
Profesional itu susah, memisahkan masalah pribadi dalam pekerjaan nyatanya tidak semudah yang orang orang katakan.
"Rubah wajahmu Max, aku muak melihat wajahmu yang di tekuk" ucap Nicho sambil mencoret-coret berkas di hadapannya tanpa melihat lawan bicaranya.
"Berhentilah menyiksa Nasya atau kau akan menyesal nantinya" ucap Maxim memperingatkan.
"Itu urusanku, berhenti mengurusi rumah tanggaku urusi saja hidupmu Max,"
"Angkat telepon Bastian, bagaimanapun juga Bastian adalah figur kakak bagi Nasya" terang Maxim lalu keluar dari ruangan Nicho.
Nicho hanya menghela nafasnya dengan kasar, memang salah jika dia menikahi Nasya tanpa seizin Bastian bahkan Nasya pun terpaksa menerima pernikahan ini. Dia juga salah jika memang membenci Nasya kenapa dia tak membuangnya malah menggenggamnya di dalam duri yang dia ciptakan.
Drttt drttt drttt
Lamunannya buyar saat hp nya berdering tanpa henti. Setelah dilihat jika yang meneleponnya adalah Bi Inah Nicho segera mengangkat telponnya dengan cepat.
"Ada apa bi?" tanya Nicho sambil melonggarkan dasinya.
"Nona mengamuk lagi Tuan, ia ingin meminjam hp pegawai Tuan bahkan Nona sampai berteriak teriak bak kerasukan".
"Untuk apa dia membutuhkan hp?" tanya Nicho lagi.
"Nona ingin memesan kosmetik di aplikasi Tuan, apa saya berikan saja hpnya tuan?" tanya Bi Inah hati hati
"Tidak usah, biarkan saja dia mengamuk sepuasnya, tapi jangan sampai dia melukai dirinya sendiri"
Tut
Nicho mengakhiri telepon nya sepihak tanpa mendengarkan jawaban dari Bi Inah, dengan segera dia menekan no salon yang biasa kunjungi agar mengirimkan paket kosmetik yang biasa Nasya pakai.
"Sayang,,," panggil Stev di ambang pintu dengan senyuman melebar.
"Ada apa kau kemari?" tanya Nicho dengan tangan yang dilipat di dada.
"Aku merindukanmu" jawabnya sambil memeluk tubuh tegap milik Nicho.
"Katakanlah berapa yang kamu mau? aku akan mengirimnya sekarang juga, tidak usah bertele tele dengan hal hal tak masuk akal" ucapnya dingin.
"Aku memang merindukan mu Nich, bukan uang mu tapi goyangan mu Honey" godanya dengan tangan yang tidak di kondisikan.
Cihhhh
Nicho hanya berdecih jijik melihat tingkah j****g Stev.
"Jangan melunjak hanya Karna kejadian semalam" ucap Nicho tepat di samping telinga sambil mendorong tubuh Stev dan beranjak dari kursi kebesarannya.
"Cepat keluar, aku sedang sibuk" titahnya dengan pintu yang dibuka lebar, Stev hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Kau ingin aku mengumbar Foto syur Nasya?" ancam Stev sambil menguarkan ponselnya.
"Umbar lah, aku tidak peduli" jawab Nicho dingin.
"Apa kau tak akan marah Nich?" tanya Stev lagi dengan gaya meremehkan.
"Untuk apa marah? aku yakin jika Foto itu tersebar bukan aku yang membuatmu Mati!" ucap Nicho dengan tertawa jahat. "Akan banyak pria kuat yang akan menghancurkan mu dalam waktu satu jam, dan akupun tidak perlu mengotori tanganku hanya untuk melenyapkan j****g kecil sepertimu"
"Kau-----" ucap Stev sambil menunjuk Nicho namun ucapannya terhenti saat seseorang datang dan menyela ucapannya.
"Berani mengumbarnya akan aku beri tahu, bagaimana nikmatnya tinggal di neraka ciptaan Kaka angkat Nasya" ucap Maxim dengan aura membunuhnya.
"Yah kau tidak akan takut, Karna tidak ada lagi foto yang akan kau sebar" ucap Maxim tersenyum iblis.
"Kau tidak percaya? aku akan memperlihatkan fotonya------- ucapannya mengambang saat mengetahui di ponselnya tidak ada foto tersebut------- mengapa Fotonya tidak ada? barusan masih ada" lirih Stev dengan raut wajah bingung.
"Hahahaha" Maxim tertawa iblis menertawakan aksi bodoh Stev. "Apa lagi yang akan kau buat ancaman pembohong?"
"Aku tidak berbohong, aku sempat memotret Nasya saat tidur dengan Papah" tutur Stev.
"Pergilah, aku lebih suka j****g di banding pembohong!" ucap Nicho dingin
"Nich, aku tidak berboh------
"Pergilah!!!!! atau kau ingin aku seret sampai bawah?" teriak Nicho dengan suara bass-nya.
Stev memilih pergi ketimbang terkena amukan suaminya. Ia tahu betul saat ini Nicho benar benar marah, entah Karna apa Stev pun tidak tahu.
"Kau apakan hp Stev?" tanya Nicho masih dingin pada Maxim.
"Aku tidak melakukan apapun, dia mungkin berbohong dengan adanya foto syur Nasya" jawab Maxim santai.
"Aku tidak bodoh, aku tahu betul Stev memiliki Foto itu sialan!" bentak Nicho kesal.
"Sudahlah, mungkin dia lupa jika dia sudah menghapusnya" ucap Maxim menghindari pertanyaan Nicho.
"Aku tidak suka kau mempermainkan aku Max!" bentak Nicho penuh amarah sampai sampai dia mencekik leher Maxim dengan kencang.
"Hahahahahaha" Maxim tertawa sumbang sambil menghembuskan tangan Nicho. "Tidak usah ambil hati jika sama sama pemain, kau permainkan Nasya maka orang lain akan mempermainkan mu sesuai ulah mu"
"Seperti perkataan mu tadi banyak pria kuat yang memihak Nasya, jadi jangan coba coba menyakiti Nasya, Karna mereka akan tau apa yang kau lakukan pada Nasya" ucap Maxim mengancam. "Ada pertemuan di restoran xx1w sekarang juga"
Sedangkan di rumah Nasya sedang membabi buta melempar kan seluruh barang antik yang di sukai Nicho. Dia menghancurkan rumah yang tadinya rapi menjadi kapal pecah, dia tidak hanya ingin kosmetik dia bisa gila jika terus terusan di kurung di sini tanpa ada ponsel untuk menemani kegabutannya.
"Telpon lagi dia!!! aku ingin ponsel sialan!!!! aku butuh ponsel sekarang juga!!!" teriak Nasya menggila, bahkan rambutnya saja sudah acak acakan jika ada orang lain yang melihat Nasya mungkin mereka akan mengira jika dia adalah Monster yang menakutkan. Kulitnya yang mulai menghitam Karna lecetnya mulai kering, rambut acak acakan, bahkan dia hanya memakai piyama tali seperti biasanya.
Ting tong
"Paket!!!" teriak orang diluar sana hingga mengehentikan aksi gila Nasya.
"Nona harap tunggu di sini" ucap para pengawal menahan Nasya yang akan berlari keluar.
"Aku ingin melihat siapa yang datang sialan!!" bentak Nasya.
Tapi pengawal tetaplah pengawal dia menulikan pendengaran nya meski Nasya terus terusan berteriak di sampingnya.
"Nona ini kiriman dari Tuan untuk anda" ucap Bi Inah sambil memberikan beberapa kardus paket bahkan pelayan yang lain pun ikut membawa kardus paket.
"Bawa ke kamar, bersihkan dulu kamarku" ucap Nasya setelah berpikir agak lama, dengan suara seraknya.
"Jika kau menyiksa Fisik dan mentalku, maka aku akan menyiksa nafsumu Dude" lirih Nasya dengan tersenyum iblis yang menakutkan.
Mungkin dengan cara memberontak tidak akan membuat Nicho bersimpati sedikitpun, faktanya sudah seminggu lamanya Nasya memberontak sifat Nicho malah lebih keji dari sebelumnya. Mungkin cara ini yang harus dipakai nya meluluhkan Nicho kembali.
"Aku hanya ingin memastikan jika kamu masih mencintaiku, jika kamu sudah tak mencintaiku untuk apa aku memberitahumu semua kejadian ini,"
Percayalah jika dua hati sudah tidak sejalan lagi, untuk apa kita memberitahu apa yang terjadi. Jika kita ingin menyelesaikan masalah carilah celah dan kelemahannya, dari situlah kita harus pandai mencari waktu yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati, bukan hanya sekedar bibir yang bicara dan otak yang mencari cara. Kita juga butuh hati untuk menenangkan pikiran yang dipenuhi amarah yang membara.