
***Cletak
Jleb
Akhhhhh***
Suara teriakan seseorang dari dalam ruangan terdengar mengilukan diikuti dengan suara pukulan bahkan hantaman.
"Bunuh saja aku Bastian!" teriak Stev karena tidak tahan lagi dengan siksaan yang Bastian berikan padanya. Saat ini Stev sungguh menyesal telah melakukan kejahatan pada Nasya sampai sampai Bastian tidak memberinya jeda sedikitpun.
Tubuhnya sudah penuh dengan darah dan robekan akibat cambukan yang diberikan Bastian, berapa kalipun ia berteriak kesakitan bahkan meminta pengampunan tapi Bastian seolah menulikan pendengaran nya. Ia tanpa perasaan mencambuk Stev dengan kilatan amarah yang membara di matanya.
"Karena kau! adikku harus mengalami masa depresi berat sialan!" teriak Bastian dengan linangan air mata saat mengingat bagaimana kesakitan nya Nasya saat Stev dan mertuanya tega menghabisi Nasya bahkan melecehkannya.
"Jangan harap aku akan mengampuni j****g!" teriak Bastian menjambak rambut Stev hingga mengaduh kesakitan.
"Bram!" teriak Bastian memanggil kepala bodyguard Nicho. "Bawakan alatnya!"
Stev hanya bisa pasrah, ia tidak tahu apalagi yang akan Bastian lakukan padanya. Saat ini satu satunya yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana caranya agar dirinya bisa lepas dari genggaman Bastian. Jika bisa memilih Stev lebih baik mati dari pada harus menerima siksaan bertubi tubi dari pria yang mengaku sebagai kakak angkat adiknya.
Mata Stev melebar saat Bram membawa linggis yang setengahnya sudah dipanaskan, terlihat dari warna setengah linggis yang berwarna hitam pekat dengan asap yang mengepul apalagi tangan Bram yang membawanya pun memakai lapisan tebal padahal Yanng di pegang oleh Bram adalah bagian linggis yang tak berasap.
"A-apa yang akan kau lakukan Bas!" ucap Stev ketakutan.
"Tidak usah pura pura bodoh!" ucap Bastian dingin dengan tersenyum smirk.
Srettt
Akhhhhh
Teriak Stev saat linggis panas mengenai betisnya.
"Baru segitu ajah udah teriak teriak" ejek Bastian tersenyum devill.
"Bram, buka ************ nya" titah Bastian.
"Biar aku yang lepas CD nya" ucap Bastian menyimpan linggisnya lalu berjalan menghampiri Stev.
"Karena lubang ini bukan, sampai kamu tega melakukan itu semua pada Nasya yang notabenenya adik kamu sendiri?" tanya Bastian lembut dengan tersenyum menawan, namun tangannya melepas CD yang dikenakan Stev selama beberapa hari ini. Dengan sengaja Bastian sedikit menggesekkan tangannya pada milik Stev.
"Mau?" tawar Bastian, lalu memasukkan 3 jari tangannya ke lubang laknat milik Stev.
"Ahhhhh,," desah Stev saat tangan bastia Bastian bergerak liyar dibawah sana.
"Nikmatilah J****g" ucap Bastian dengan memburu dan tangan yang bergerak cepat, cukup lama bermain di sana , hingga dinding milik Stev berdenyut menandakan pelepasan, tanpa berperasaan Bastian malah menarik tangannya menjauh dari milik Stev.
"Bass!" teriak Steve tak percaya jika dirinya di permainkan oleh seorang pria, padahal hasratnya sudah mulai naik ke *******.
"Menjijikkan, padahal mautmu sudah di depan mata, tapi memang dasarnya j****g apapun yang terjadi dan di manapun tempatnya kepuasan ilusi yang terus terusan di cari" ucap Bastian dingin, lalu menatap tajam Stev yang masih ngos-ngosan akibat aktivitas tadi.
"Dasar j****g" gumam Bastian bergidik ngeri mengingat bagaimana tadi Stev mendesah tanpa malu saat kedua belah tangan dan kakinya di tahan oleh para pria.
"Baiklah kita mulai, aku akan memberimu pelepasan dengan sensasi berbeda Botch!" ucap Bastian lalu tangannya menggapai linggis yang tadi sempat di simpan terlebih dulu.
***Bleshhhh
Akhhhhh***
Teriak Stev menggila kesakitan, mencoba memberontak namun anak buah Bram memegangnya dengan kuat hingga ia hanya bisa berteriak dan menggigit bibirnya saat linggis panas milik Bastian masuk ke dalam miliknya.
Sedangkan di ruangan sebelah seorang pria tua yang di penuhi dengan lumuran darah dan wajah yang sudah babak belur, namun bibirnya masih menyunggingkan senyum smirk dan keangkuhan.
"Ternyata kamu kuat juga iblis Tua" ucap Maxim santai duduk di salah satu kursi di sana dengan sebatang rokok yang terjepit di sela jarinya. Sedangkan di hadapannya seorang pria paruh baya yang berdiri di tengah tiang besi dengan tangan yang di ikat ke atas.
"Cara apa yang pantas untuk memberimu hukuman mematikan? sepertinya aku harus mendiskusikannya dengan keka-
Brak
Ucapan Maxim menggantung saat pintu di buka paksa dari luar.