
Gemericik hujan di malam hari membuat atmosfer malam yang memang dingin menjadi lebih dingin, Nasya menggelung dirinya dengan selimut tebal miliknya hingga nyaris tubuhnya tidak terlihat selain kepala saja yang menonjol di atas. Nicho hanya tersenyum lucu saat melihat tingkah laku istri keduanya yang berbeda dari yang lain, dengan jahilnya Nicho membuka gulungan selimut yang menyelimuti tubuh mungil milik Nasya hingga Nasya sedikit terpelanting ke samping.
"Nichooo!!!!!" teriak Nasya kesal saat Nicho menarik selimutnya,
"Apa baby?" tanya Nicho dengan senyuman mengembang tanpa merasa bersalah.
"Dingin tau, balikin selimutnya" pinta Nasya dengan bibir mengerucut sebal, alih-alih memberikan selimut Nicho malah dengan semangatnya membuka kancing baju kemejanya satu persatu.
"Tu-tunggu dulu?" tanya Nasya gelagapan melihat aksi Nicho yang membuka bajunya, "Kau mau apa hah?!" tanya Nasya was was.
"Menghangatkan diri dengan menyatukan diri itu lebih alami dibanding memakai selimut sialan!" ucap Nicho merangkak menghampiri Nasya yang memeluk lututnya dengan tatapan melohok tidak percaya.
"Apa kamu tidak lelah?" Nasya heran tenaga suaminya terbuat dari apa hingga tidak merasakan lelah, apalagi yang Nasya tau sejak pagi tadi Nicho tidak beristirahat atau tertidur sebentar.
"Tidak, apa kamu yang lelah baby?" tanya balik Nicho yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Nasya berharap suaminya langsung tertidur seperti biasa.
"Baiklah," ucap Nicho menarik tubuh Nasya yang tersenyum manis Karna akhirnya dia bisa beristirahat kembali setelah pergulatan panjang tadi pagi, "Aku yang akan bekerja, kamu hanya tinggal Mendes*ah di bawahku saja baby"
siall***
Nasya mengumpati Nicho dengan berbagai hewan di seluruh taman safari, bisa bisanya suaminya menghempaskan nya begitu saja setelah ucapannya yang tadi yang seolah mengiyakan keinginannya.
"Aku terlalu lama menunggu, aku tidak ingin menunda lagi" ucap Nicho penuh harap mengusap perut Nasya yang masih rata, tempat dimana kecebong miliknya sedang berlomba bersemayam di rahim istri tercintanya.
Lelah Nasya menjadi Lillah (Karena Allah), dia dengan bibir mengembang mengangkat wajah Nicho agar menatapnya,
"Bukankah sebentar lagi kamu akan memiliki putra dari istri pertama mu?" tanya Nasya lembut.
"Aku tau itu, tapi tetap saja aku menginginkan putra yang lahir dari rahim wanita yang aku cintai bukan dari wanita yang hanya aku tiduri, baby" ucapnya memohon mencoba menjelaskan keinginannya.
"Jika aku melahirkan seorang putra, bagaimana caramu memperlakukan putramu yang lahir dari rahim kakakku?" tanya Nasya mencoba mencari jiwa kebapak an pada diri suaminya.
"Kamu ingin bagaimana? Jujur saja, aku pasti lebih mencintai putra darimu, tapi dengan adanya kamu di samping aku selalu memberiku wejangan yang baik agar aku bisa adil aku yakin aku bisa memperlakukan kedua putraku dengan sama meski aku tidak yakin jika aku mencintai mereka dengan sama rata, tapi aku janji aku akan berusaha untuk itu" ucap Nicho panjang lebar mengacak rambut panjang terurai milik istri sirinya.
"Aku pun janji, aku pasti mencintai putramu dari siapapun dia lahir tapi mereka adalah kecebong milik suamiku iya bukan?" tanya Nasya dengan tertawa ringan.
"Apa kamu tidak membenci putraku dari wanita lain?" tanya Nicho mencoba meyakinkan jika Nasya benar benar bisa mencintai putranya dari wanita lain.
"Aku hanya akan melihat dari bibit siapa dia ada bukan dari rahim siapa dia lahir, aku mencintaimu jadi aku pun harus mencintai putramu aku bijak bukan?" sombong Nasya.
"Aku tidak yakin kamu jadi ibu tiri yang baik,," ledek Nicho menggelitik pinggang istrinya hingga tertawa lepas tapi seketika tawa itu menghilang berganti dengan suara cecapan demi cecapan yang Nicho ciptakan, dengan nafsu yang menggebu-gebu Nicho langsung melakukan penyatuannya hingga hanya ada suara yang terdengar laknat memenuhi kamar yang untungnya kedap suara.
Di sisi lain di sebuah kamar seorang pria tengah berbincang bincang dengan bawahannya yang sedang mengutak-atik komputer di ruangannya, dari siang hingga malam mereka mencoba melacak kemana perginya Nicho, tapi sial meski Tuan Vernandes telah membobol cctv jalan tetap saja dia tidak bisa melihat kemana putranya pergi.
"Sial!! sebenarnya dimana dia tinggal selama ini" umpat Tuan Vernandes menengadahkan kepalanya ke langit langit ruang kerjanya, rasanya terlalu lelah menghadapi sifat Nicho yang akhir akhir ini sangat misterius, apalagi sudah beberapa hari anak buah Tuan Vernandes diperintahkan untuk mencari keberadaan Nicho tapi sialnya lacakkan nya pasti hilang saat mobil Nicho melewati sebuah jalan Tol.
"Tuan, sejauh ini masih belum ada peningkatan, apakah kita butuh bantuan dunia bawah?" tanya bawahannya yang sedari tadi sibuk mengontrol layar dihadapannya.
"Cari tahu siapa yang membantu Nicho saat ini, sekarang istirahat lah lebih dahulu" titah Tuan Vernandes lalu berlalu dari ruang kerjanya,
Pagi ini di meja makan kediaman Nicho, Nicho sedang berbincang serius dengan orang orang di teleponnya sampai sampai tidak sadar jika istrinya sudah duduk manis di sampingnya.
"Sampai kapan kamu akan mengabaikan ku?" tanya Nasya dengan bibir mengerucut sebal melihat suami yang hanya tersenyum dan memeluknya dari samping.
"Sebentar sayang" ucap Nicho masih mendengarkan ucapan dari seseorang di sebrang sana. "Nanti aku telpon lagi".
"Kenapa sayang hm?" tanya Nicho pada istrinya yang sedang merajuk.
"Apa kamu tidak berniat mengajakku keluar Nich?" Nasya merajuk karena ketidak pekaan suaminya.
"I'M sorry untuk saat ini tidak, tapi nanti saat situasinya mereda aku janji kita akan mengelilingi dunia, kemanapun yang kamu mau okey?" janji Nicho pada istrinya.
"Katakan apa yang sedang terjadi?" tanya Nasya yang peka jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya.
"Tidak ada, kamu tidak perlu tahu apapun kamu hanya perlu beristirahat dan makan yang banyak untuk mengisi energi mu" goda Nicho mengedipkan sebelah matanya genit pada sang istri, namun bukan Nasya namanya jika berhenti di sana sebelum rasa ingin tahunya terjelaskan.
"Cepat beritahu aku, atau aku akan melakukan hal gila yang tidak pernah bisa kamu bayangkan" ancam Nasya dengan sorot mata sendu namun ucapannya penuh dengan penekanan. Dengan terpaksa mau tidak mau Nicho harus menjelaskan dengan mendetail apa yang sedang terjadi dengan keadaan yang mendesak nya untuk tetap menyembunyikan pernikahan mereka, Nicho takut Nasya melakukan hal gila seperti kemarin jika itu terjadi lagi mungkin yang akan gila bukan Nasya tapi Nicho.
Nicho mulai memberitahu Nasya soal Stev yang mulai curiga dan papahnya yang mulai bekerja mencari informasi tentang Nicho, untung saja ada Bastian dan Maxim yang berada di garda depan untuk membantu mereka.
"Baiklah, jika begitu tetaplah seperti dulu, mungkin aku harus kembali kuliah di kampus tidak harus daring terus menerus agar semuanya tidak curiga" usul Nasya pada Nicho.
"Tidak," jawab Nicho spontan, "Untuk apa masih kuliah? aku sudah bekerja keras banting tulang buat cari uang, aku hanya ingin kamu ada di rumah duduk manis tanpa merasa kelelahan" tutur Nicho.
"Tapi kuliah itu harus Nich, jika aku lulus kuliah anak anakku pasti bangga memiliki ibu seorang sarjana" ucap Nasya
"Tanpa memiliki gelar sarjana pun aku berjanji akan membuat mereka menghormati mu dan bangga mempunyai seorang ibu kuat sepertimu, kau boleh belajar tapi tidak usah di kampus aku yang akan menjadi dosen mu ini perintah dari suami untuk istrinya" ucap Nicho menekankan kata suami dan istri agar Nasya menurut, benar saja Nasya langsung mengangguk paham dengan maksud Nicho dia juga sadar setelah menikah jadi istri yang baik dan penurut adalah sebuah keharusan bagi dirinya yang sudah menjadi seorang istri.