
Disaat pernikahan Nicho dan Stev tidak ada perubahan sama sekali, lain halnya dengan Nasya yang kini karirnya melejit dengan cepat, meski hanya dengan itungan bulan Nasya mampu menggaet beberapa produk untuk menjadikannya model mereka. Bahkan Nasya saat ini ditawari sebuah drama oleh seorang sutradara.
"Alana apa menurutmu aku cocok menjadi Aktor?" tanya Nasya pada Alana dengan mulut penuh makanan.
"Asalkan kau percaya diri aku yakin kamu pasti bisa, lagipula bagiku akting mu cukup bagus" jawab Alana sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Tapi disini aku hanya jadi peran kedua apa tak masalah?" tanyanya lagi
"Tidak masalah kita seorang pemula, apalagi kamu masuk Karna bakatmu bukan karena koneksimu"
"Tolong katakan pada sutradara nya aku setuju membintangi drama yang ditawarkannya" titahnya.
Dengan segera Alana mengambil handphonenya dan mulai mengabari sang sutradara.
"Apa berkasnya sudah kau baca?"
"Sudah" jawab Nasya sambil menganggukkan kepalanya.
cupp
seseorang mengecup pucuk kepala Nasya dari belakang, sontak Nasya melihat ke belakang siapa yang mencium kepalanya.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Nasya ketus pada Nicho.
"Apa kau tak merindukanku?" tanya balik Nicho dengan menjatuhkan bokongnya di kursi sebelah Nasya.
"Merindukan suami orang? terdengar sangat menggelikan bukan?" tanya Nasya lagi dengan nada mengejek.
"Akhir akhir ini aku jarang menemuimu Karna pekerjaan di kantor sangat menumpuk" ucap Nicho hati hati takut jika Nasya berpikir ia sibuk dengan istrinya.
"Aku tidak bertanya dan akupun tidak peduli" jawab Nasya padahal hatinya girang mendapat penjelasan dari Nicho jika dirinya sibuk dengan pekerjaannya bukan dengan istrinya. Memang akhir akhir ini Nicho jarang bertemu dengannya bahkan dalam sebulan paling banyak bertemu hanya tiga kali itupun tanpa di sengaja seperti hal nya sekarang mereka bertemu tanpa berjanjian.
"Mengapa telponku tidak diangkat? sesekali angkatlah aku rindu suaramu baby" ucapnya lembut dengan mata yang sedari tadi menatap Nasya tanpa teralihkan.
"Bukannya kau selalu tau kabarku dari Bram?" tanya Nasya lagi sambil mencoba menetralkan jantungnya yang kini berdegup dengan kencang.
"Aku ingin mendengar suaramu bukan tau kabarmu, jika kabarmu Bram selalu mengabariku setiap detik" gombalnya
"Alana ayok pergi" tidak ingin berlama lama dengan suami orang Nasya dengan cepat beranjak dari duduknya.
"Berhenti menghindari ku" ucap Nicho menahan pergelangan tangan Nasya.
"Sudah seharusnya bukan jika kita menjauhi sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain?"
Yah semakin hari Nasya semakin menjauhi Nicho, terkadang Nicho frustasi jika Nasya terus terusan menghindarinya. Ingin rasanya Nicho menceritakan alasannya tapi Nicho yakin Nasya akan mengatakan jika dia sudah tak menginginkan itu semua.
Sebenarnya Nasya ingin menangis akan kebodohan sang kekasih, dia tau Nicho menikah dengan Steve hanya untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Dia juga tau Nicho melakukan semua itu hanya untuknya, tapi apakah harus dengan cara menikah dengan Steve? apa tidak ada cara lain lagi. Hanya saja Nasya tidak tau jika Nicho menikah berada dibawah ancaman sang ayah.
*
*
Seperti pagi pagi biasanya Nasya dan Alana berangkat bekerja namun kali ini bukan ke lokasi pemotretan melainkan ke tempat yang sudah di tentukan sutradara. Ketika sampai di sana Nasya melihat Stev dengan kedua temannya pun ada di sana.
"Apa mereka bagian dari Drama ini pula?" tanya Nasya pada Alana.
"Mungkin, Karna yang masuk ke sini hanya orang orang tertentu saja" jawab Alana Karna dia juga sama halnya dengan Nasya bingung melihat Stev ada disini.
"Seharusnya anak baru harus datang tepat waktu buka datang akhir waktu, masih baru aja udah sok apalagi nanti?" ucap teman Stev yang bernama Lastri.
"Maaf Nona, kami pikir masih ada waktu sekitar setengah jam lagi, jadi untuk apa datang dari jauh jauh waktu? model saya sangat sibuk, jadi tidak bisa membuang buang waktu hanya untuk menunggu hal yang masih lam" ucap Alana skakmat.
"Tidak masalah, yang penting aku bukanlah kacung mu" ucap Alana lagi
"Mari kita mulai rapatnya" ucap Asisten sutradara.
Mereka membicarakan tentang kapan dan dimana syuting dilaksanakan. Sekitar satu jam lebih mereka rapat hingga otak rasanya ingin keluar dari sarangnya. Nasya pikir jadi aktor mudah, tenyata susah susah gampang, banyak susahnya gampangnya cuman di akhir.
"Untuk Nona Nasya semoga anda bisa memerankan peran anda, apa anda mengikuti kelas akting nona?" tanya sutradara.
"Tidak" ucap Nasya menggelengkan kepalanya
"Lalu mengapa aktingmu cukup bagus?" tanya sutradara lagi
"Aku tidak tau aktingku bagus atau tidak, kemarin hanya beberapa kalimat saja yang kebetulan saya bisa entah kesananya bisa atau tidak saya harap anda mau membantu saya" ucap Nasya dengan membungkukkan badannya sedikit
"Hahahah tidak usah seperti itu nona kami pasti membantu anda"
Sepulang dari sana, Nasya mampir ke toko Buku dia ingin menguasai beberapa cara berakting agar dia tidak mengecewakan kepercayaan sutradara.
"Bram antarkan aku ke toko buku" titah Nasya pada Bram yang saat ini sudah duduk di kursi kemudi.
"Baik Nona" jawabnya. Bram segera melajukan mobilnya ke arah tujuan dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi namun tidak pelan juga.
"Apa kau sudah mengontrol matamu Bram?" tanya Nasya lagi.
"Sudah Nona"
"Apa matamu sudah seperti semula? tidak ada rasa sakit atau berat?" tanya Nasya lagi khawatir
"Tidak Nona mata saya baik baik saja"
"Baguslah jika begitu "
Setelah sampai di sana Nasya di dampingi Alana dan Bram segera mencari buku buku panduan akting lalu segera membayarnya di kasir. Entah mengapa Nasya cukup bersemangat untuk mengumpulkan uang, ingin sekali Nasya membuktikan pada orang orang yang selalu memandangnya rendah, jika dirinya bisa melebihi mereka.
"Jadi aku memerankan antagonis dan Steve protagonis? hahaha aku cukup tersinggung dengan cerita ini" ucap Nasya bercerita tetapi matanya tetap fokus pada buku akting ditangannya.
"Kenapa tersinggung? apa kau benar-benar merasa jika kau adalah antagonis dari rumah tangga mereka?" tanya Alana
"Kau tau bukan jika cinta akan hadir dengan berjalannya waktu?" tanya Nasya dengan mata yang mulai mengembun.
"Berhenti bicara omong kosong!" bentak Alana dia kesal melihat Nasya yang seakan akan meratapi nasibnya. padahal nyatanya Alan tidak ingin terlihat jika dia bersimpati pada Nasya
"Apa salahku Lan? mengapa dunia ini tidak adil? dari awal aku dilahirkan sampai sekarang aku hidup mengapa dunia seakan akan membenci kehadiranku?" pecah sudah air mata Nasya yang sedari tadi di bendungnya. "Lalu apa gunanya aku diciptakan? apakah aku benar benar figuran?"
Alana Syok mendengar ucapan Nasya yang lebih tepatnya curhatan hati Nasya apa yang dirasakan Nasya saat ini mata Alana mulai mengembun dia tau apa yang sudah Nasya lewati selama ini. Dilahirkan dari rahim wanita yang sama sekali tidak menginginkannya lalu seseorang yang mencintainya meninggalkannya di saat dia masih benar benar butuh kasih sayang dari seorang ayah. Lalu setelah besar dijadikan layaknya pembantu oleh ibu kandungnya sendiri padahal jelas-jelas mereka hidup dengan harta kekayaan milik ayahnya yang 85% diwariskan untuknya, lalu dulu dijadikan ratu dan sekarang di hempas bagaikan debu oleh pria yang sudah mencuri hatinya. Alana tidak kuat dia ingi menangis akan kehidupan pahit Nasya, lalu sedetik kemudian emosinya memuncak.
hahahahahah
Nasya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Alana yang baper akan kisah pilu kehidupannya.
"Aku hanya membaca dialog bagian Stev, bukankah itu cocok diperankan olehku?" pertanyaan Nasya mampu mengubah hati Alana yang tadinya simpati menjadi emosi.
"Sialan!" teriak Alana yang memukul mukul kepala Nasya Karna merasa dibohongi oleh akting Nasya tadi.
"Awww,, sakit lan" ucap Nasya manja. "Bukankah aktingku bagus?" tanyanya lagi dengan alis menggoda diiringi tawa yang menggelegar.
Percayalah orang yang paling keras tertawa adalah orang yang paling banyak menanggung kecewa. Mereka hanya ingin mencoba baik baik saja walau sebenarnya hatinya terluka.