My Secret Bride

My Secret Bride
Bab24



Melihat wanita yang kita cintai tertidur di ranjang yang sama dengan pria lain tanpa mengenakan pakaian sehelai benangpun bagaimanakah kita menetralkan emosi kita saat ini? bisakah kita bernegosiasi dengan keadaan? memang benar tidak semua kesalahannya, tapi apakah harus dia memberikan mahkotanya pada pria yang bukan suaminya?.


Wanita yang ku anggap suci ternyata lebih hina dari wanita yang selalu aku rendahkan. Ternyata benar Karma itu ada, dulu aku selalu menjelajahi lembah lembah milik orang lain, dan saat ini sebaliknya lembah yang ku klaim milikku ternyata telah di jelajahi oleh orang lain.


ckittttttt


Nicho memarkirkan mobilnya dengan asal di halaman rumahnya, lalu menarik kerah baju Nasya dan menyeretnya keluar dari mobil. Bahkan dia tidak peduli orang yang saat ini di seretnya sedang tak sadarkan diri akibat kecepatan mobil yang di kendarainya sedari tadi.


******Brughh****** Brughh Brughh


Nicho menyeret Nasya melewati tangga tanpa berperasaan bahkan dia tidak melirik ke arah Nasya sedikitpun yang saat ini sudah mulai sadar bahkan sesekali meringis Karna tubuhnya yang di seret paksa di tangga.


"Stttt...."desis Nasya mencoba menahan rasa sakit di leher dan dengkulnya.


Brughh


Lalu Nicho membanting tubuh lunglai Nasya ke dalam bathtub, bahkan dia dengan sengaja menghidupkan kran air panas ke dalam bathtub.


"Arghhhhhhh..... pa..nas.." jerit Nasya dengan suara yang terpotong potong dan berusaha beranjak bangun dari bathtub.


"Diamlah j****g!!" bentak Nicho sambil mendorong tubuh Nasya agar duduk kembali di dalam bathtub.


Nasya yang tenaganya masih lemas hanya bisa menangis menahan rasa perih dan panas di sekujur tubuhnya. Dia mencoba diam saat di rasa kulitnya sudah mulai terkelupas.


Nicho yang di kuasai oleh amarah tidak merasa iba sedikitpun pada kondisi Nasya saat ini yang masih mencoba untuk beranjak dari bathtub yang berisikan air panas. Sampai akhirnya tubuh Nasya jatuh lunglai ke dalam bathtub.


Nicho pikir Nasya hanya berakting saja saat wajah dan tubuhnya tenggelam di dalam bathtub, tapi sudah sekitar sepuluh menit lamanya Nasya tidak keluar dari dalam air. Ada sedikit rasa khawatir namun lebih dominan rasa puas saat melihat wanita yang telah mengkhianatinya kesakitan.


Karna takut Nasya mati sebelum dia puas menyiksanya segera menarik tubuh Nasya keluar dari bathtub dan membantingnya ke dekat wastafel.


Brugh


Nasya tidak bergeming sedikitpun saat Nicho dengan keras membantingnya ke dinding ia tetap memejamkan matanya bahkan tubuhnya tidak breaksi sedikitpun.


"Bangun Sialan!!" teriak Nicho sambil menggoyang goyangkan tubuh Nasya dengan kakinya.


"Dasar J****g!!! ku suruh bangun maka bangunlah!!" teriaknya tepat di samping Nasya. "Kau ingin aku menyeretmu lagi? baiklah jika itu keinginanmu"


Nicho kembali menyeret tubuh ringkih milik Nasya dan membantingnya ke atas ranjang.


"Bahkan bekas kissmark nya tidak hilang meski sudah ku rendam di air panas" ucapnya sambil menggosok gosok tanda kissmark di sekitar leher dan buah dadanya hingga kulitnya yang memerah akibat air panas melecet.


"Awhhhh" ringis Nasya dengan air mata yang jatuh dari ujung pelupuk matanya.


"Apa kau ingin aku menyentuh buah dada mu hingga rela pura pura pingsan?" ejek Nicho tepat dihadapan wajah Nasya yang sudah tak terbentuk. "Kau memang j****g!!" ucapnya lalu meludahi wajah Nasya.


Nasya hanya bisa menangis dalam diam dengan tangan yang terkepal. Tubuhnya tidak bisa di gerakan Karna tenaganya sudah habis sedari tadi.


*


*


*


"Belum puaskah?" tanya Nasya dengan suara yang pelan bahkan hampir tak terdengar.


"Tentu saja belum, ini baru permulaan dari neraka yang aku ciptakan untuk mu" jawab Nicho lalu beranjak dari aksinya yang sedari tadi menggosok tubuh Nasya hingga berdarah.


"Aku pikir jejaknya sudah hilang" ucapnya sambil membersihkan tangannya dengan tissue.


"Lihatlah wajahmu saat ini? benar benar seperti iblis terkutuk bukan?" hinanya sambil memperlihatkan wajah Nasya melalui kamera handphone nya.


"Dengarkan aku baik baik j****g! sampai kapanpun aku tidak akan pernah puas untuk membalas pengkhianatan yang kau lakukan padaku!" ucapnya sambil membentak dengan suara bass-nya yang tinggi.


"hehh" Nasya hanya tersenyum remeh menanggapi ucapan Nicho yang menurutnya tidak masuk akal.


"Kenyataannya aku tidak pernah mengkhianati siapapun" ucapnya dengan mata yang terpejam. "Emang kita memiliki status apa hingga kau menyebutku mengkhianatimu?" tanya Nasya dengan ekspresi meledek.


"Sepasang kekasih kah?" tanya Nasya lagi. "Apakah masih bisa dibilang hubungan jika salah satu dari anggota memeluk orang lain? bagiku saat kau memutuskan menikah dari situlah hubungan kita berakhir" ucapnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Nicho yang sudah mengepalkan tangannya dengan erat.


"Aku tidak pernah memutuskan hubungan ini!" bentak Nicho "Dan kau! tidak bisa memutuskan sebelah pihak hubungan kita!!!"


Cihhhh


Nasya hanya berdecih ilfil mendengar penuturan Nicho seolah olah dia adalah hakim di dalam hubungan ini.


"hahahhahah.....apakah aku perlu membuat akta putus untuk mengakhiri hubungan kita?" tanya Nasya tanpa mengehentikan tawanya. "Jika kau menyuruhku untuk tidak memutuskan sebelah pihak maka aku akan menyuruhmu untuk jangan berharap sebelah pihak"


Plakkkk


Nicho menampar pipi lecet milik Nasya dengan keras dia tidak suka jika Nasya berbicara omong kosong menurutnya. Tapi kenyataannya memang benar hanya saja dia terlalu egois untuk menyatakan kekalahan dan kesalahannya.


Sedangkan Nasya sebisa mungkin menahan air matanya yang sudah menggenang di ujung Matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah oleh monster yang ada di hadapannya.


"Jangan pernah berpikir aku akan berbaik hati sedikitpun, jadi tidak usah melunjak!" peringatannya sambil menunjuk nunjuk kening Nasya dengan jari telunjuknya. "Posisimu sekarang lebih hina dari debu yang dengan lancangnya mengganggu oksigen ku"


Setelah mengatakan demikian Nicho segera pergi dari sana, lama lama tinggal dengan Nasya ia takut akan membuat Nasya terbunuh sebelum dendamnya terpuaskan.


Ia segera menyuruh kepala pelayan untuk memberikan Nasya makanan, sedangkan dia langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Bar yang dulu sering dia kunjungi dengan Maxim dan Bastian.


Tok tok tok


Seorang wanita paruh baya masuk ke kamar Nasya dengan mendorong troli berisi makanan dan minuman, dia pun membantu Nasya untuk duduk agar lebih mudah menyantap makanan nya.


"Apa kau tidak nyaman dengan tubuhku? jika kau merasa jijik pergilah!" ucap Nasya penuh emosi, dia hanya ingin melampiaskan kesedihan nya atas segala perlakuan Nicho terhadapnya.


"Tidak Nona hanya saja saya cukup prihatin dengan kondisi Nona saat ini" jawab kepala pelayan iba saat melihat seluruh tubuh Nasya yang tidak tertutupi oleh apapun terpampang jelas di hadapannya.


Prang


Nasya melempar gelas yang ada di hadapannya. Dia tidak suka jika seseorang memprihatinkan nya, dia merasa terhina jika seseorang mengiba akan keadaannya saat ini. Meskipun kondisinya yang bisa dibilang lemah tapi Nasya tetap tidak ingin di tatap iba oleh orang lain.


"Keluar!!!!" teriak Nasya membentak "Prihatin kan lah orang lain yang tinggal di jalanan tanpa memperihatinkan aku sialan!!! dan rubah tatapan iba mu itu" titahnya sambil menunjuk mata kepala pelayan dengan garpu di tangannya.