My Secret Bride

My Secret Bride
Bab22



"Stev, bagaimana lahan yang kita bicarakan sedari dulu? apa sudah ada penjualnya?" tanya Nicho lembut.


"Nich, sebenarnya kamu tuh maunya gimana sih? apa gak bisa kamu tunda dulu ambisi kamu? hah?" tanya Stev heran pada pria yang ada di sampingnya.


"Emang kamu maunya gimana?" tanya Nicho yang tiba-tiba dingin.


"Apa kamu gak denger ucapan Papah? dia mau aku ngandung benih kamu, tapi sampai sekarang kamu gak pernah nyentuh aku lebih dari make out!" bentak Stev Karna dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa marah yang sedari awal ditahannya. "Apa kamu pikir aku bodoh? kau sengaja bukan menikahi ku hanya untuk mengambil harta j****g itu?"


Kini rencana Nicho terbongkar dia gagal untuk mengambil harta milik wanitanya, tapi sedikitpun Nicho tidak kaget sama sekali dia biasa saja seakan akan dia telah menghitung saat saat seperti ini akan tiba.


"Jika kau tau aku manfaatkan, lalu kenapa kau tak pergi dari kehidupanku apa harta jauh lebih berharga dibanding harga diri?" tanya Nicho mengejek.


"Bukannya harga diri kita sama sama lebih rendah dari harta?" tanya balik Stev dia tak berniat kalah dari mulut pedas milik Nicho.


"Bukankah kau tau jika tujuan ku tidak hanya itu? harga diri j****g sepertimu tak pantas dibandingkan dengan harga diri mewah milikku"


Stev diam dia tak bisa berkata kata lagi, ucapan Nicho benar adanya. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya guna menahan emosi yang saat ini sedang meluap.


"Kau tak bisa bicara? syukur jika kau sudah tau tujuanku jadi aku tidak perlu lagi untuk berpura pura mencintaimu" ucapnya lalu berlalu masuk ke kamar mandi.


Sebenarnya Nicho kecewa, rencananya gagal total entah harus apalagi yang ia lakukan untuk membuktikan pada Nasya jika dirinya ada alasan tertentu menikahi Stev. Ia masuk ke dalam bathtub yang sudah diisi air bercampur aromaterapi, ia ingin sedikit berendam untuk menghilangkan rasa penat yang sedang melandanya.


"I'm sorry Sya, rencanaku gagal!" lirihnya dengan mata terpejam menikmati aroma sedap yang menguar dari dalam bathtub.


Selesai mandi Nicho segera tidur berbaring di ranjang tanpa memedulikan Stev yang sudah tanpa pakaian guna menggodanya, jika biasanya dia akan tergoda tapi kali ini tidak pikirannya hanya dipenuhi oleh Nasya Nasya dan Nasya.


"Cihh,, Sialann!" umpat Stev lalu bangkit dan mengambil benda panjang yang menyerupai pusaka pria yang biasa ia gunakan untuk membantunya melepaskan hasrat yang terpendamnya. Bisa saja Stev keluar dan mencari kehangatan dari orang, tapi waktunya tidak tepat dia tidak punya alasan untuk keluar rumah malam malam apalagi tanpa di dampingi suami, maklum di rumah mertua benar saja bisa jadi salah.


Sebenarnya Nicho tidak tidur sama sekali ia sengaja berbaring membelakangi Stev untuk membuat Stev jera dengan aksinya sendiri, tubuhnya terlalu lelah untuk ber akting ataupun berdebat ia memilih diam berbaring mencoba untuk tidur meskipun suara laknat Stev yang sedang di gagahi oleh benda konyol itu terus terusan terdengar ditelinga nya.


Sedangkan di sebuah kamar dua orang manusia sedang mendengarkan percakapan melalu radio penyadap.


"Apa kau benar-benar melakukannya dengan pria tua Bangka itu sya?" tanya Alana pada Nasya yang saat ini sedang fokus mendengarkan suara yang seharusnya tidak mereka dengarkan.


"Fokus mendengar apa yang mereka ucapkan, bukan suara laknatnya j****g" ucap Nasya sebal


"Okey, okey"jawab Alana malas berdebat "Kau terlalu pintar Sya, membayar j****g yang di sewa papah tirimu untuk menanyakan aset aset milikmu" ucap Alana tidak habis pikir dengan jalan pikir Nasya.


"Diamlah, aku tak pernah memiliki papah tiri" jawab Nasya kesal.


"***honney berapa kekayaan yang kau punya?ahhh...ahhh"


"Kenapa? apa kau takut aku tak membayarmu?" tanya baik Tuan Orlando dengan suara parau.


"No, hanya saja setiap malam kau menyewa wanita high class untuk menemani malam malam mu, apakah istrimu tidak tau?"


"Apa kau tak takut dia melaporkan mu pada kepolisian karena aksi perselingkuhan mu***?"


"***Dia mana berani" (sambil terkekeh di ujung sana)


"Kenapa tidak berani"


"Dia seorang pembunuh,"


"What pembunuh? jika memang pembunuh apa kau tidak lebih takut?"


"Untuk apa? dia hanya mencintai ku, dia melakukan pembunuhan hanya demi aku ba,,,,by,, ahhh.........


ahhhhhh ahhhh ahhhh ahhhh


"Ke,,,na,,pa harus dibb,,,bunuhh?"


"Dia ingin memberiku harta,"


"Lalu sekarang kau memiliki harta itu?"


"Yes"


"Dimana?"


"Kenapa kau terus terusan bertanya?"


"Tidak honey....


"Naiklah ke atas sekarang bagian mu menungggang" plakk plakk plakkk


"Awsss sakittt,, kau selalu menampar pantatku,, ahhhhhh ahhhhh,,,, mmmmm,,,,shhhh


"Aku harap kamu menyimpan hartamu di pengacar,,,ra shhhh,,, ahhhhh----


"Aku menyimpannya di brankas baby"


"Apa mereka tidak tau brankas mu?"


"Mereka tau hanya saja aku menggunakan kata sandi putri tiriku yang terlihat menggoda meski usianya masih balita,,,,,, faster baby------ plakk _-----plak***


"Oh jadi di brankas kau menyimpan semuanya?" ucap Nasya sambil melepaskan earphone di telinganya.


"Gue harap rencana loh berhasil,,,," suppor Alana.