My Secret Bride

My Secret Bride
Bab17



Baru saja sampai pintu rumah, Nicho sudah di lempari berbagi pertanyaan oleh Stev, tidak mendapat jawaban dari Nicho Stev tetap gencar memberondong Nicho dengan berbagai pertanyaan bahkan Stev berani mengumpati Nicho.


"Apa kau akan diam saja?hah?" tanya Stev dengan dada yang bergemuruh.


"Kau menemui j****g itu bukan?" tanyanya lagi sambil menahan lengan Nicho.


"Jawab aku sialan!" bentak Stev dengan nada suara yang tinggi. Ingin rasanya Nicho menampar Stev yang berani berteriak di depan wajahnya tapi dia harus menahannya demi tujuannya tercapai


"Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan sayang" jawab Nicho lembut dengan menebarkan senyum menawannya.


"Jangan berani membohongiku!" teriaknya lagi.


"Kemarilah baby" ucap Nicho sambil menarik lengan Stev agar duduk di ranjang tepat disampingnya.


"Aku benar-benar tidak berbohong, jika kau tak percaya tanyakan pada Maxim"


"Percuma bertanya pada pria sialan itu" jawabnya ketus sambil duduk di samping Nicho. "Mamih nyuruh kita ke rumah katanya udah lama kita tidak makan malam bersama"


"Kapan?" tanya Nicho bersemangat


"Nanti malam" jawab Stev singkat.


"Oke, mandilah dahulu, aku ingin mencari minum" titah Nicho pada Stev.


"Apa kau benar-benar tak berniat memiliki anak dari pernikahan kita?" lagi lagi Stev menanyakan itu. Entah ke berapa ribu kalinya Stev melemparkan pertanyaan yang sama.


"Sudah ku jawab berapa kali? perlukah aku menjawab lagi?" Nicho malah balik bertanya pada Stev Karna merasa kesal.


"Oke, aku mandi duluan" jawab Stev mengalihkan pembicaraan Karna takut akan kemarahan Nicho.


Mungkin Karna terlalu banyak beradu argument hingga Nicho menghabiskan 3 gelas air putih untuk membasahi tenggorokan nya.


"Kau baru pulang Nich?" tanya Jessika pada putra sambungnya, yang hanya dijawab oleh anggukan saja.


"Biasakanlah minum sambil duduk jangan berdiri tidak baik untuk kesehatan" ucapnya sambil menarik tangan Nicho agar duduk di kursi mini bar.


Tapi dengan nakalnya tangan Nicho malah meremas pantat sintal ibu sambungnya yang hanya memakai lingeri seksi tanpa piyamanya. Apakah Jessica marah? tentu tidak bahkan dia dengan tak tahu malunya malah menikmati sentuhan putra tirinya yang diam diam dikaguminya.


"Apa kau suka?" tanya Nicho sambil memepetkan tubuh Jessica ke meja bar di sana.


"Aku suka apapun yang kau lakukan baby" ucapnya dengan senyum melebar.


"Apakah ini caramu dulu menggoda papahku?" hina Nicho tepat di samping telinga Jessica.


"Aku tidak menggoda ayahmu sama sekali" jawab Jessica yang merasa tertampar akan ucapan Nicho.


"Oh ya? apa sekarang kau sedang menggodaku atau bukan?" tanyanya sambil menggigit ujung telinga Jessica.


"Berhenti bermai main di sini Nich, kita lanjut di kamar saja" ucap Jessica dengan nafas memburu menahan hasrat yang kian naik. "Tidak usah takut, ayahmu tidak akan pulang malam ini" ucapnya lagi seolah Nicho takut ketahuan oleh papahnya sendiri.


"Aku sibuk, lagipula aku sudah memiliki j****g untuk menuntaskan hasratku" ledeknya lalu berlalu dari sana meninggalkan Jessica yang sedang mati Matian menahan hasratnya.


"Bahkan dia tidak bangun sedikitpun, bagaimana aku akan memperkosanya" ucapnya menertawakan sikap Jessica yang dengan percaya dirinya menggoda Nicho, apakah dia lupa jika sekarang dia sudah tidak lagi muda?.


Malam harinya Nicho dan Stev benar benar datang ke mansion Orlando kedatangan merekapun tentu di sambut hangat oleh nyonya Rita serta tuan Orlando. Mereka berbincang berbasa basi menanyakan kabar setelahnya Tuan Orlando menanyakan perkembangan bisnis di perusahaan Nicho. Setelah selesai bercengkerama mereka Nyonya Rita segera menyuruh mereka semua untuk datang ke meja makan Karna makanan sudah siap.


"Sini sayang, cepat duduk" ajak Stev pada suaminya.


"Ayo Nich kita makan bersama sudah lama kita tidak berkumpul" timpal Tuan Orlando


"Oh ya Dad, gimana lahan yang aku bicarakan?" tanya Stev pada ayahnya di tengah tengah makan malamnya.


"Daddy akan usahakan Stev" jawab Tuan Orlando mencoba menyembunyikan ketidak nyamanan nya dihadapan Nicho


"Lahan? untuk apa lahan?" tanya Nicho pura pura tidak tahu


"Lahan yang kemarin kau inginkan sayang, Daddy kenal dengan pemiliknya" jawab Stev tanpa ragu memberi tahu Nicho.


"Wah? bukankah cukup sulit bertemu dengan pemilikan, aku bangga memiliki mertua seperti anda" ucap Nicho sekaligus memuji ayah mertuanya.


"Ahh, kau bisa saja, akan Daddy usahakan Karna pemilik nya tidak berniat menjualnya"


"Bukankah Daddy bisa melakukan cara apapun?" tanya Stev yang mampu membuat suasana di sana terasa dingin


"Stev sudahlah, kita makan saja daddymu tidak suka di ganngu saat makan, ayo lanjutkan makannya Nich" ucap Nyonya Orlando mencairkan suasana.


Stev memang terlalu bodoh, seakan akan dia memberi Nicho peluang untuk mencari tahu catatan hitam ayah mertuanya agar sewaktu-waktu ia dapat menggunakannya di saat genting.


*


*


Keesokan harinya Nasya pergi ke perusahaan Moon Group, untuk menanda tangani kontrak yang ditawarkan oleh Presdir nya langsung untuk mengiklankan produk bikini yang akan mereka luncurkan.


"Terimakasih" hanya Alana yang menjawab sedangkan Nasya hanya berjalan tanpa ekspresi hanya saja tangannya terkepal dan detak jantung nya berdegup dengan kencang.


"***Pah aku datang, aku janji akan memenuhi wasiatmu. Kau ingin pundi-pundi harta yang kau kumpulkan jatuh ke tanganku bukan? aku janji akan merebutnya meski dengan cara terlarang" ucapnya dalam hati


Ting***


"Mari Nona"


Setelah diantarkan ke lantai 15 Nasya segera di sambut oleh wanita bertubuh sexy dengan pakaian yang minim


"Selamat siang Nona Nasya saya Desi sekretaris pribadi Tuan Orlando" ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Tanpa ku jawab pun aku yakin jika kamu telah mengenalku" jawabnya dingin. Desi hanya menyengir menahan malu sambil menarik kembali ukuran tangannya.


"Maaf Nona model saya sedang dalam mode badmood jadi harap dimengerti" ucap Alana mencoba meluruskan kesalah pahaman.


"Tidak apa Nona saya mengerti, mari" jawabnya lembut.


Setelah mengantarkan Nasya dan Alana ke dalam ruangan Presdir nya Desi segera kembali ke ruangannya mengerjakan pekerjaannya kembali.


"Selamat siang, silahkan duduk" ucap Tuan Orlando. "Bagaimana kabarmu Sya?" tanya Tuan Orlando pada putri tirinya.


"Aku baik baik saja" jawab Nasya sambil duduk dan mengangkat kakinya sebelah hingga menampakkan paha mulus miliknya.


"Emm, baguslah" jawab Tuan Orlando sembari menahan nafasnya. "Apakah kita bisa memulai membahas kontraknya?"


"Bisa Tuan" jawab Alana bersemangat.


"Bukankah biasanya pembahasan kontrak model tidak langsung oleh Presdir? apakah aku istimewa hingga Presdir langsung yang turun tangan?" tanya Nasya dengan gaya angkuhnya.


"Sya, berhenti berbicara yang tidak-tidak" bisik Alana. "Maaf Tuan model saya sedang badmood, anda pasti mengerti bagaimana wanita saat datang bulan bukan?" tanya Alana sambil tertawa canggung


"Tidak apa-apa, lagipula dia putriku jadi bagi saya tidak masalah sedikitpun" jawab Tuan Orlando dengan mata yang masih fokus pada paha mulus milik Nasya.


Setelah menyetujui kontrak Nasya dan Alana segera beranjak dari duduknya untuk pergi dari sana.


"Bisakah kita mengobrol dulu sya?" tanya Tuan Orlando lembut.


"Bisa" jawab Nasya tanpa ragu hingga membuat Alana terbengong-bengong akan perubahan sikap Nasya yang akhir akhir ini tidak bisa ditebak. "Kau bisa keluar terlebih dahulu"


"Oke, gue tunggu di loby" jawab Alana


Setelah Alana pergi Tuan Orlando segera mengunci pintunya dengan remote di saku celananya.


"Ada apa?" tanya Nasya to the point


"Duduklah" ajak Tuan Orlando dengan menarik pinggang Nasya agar duduk dipangkuan nya.


"Aku bukan wanita gratisan yang bisa duduk di sembarang pangkuan" ucap Nasya dengan sombongnya.


"Berapa yang kamu mau?" tanya Tuan Orlando dengan mata yang tidak berhenti menelusuri tubuh sexy milik Nasya.


"Berapa yang kamu punya?" tanya Nasya.


"Tidak bisa dihitung dengan tangan" jawabnya sambil mengusap paha Nasya yang memakai rok span terbelah hingga paha.


"Bahkan hanya memegangnya saja tidak gratis" ucap Nasya.


"Kenapa?" tanya Tuan Orlando


"Aku masih virgin" bisik Nasya sambil m*njil*t leher yang mulai keriput milik Tuan Orlando, membuat nafsu tuan Orlando bangun.


"Berapapun bayarannya, aku akan membayar mu" ucap Tuan Orlando dengan mata yang penuh nafsu.


"Aku sibuk, kirim bayaranmu Ke rekening tadi" ucapnya lalu berbalik, tapi sedetik kemudian Tuan Orlando menarik pinggang ramping milik Nasya hingga terjatuh ke pangkuannya.


"Lakukan sekarang, aku bahkan rela kehilangan aset ku asalkan kau mau" tawarnya sambil tangannya m*r*m*s buah yang di klaim milik Nicho.


"100 juta mengusap paha 1 miliar meremas" ucap Nasya dingin.


"Bagaimana dengan ciuman?" tanya Tuan Orlando lagi


"5 miliar " jawab Nasya sambil mengacungkan lima jarinya.


"Aku akan mengirimu 6 miliar jika kau menciumku" ucap Tuan Orlando sambil menunjukkan handphone yang sedang mentransfer pada rekening milik Nasya.


"Sudah, sekarang lakukanlah" titahnya, lalu tanpa ragu Nasya mencium bibir tebal milik Tuan Orlando bahkan dia menggigit bibir bawahnya agar meninggalkan bekas. Bahkan tangannya tidak tinggal diam bergerilya ke sana kemari agar meninggalkan kesan liar.


"Dasar tua Bangka tidak tau diri, bahkan cungurmu sungguh bau terasi"umpat Nasya dalam hati tanpa mengehentikan aksinya