
Pagi harinya Nasya sudah membangunkan Nicho dengan berbagai cara, namun sang empunya entah mengapa padahal Nasya yakin jika Nicho tidak tertidur kembali, namun nyatanya Nicho tetap tidak bangun dia memilih menulikan pendengarannya dari pada bangun dari ranjangnya.
"Hey, Suami! cepat bangun" teriak Nasya sambil memukuli tubuh Nicho dan menarik narik selimut yang dikenakannya.
"Apa kau tidak berniat pergi ke kantor mu hah?!" teriak Nasya frustasi.
"Sebentar lagi, aku masih mengantuk baby" pintanya pada Nasya.
"Alasan! cepat bangun, atau aku yang pergi ke perusahaan Moon Group" ancam Nasya
"Kenapa harus Moon Group?" tanya Nicho spontan bangun dari ranjang nya. "Aku punya Vernandes corp, kenapa kau memilih ke sana? hah?"
"Cepat mandi, aku akan menata makanan dulu di bawah" ucap Nasya lalu berlalu, tapi Nicho tidak tinggal diam dia mencekal lengan Nasya dan menariknya hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Mandikan aku" ucapnya lirih, lalu menggendong Nasya ke kamar mandi.
"Turunkan aku Nich, aku harus membantu Bi Inah" teriak Nasya meronta.
"Masih banyak pelayan yang lain, jadi tidak usah banyak alasan, dan berhenti memanggilku Nich, sekarang aku suamimu bukan hanya sekedar kekasih mu saja" ucapnya lalu menurunkan Nasya ke bathtub tapi Nasya berjinjit memeluk leher Nicho dan melipat kakinya ke pinggang Nicho hingga tidak jadi masuk bathtub.
"Aku sudah mandi," ucap Nasya manja dengan puppy eyes nya, "Jadi mandilah sendiri"
"Mandi bersama itu sunah Sya," protes Nicho lalu masuk dan mendudukkan tubuhnya di bathtub dengan tubuh Nasya.
"Tapi aku udah mandi Nich," ucap Nasya menggigil kedinginan.l
"Mandi dua kali tidak masalah, sepertinya ketiakmu sudah bau Karna memasak tadi, hm?" ucapnya sambil mengendus ngendus ketiak Nasya hingga Nasya kegeliannya.
"Cepatlah darah haid ku jadi memenuhi bak, apa kau tidak jijik? lihat Bathtub nya penuh darah kotor" ucap Nasya kesal lalu beranjak keluar bathtub
"Aku tidak jijik, jadi ayo mandi bersama" pinta Nicho menahan lengan Nasya.
"Jorok!" bentak Nasya lalu membuka seluruh pakaiannya di hadapan Nicho tanpa malu, dia pun segera membersihkan tubuhnya di shower yang ada di sana.
"Jangan langsung di buang" pekik Nasya saat Nicho mengangkat pembalut bekasnya ke tempat sampah,
"Kenapa emang? mau di pake lagi?" tanya Nicho heran.
"Pamali, kalo darah haidnya gak di bersihin dulu" ketus Nasya sambil merebut pembalut di tangan Nicho.
"Oh gitu," ucap Nicho lalu diam mematung melihat Nasya yang sedang menggosok gosok tubuhnya.
Grep
Nicho memeluk Nasya dari belakang lalu membantunya menggosok gosok punggung Nasya dengan satu tangan Namun tangan lainnya malah menggosok area lain.
"Nich, aku lagi haid loh? enggak boleh di gosok ini nya" ucap Nasya menahan jari jari Nicho yang sedang memberi gesekan pada va*Gina miliknya bahkan Nicho hampir memasukkan satu jarinya ke dalam.
"Emang kenapa? aku gak kuat kalo harus nahan lagi" ucap Nicho lirih sambil menggesekkan miliknya yang sudah bangun ke bokong Nasya.
"Kata ustadz tuh gak boleh, kamu tau gak? wanita haid emang masih bisa di jamah, hanya saja kamu tidak bisa menjamah antara pusar dan lutut" jelas Nasya menangkup gemas pipi Nicho.
"Kok bisa kenapa emang?" lagi lagi Nicho heran dengan kepribadian Nasya yang berbeda dari sebelumnya.
"Kamu tau gak dad? haid tuh sebenarnya sakit, kita harus ngeluarin darah kotor yang banyak lewat saluran yang pria sukai, kamu juga harus tau sakit tau apalagi kalo harus ngelayanin suami di saat haid, gak kebayang lagi nahan sakit Karna ngeluarin darah banyak harus kemasukkan milikmu yang Segede gaban" jelas Nasya dengan tertawaan.
"Lalu, jika kamu terlalu sakit aku akan memakai satu jariku saja, biar kamu nggak nyari kehangatan di luar sana, aku juga belum ngasih kamu nafkah batin" ucap Nicho dengan tatapan instens
"No dad, itu juga masih sakit, menurut dokter masukin tangan ke v*agina tuh berbahaya, aku udah insyaf dad, aku enggak mungkin main serong di belakang suamiku, jadi bersabarlah haid ku tidak lama, paling hanya seminggu, Minggu depan saat giliranmu menemaniku, biasanya aku sudah suci, Karna haid ku sedah selesai"
"Ahh, geli dad" saat Nicho me*remas simalakama bergoyang miliknya dari belakang,
"Kau bilang ini boleh bukan?" tanyanya membalikkan tubuh Nasya lalu menahannya di dinding, Nicho juga tidak diam mengecupi leher Nasya dengan bringas.
"Dad, jangan basahi rambut ku" teriak Nasya pada Nicho yang mengajaknya berciuman di bawah shower.
"Why?"
"Rambut wanita haid tuh punya hadats besar jadi aku tidak bisa keramas"
"Kenapa? jelaskan padaku"
"Nanti saja, minggir dulu aku akan membersihkan tubuh" ucap Nasya ketus lalu mendorong tubuh Nicho ke sampingnya, Nicho hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya yang seperti singa dia memilih membersihkan darah sang istri dari pembalut bekas.
"Thank you mmwahhhh" ucap Nasya saat Nicho selesai membersihkan pembalutnya sambil mencium pipi Nicho penuh cinta. "Aku duluan, mandinya cepat gak usah lama-lama kayak anak perawan"
Nicho tersenyum melihat tingkah Nasya yang menggemaskan menurutnya, ternyata romantis tidak harus tentang erotis, rasanya mengobrol sambil bercanda seperti tadi membuat pikiran nya sangat fresh.
Setelah rapi, Nicho turun ke lantai bawah dia segera mencium pipi sang istri yang sedang membantu Bi Inah di sana.
"Good morning," sapa Nicho pada istrinya
"morning dad" jawab Nasya lalu menarik satu kursi untuk suaminya. "Duduklah"
"Kau banyak berubah akhir akhir ini?" tanya Nicho, lalu duduk namun tangannya memegang telapak tangan Nasya untuk di kecupi olehnya
"Aku ingin sedikit menebus dosa dosa ku yang kemarin," ucap Nasya dengan bibir tersenyum
"Mmmm, begitu, tapi kamu tidak usah menarik kan kursi untukku, aku juga tidak mau jika kamu terus terusan membantu para pelayan di sini untuk apa ada mereka jika kamu tetap harus bekerja" tanya Nicho beruntun menarik istrinya agar duduk di pangkuan nya.
"Aku hanya ingin belajar berbakti padamu dad, kamu tau? papah ku selalu mengharapkan istrinya menarik kan kursi untuknya menyiapkan makan untuknya dan segalanya, bukan berarti tidak ada pelayan, dan bukan berarti itu kewajiban seorang istri, hanya saja papah ingin dihargai, dan papah juga di hormati bagaimana papah menghormati istrinya" ungkap Nasya dengan mata kerinduan.
"Jadi kau melayaniku seperti yang di inginkan ayahmu?" tanya Nicho mengangkat sebelah alisnya
"Yes, Karna aku berharap dengan hal kecil ini nama ku tidak pernah menghilang di sini" ucap Nasya menunjuk hati Nicho.
"Tanpa melakukan ini pun namamu tidak akan pernah hilang" ucap Nicho sambil mendekap erat tubuh Nasya.
"Tidak selamanya akan begitu Dad, waktu aja berputar masa perasaan gitu gitu aja?"
"Terus kamu maunya gimana? aku tau kamu takut aku mencintai stev bukan?" tanya Nicho menggoda Nasya.
"Aku tidak takut, meskipun takut tapi itu konsekuensi aku yang jadi istri ke dua, aku tau kamu lelah, obat lelah suami bukankah senyuman dan ke ikhlasan seorang istri?" tanya Nasya.
"Kau banyak belajar baby" ucap Nicho lalu menyuapi Nasya dengan pancake di piring, lalu setelahnya baru Nicho memakan bekas gigitan Nasya. "Bukankah saling menyuapi juga sunat?" tanya Nicho
"Hmm" jawab Nasya mengangguk.
"Baiklah mulai hari ini, jika aku di rumah makan di pangkuan ku tidak boleh menggunakan tanganmu untuk memakan makanan dan kita akan makan satu piring bersama deal?" ajak Nicho
"Tapi aku harus menyuapi mu bukan?"
"Tidak usah, lagipula kamu sudah menarik kan kursi untukku, menata makanan untukku itu semua lebih dari cukup, jadi ayo buka mulutmu yang besar, aaaaaa"
Mereka pun tertawa bahagia di sela sela makannya.
Kunci langgeng tuh tidak harus tentang s*ex, terkadang obrolan kecil dan tindakan kecil juga mampu menguatkan tali rumah tangga kita agar langgeng, belajarlah menerapkan sunah sunah yang di ajarkan agama, agar terhindar dari perceraian yang mengorbankan masa depan anak-anak