
Malam harinya di sebuah mansion tepatnya di mansion keluarga Orlando Nyonya Rita dan suaminya sedang beradu argument, mereka masih mencari siapa orang yang mengambil berkas penting perusahaannya dan yang paling utama mereka mencari dimana seluruh surat wasiat dan surat kuasa milik tuan Alvaro.
"Dasar pria bodoh!" bentak Nyonya Rita pada suaminya
"Apa kau bilang hah?!" Orlando mencengkeram dagu Rita tidak terima jika dirinya di bilang pria bodoh.
"Kenapa? kamu tidak terima dibilang pria bodoh hah?!" tanya Nyonya Rita sengit.
"Kamu sebagai istri harusnya membantu suami bukan malah mencacinya" ucapnya menghempaskan tubuh Nyonya Rita hingga terhuyung ke belakang.
"Membantu? kamu pikir menyewa detektif bukan membantu? hah?" Nyonya Rita tidak terima jika dirinya di bilang hanya mencaci suaminya saja, padahal dia pun sudah membantunya dengan menyewa detektif swasta
"Lalu bagaimana hasilnya? masih tidak di temukan bukan?" tanya Tuan Orlando membuang nafasnya dengan kasar.
"Bahkan detektif saja tidak bisa apalagi aku" keluh Tuan Orlando mendudukkan bokongnya di sofa.
Dia cukup bingung, sebenarnya perusahaan tidak mengalami permasalahan, semuanya berjalan seperti biasanya lalu apa maksud pencuri mencuri berkas itu semua, untuk apa? padahal jika memang berniat mencuri perusahaan sudah pasti di klaim olehnya, atau mereka akan menghancurkan perusahaannya dengan menjual aset-aset nya.
Tapi yang jadi pertanyaan Tuan Orlando sampai saat ini aset milik Tuan Alvaro tidak ada yang terjual sedikitpun, lalu siapa pencuri nya, jika Nasya yang mencurinya dia pikir tidak mungkin Karna Nasya sendiri tidak tahu menahu tentang wasiat papahnya, lagipula malam dimana dia kehilangan seluruh berkas penting nya saat itu Nasya bersamanya jadi tidak mungkin dia pergi ke perusahaannya.
"Apa saat malam 5 bulan yang lalu kamu di rumah?" tanya Tuan Orlando
"Tanggal berapa?" tanya balik Nyonya Rita sewot
"Tanggal 3 Desember kemarin?" tanya Tuan Orlando
"Mmm,, Aaa,,,aku keluar" jawabnya gugup, "Memang kenapa? apa ada masalah?"
"Tidak aku pikir kamu di rumah,"
"Lalu malam itu kamu kemana?" tanya Nyonya Rita, "Apa kamu tidak tidur di perusahaan? siapa tau j****gmu malam itu yang mencurinya"
"Aku tidak membawa j****g ke perusahaan, hari itu aku melakukannya di hotel Aomori,"
"Aomori? mengapa bisa sama?" tanya Nyonya Rita keceplosan
"Apa kamu sering menyewa gigolo?" tanya Taun Orlando tak percaya pada istrinya yang sudah keriput tapi masih menginginkan kehangatan.
"Jika kamu sering bermain j****g untuk apa aku diam saja? aku punya uang jadi aku bisa menyewa siapapun yang aku mau" ucapnya dengan tatapan menerawang membayangkan sentuhan Maxim dan cum*buannya yang langsung membuat darahnya berdesir dan va*ginanya berdenyut hanya membayangkan nya saja
"Ckkkk dasar murahan" hina Tuan Orlando
"Lalu kamu apa? tidak usah menghina jika kamu sering memakannya"
Tuan Orlando termenung mencoba menerka apa yang sedang terjadi dengan kehidupannya, malam itu dia dan istrinya sama sama sedang menyewa teman ranjang di hotel yang sama, apa kemungkinan para j****g nya pelaku yang sebenarnya.
"Apa malam itu kamu mabuk?" tanya Tuan Orlando pada istrinya.
"Ya, malam itu tiba tiba saja aku mabuk padahal biasanya aku tidak cepat mabuk meski meminum 7 botol anggur" jelasnya.
"Malam itupun aku mabuk, kenapa bisa sama? apa mungkin kau meminum obat?"
"Obat apa?"
"Brondong mana yang kamu sewa?" tanya Tuan Orlando
"Tentu perlu siapa tahu brondong mu dan j****g yang aku sewa bekerja sama,"
"Untuk apa mereka bekerja sama? apa mereka saling kenal?"
"Cepatlah mana foto brondong yang kamu sewa saat itu?" tanyanya lagi tak sabaran Karna istrinya tak kunjung memberikan foto yang dimintanya
"Ini" Nyonya Rita memberikan foto Maxim yang ada di ponselnya, foto dimana Maxim tidak mengenakan pakaian hanya memakai handuk sepinggang saja yang menunjukkan otot di perutnya,
"Sial! mereka bekerja sama aku yakin itu" umpat Tuan Orlando bahkan dia berdiri memegang keningnya yang tiba tiba berdenyut hebat mengapa dia bisa tertipu dia yakin jika yang dia gagahi saat itu adalah istrinya meskipun dia tidak sadar tapi dia bisa merasakan jika lubang laknat yang di gagahinya saat itu tidak sempit melainkan sudah seperti pintu mobil yang sangat luas.
"Maksudmu? dengan siapa Albar Beker sama?" tanya Nyonya Rita
"Albar? apa dia mengaku dengan nama Albar?" tanya Tuan Orlando tak percaya
"Yah, dia bernama Albar, aku sudah biasa memesan brondong di rumah bordil xx, semua orang menginginkan tidur dengannya termasuk aku, tapi aku menawarkan 10x lipat dari orang lain,"
"Bodoh! aku pikir aku yang bodoh! ternyata kamu jauh lebih bodoh di banding aku, apa kamu tidak tahu jika dia adalah Maxim asisten pribadi Nicho yang saat ini menjadi kekasih Nasya hah?!" tanya Tuan Orlando dengan nada tinggi.
"Apa maksudmu? jika memang Albar adalah Maxim untuk apa dia mencuri berkas itu hah?!"
"Tentu saja untuk membantu kekasihnya merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik Nasya" ucap Tuan Orlando geram.
"Lalu j****g mu? siapa dia?" tanya Nyonya Rita was was
"Siapa lagi jika bukan putrimu?" ucap Tuan Orlando meremehkan
Plak
"J****g mengapa kau menampar ku?" umpat Tuan Orlando tidak terima, ini adalah pertama kalinya wanita yang sejak dulu tergila gila padanya kini malah menamparnya dengan kilatan amarah di matanya.
"Dasar tidak tahu diri, kau sungguh biad*ab bahkan kau lebih brengsek dari yang aku pikirkan" teriak Nyonya Rita membabi buta, dia bahkan tidak takut jika Orlando akan memukuli dirinya hingga mati sekalipun, yang dia pedulikan saat ini hanya ingin mengeluarkan semua marah yang terpendam di dalam hatinya.
Nyonya Rita memang siap membunuh siapapun termasuk pria yang sudah menolong dan menopang kehidupannya dahulu, dia bahkan dengan kejinya membunuh tuan Alvaro dengan suntikan mati. Tidak ada rasa iba ataupun bergetar sedikitpun di hatinya saat melihat tangisan diam Tuan Alvaro, tapi saat ini putrinya buah cintanya bersama Tuan Alvaro di lecehkan oleh pria yang berstatus sebagai ayah tirinya.
Dia memang tega telah menelantarkan putrinya, tapi mana ada seorang ibu yang membenci putrinya meskipun bukan hasil dari pria yang di cintainya, dia tidak terima Nasya di lecehkan oleh suaminya saat ini.
"Dasar Brengsek! sialan! lelaki bia*dab!" teriaknya membabi buta
Brughh
Orlando mendorong istrinya hingga terjungkal ke belakang
"Tidak usah terus menyalahkan ku, kamu tau bukan? sifat putrimu menurun dari sifat j****gmu!" ucap Tuan Orlando menempeleng kepala Rita.
"Lagi pula dia bukan putriku apa salahnya aku sedikit mencicipi wanita yang telah aku besarkan?" ucapnya Lalu berlalu dari sana meninggalkan Nyonya Rita yang sedang meraung Raung tidak terima.
Tuan Orlando mengemudikan mobilnya ke sebuah Club ternama di kota Ini dia ingin melampiaskan amarahnya pada j****g lain, sungguh dia masih tidak bisa melupakan kemolekan tubuh putri Tirinya.
"Shittttt, jika itu ulah mu, aku tidak akan membiarkan mu bisa berdiri sedikitpun honey" ucap Tuan Orlando membayangkan Nasya di hadapannya.
"Ahhh,, mmmmm,,, ahhhh,,,shhhhhh" desis Tuan Orlando saat bayangan tubuh Nasya kembali lewat di otak keranjangnya.