebar pintu ruangan.
"Lalu untuk apa kau membuka pintu lebar lebar?" tanya Bastian bingung sedangkan Nicho dia hanya menatap malas ulah sekertaris sekaligus sahabatnya juga.
"Silahkan keluar Tuan kami tidak sedang menerima tamu" ucap Maxim dengan wajah yang seakan akan memang tidak mengenali Bastian
"Sialan kau Syetannnnn!" teriak Bastian lalu berlari mengejar Maxim. Mereka berlari berkejar kejaran bak anak TK di dalam ruangan hingga kepala Nicho rasanya ingin meledak melihat tingkah mereka yang selalu seperti ton and Jerry saat bertemu.
"Sayangg" ucap seorang wanita cantik dengan suara gemulai yang mendayu-dayu.
Maxim dan Bastian seketika berhenti dari aksi kejar-kejaran nya. Namun Bastian dengan gaya Coolnya berjalan menghampiri Stev yang berdiri di ambang pintu.
"Hay Honey, mengapa kau tau jika aku ada disini? hmm?" tanya Bastian sambil mencoba mencium bibir Stev.
plakkk
Stev menampar Bastian dengan cukup keras lalu berjalan menghampiri Nicho yang sedari diam.
"Sayang i'm coming" teriak Maxim dengan gaya bencong gemulay memeluk Bastian yang sedang menganga melihat Stev duduk dan bergelayut manja di lengan Nicho
"Diamlah sialan aku sedang tidak ingin bercanda" ucap Bastian yang masih bingung dengan sikap Nicho yang hanya diam saat wanita lain selain Nasya bergelayut manja di lengannya.
"Mereka suami istri Sialan!" ucap Maxim dengan nada sebal sambil melirik Nicho.
"Honey, aku tidak menyukai sekertaris mu itu, carilah sekertaris yang lebih berpotensi lebih darinya, dia sungguh menyebalkan Honey" ucap Stev manja
Tetapi Nicho hanya diam tanpa menjawab malah dengan Coolnya dia minum minuman yang ada di sana.
"Honey apa kau tak mendengarkan ku?"
"Aku dengar sayang tapi aku pikir cukup membuang waktu jika hanya untuk mencari sekertaris baru" jawab Nicho sambil membelai pipi Stev dengan senyum yang menawan.
"Tapi aku menyukainya" adu Stev manja.
"Tapi kau menyukai goyangannya bukan?" tanya Maxim sambil berjalan ke arah Stev.
"Jaga mulutmu sialan" teriak Stev takut mereka akan membocorkan kelakuannya dulu.
"Seperti Mulutmu sudah lama tidak menciumi milikku?" tanya Bastian menimpali. "Bukankah kau selalu bilang jika Jonny ku sangat memuaskan? sepertinya kita perlu bernostalgia lagi"
"Berhentilah bas, sekarang dia istriku jaga mulutmu jika kau masih ingin dunia mu aman" ucap Nicho dingin tanpa menatap wajah siapapun. Stev yang merasa di belapun kini merasa dirinya sedang terbang ke awan saking bahagianya mendapat pembelaan dari Nicho. Sedangkan Maxim dia hanya berdecih jijik
cihhhh
"Menjijikkan " ucap Maxim lalu berlalu dari sana.
"Memilih j****g ketimbang Berlian? sungguh menyedihkan" ucap Bastian lalu berlalu dari sana menyusul Maxim untuk meminta penjelasan.