
Maxim dan Bastian masih mencari keberadaan Tuan Vernandes yang berhasil lolos dari markas mereka, entah kemana Tuan Vernandes bisa menghilang dalam hitungan jam.
"Tidak becus!" umpat Nicho saat sampai di markas mereka dan mengetahui kabar menghilangnya Tuan Vernandes, Nicho menendang pintu dan melempar asal barang barang yang ada di sana.
"Mengapa kalian diam? cepat! cari si kep*arat itu sampai ketemu, jika tidak aku tidak segan untuk menggantikan nyawa si kep*arat dengan kalian" ancam Nicho kepada anggota Tim Floyd yang di kendalikan oleh Bastian, Nicho melempar gelas wine yang dipegangnya pada alah satu bodyguard yang ada di sana.
"Nich, Tim ku sedang membawa Vernandes kemari, jadi jangan sia sia Kan tenaga mu dengan hal yang tidak penting" ucap Bastian setelah mendapatkan telepon dari salah satu kepercayaannya.
"Apa yang akan kamu berikan pada istrimu Nich?" tanya Maxim saat melihat deru nafas Nicho stabil menandakan emosinya sudah mereda.
"Aku akan mengambil putraku sekarang" jawab Nicho dingin dengan tatapan lurus ke depan.
"Maksudmu?" tanya Bastian dibuat bingung dengan jawaban yang Nicho lontarkan.
"Bukankah bayiku sudah kuat jika di keluarkan sekarang?" tanya balik Nicho.
"Entahlah, coba nanti kita tanya dulu pada dokter di sana" jawab Maxim menjawab pertanyaan Nicho yang menurutnya tidak masuk akal.
Nicho keluar dari ruangan Bastian menuju ke sebuah ruangan yang letaknya di bawah bangunan megah yang kini diinjaknya, jalan menuju tempat yang ditujunya harus melewati terowongan karena tempat ini adalah ruang rahasia milik Bastian.
"Apa kamu akan menjenguk Stev Nich?" tanya Bastian yang sedari tadi mengikuti langkah Nicho bersama Maxim dan 4 orang lainnya.
"Yah, aku ingin melihat kondisi bayi ku, apa dia baik baik saja di dalam rahim seorang monster, jika tidak maka sekarang aku akan membantunya keluar" ucap Nicho membuat bulu kuduk yang mendengarnya meremang, tapi bagi yang sudah tau siapa Nicho dan bagaimana sisi gelapnya mereka tidak lagi takut, itu adalah hal biasa yang mereka lihat jika seseorang mengusik kehidupan Nicho dengan kesalahan yang tak termaafkan.
Brak
"Aku memborgol mu pun, sepertinya sedang khilaf" jawab Nicho mendekati Stev, dan mengelus perut buncit milik Stev.
"Aku sedang mengandung putramu apa kamu tidak kasihan?" tanya Stev mencoba mencari cara agar Nicho mau melepaskannya.
"Nasya pun sedang mengandung putramu, dia adikmu tapi dengan kejinya kamu menyiksanya" ucap Nicho dingin, dengan entengnya, dia menyingkap baju Stev dan menciumi putranya dengan penuh kasih sayang.
"Hanya putraku, yang menjadi putramu, bukan anak si j****g" Stev emosi saat Nicho terus terusan membela Nasya di hadapannya.
"Kamu tau? tadinya aku akan belajar mencintai mu karena adikmu memintaku adil entah tentang materi atau pun tentang hati, tapi sayang kamu menghancurkan kebahagiaan yang seharusnya menunggumu, bukankah kamu ingin dicintai olehku?" tanya Nicho menatap Stev dengan tatapan sendu namun mampu membuat Stev takut karena bibir Nicho yang tersenyum iblis.
"Nasya juga menyuruhku agar mencintai putraku yang lahir dari rahimmu seperti putraku yang lahir dari rahimnya nanti, tapi apa yang kamu lakukan? kamu menghancurkan segalanya, bahkan dengan kejinya kamu menonton penderitaan yang kamu dan ayahku berikan pada adikmu sendiri, dia adikmu Stev, dia masih sedarah denganmu, kamu tidak layak di sebut manusia" ucap Nicho panjang lebar dengan nada dingin.
Ahhhhh,,,,
Stev berteriak dengan keras saat Nicho mencengkeram pahanya hingga lebam bisa dipastikan membiru.
"Nich, apa yang kamu lakukan? hah?!" teriak Stev kesakitan, ingin mengusap pahanya yang kesakitan namun apalah daya saat ini tubuhnya benar benar di borgol dengan terlentang.
"Aku hanya ingin memberimu pemanasan" jawab Nicho enteng lalu bangkit dan meregangkan ototnya.
"Ahhh, sepertinya aku butuh olahraga, otot otot ku rasanya sudah kaku" ucapnya lalu pergi dari sana tanpa mempedulikan teriakan Stev yang memintanya dilepaskan.