
"Maxim!!!" baru saja keluar dari Outlet tempatnya bertengkar dengan Stev Nasya langsung di suguhi dengan pemandangan yang diharapkannya, ingin sekali menemui Maxim tanpa di sengaja ia langsung bertemu dengan dua orang yang berarti dalam hidupnya.
"Aku merindukanmu" ucap Nasya sambil memeluk Maxim dengan erat.
"Lepaskan dia sialan!! kau memeluk milikku" teriak Alana tak terima sambil memukul mukul tubuh Nasya.
"Diamlah Lan, aku sangat merindukan kekasihku" jawabnya sambil terus memeluk Maxim seolah menumpahkan semua kerinduannya, tapi pada nyatanya dia menanyakan bagaimana kabar berkas yang dititipkan nya dan bagaimana perkembangan saham 15% miliknya di Moon Group.
"Baguslah jika semuanya berjalan baik" ucap Nasya lalu melepaskan pelukannya.
"Kau tadi bilang apa? milikmu? siapa yang milikmu? dia?" tanya Nasya pada Alana sambil menunjuk Maxim dengan ekor matanya.
"Bukan" ucap Alana menggeleng kan kepalanya dengan tertunduk, "Mengapa kau memeluk Maxim bukan aku? apakah Maxim lebih berarti dariku?" tanya Alana dengan mata berkaca-kaca.
"Oh my baby, jangan menangis" ledek Nasya sambil mengusap air mata yang menggenang di pelupuk mata Alana.
"Aku sangat merindukanmu friends" lanjutnya sambil memeluk erat Alana, mereka pun menangis terharu seperti pasangan yang terpisahkan selama bertahun-tahun.
"Oh, ternyata wanita sombong ini adalah j****g?" tanya Stev yang ternyata menyusul Nasya keluar outlet.
"Siapa yang kau sebut j****g?" tanya Maxim pada Stev dengan wajah dinginnya.
"Tidak usah berpura-pura bodoh, seharusnya kau tau jika wanita ini memang j****g" hina Stev dengan suara melengking sambil menarik masker dan kacamata milik Nasya hingga penyamarannya gagal.
"Hahahahah,,,,, pantas saja aku tidak bisa menemui di hotel hotel ternyata ini alasannya kamu Hiatus dari hotel dalam beberapa bulan ini? wajah yang membusuk memang menghalangi pemandangan jika keluar dari Goa" lanjutnya dengan nada meremehkan.
"Wajah membusuk?" tanya Maxim lalu memeluk pinggang ramping milik Nasya dengan posesif. "kekasihku mengalami kecelakaan mobil Karna kelalaian ku, jadi aku merawatnya di rumah agar kembali pulih,"
"Lalu apa katamu hotel?"
"Yah hotel, wanita yang kau anggap kekasihmu adalah J****g murahan yang sangat hina!" ucap Stev dengan tertawa puas saat melihat raut wajah Maxim yang tak bisa di baca. Dia tidak akan membiarkan Nasya hidup bahagia, apalagi sampai ada pria yang mencintai dan menghargainya.
"Hahahah,,, lebih baik murahan dibanding gratisan benar bukan?" tanya Maxim pada Nasya yang hanya diam seperti maling yang ketahuan. "Aku mencintai kekurangan dan kelebihan kekasihku, meskipun kekasihku pernah menjadi j****g aku akan tetap mencintainya, bagiku lebih baik menuntunnya kembali ke jalan yang benar di banding memilih yang baru namun belum tentu lebih baik dari kekasihku yang pernah melakukan kesalahan"
"Omong kosong? apakah kau tau? kekasihku tidak mungkin melakukan kesalahan yang dinilai fatal jika aku bisa memenuhi kebutuhannya, jadi kesalahannya berasal dari kesalahanku yang tidak mampu memenuhi keinginannya,"
"Lagipula kekasihku melakukan segalanya hanya demi mencegah aku jatuh pada pelukan wanita lain, dia rela mengorbankan kredibilitas nya dihadapan masyarakat hanya Karna takut kehilangan ku," ucap Maxim entah mengapa Nicho merasa jengkel atas ucapan Maxim saat ini, seakan akan Maxim adalah dia. "Besar bukan rasa cintanya, lalu apa kau mencintai temanku?"
"Yah aku mencintainya sangat, tidak ada yang lebih mencintainya dibanding aku" ucap Stev membanggakan dirinya sendiri
"Apa yang sudah kami korbankan untuknya? Nicho rela meninggalkan wanita yang menemaninya selama 5 tahun kebelakang, lalu apa yang telah kau lakukan untuknya?" tanya Maxim yang langsung membuat Stev membeku.
"Aku mampu memuaskanku nafsunya" ucap Stev, Karna memang benar hanya itu yang dia lakukan untuk Nicho.
"Haha, miris sekali ternyata pengorbanan mu tidak ada apa apanya dibanding pengorbanan kekasihku, jadi jaga mulut kotor mu jangan pernah menghina pengorbanan kekasihku yang tidak semuanya kau tahu" ungkap Maxim dengan tatapan mata menusuk "Ayo baby, kau ingin makan dimana hari ini, sampai rela menyusul ku, padahal aku sudah dibantu sopir dan manajermu"
Panas, meski tangannya bertautan dengan tangan Stev, namun nyatanya hatinya terpaut pada wanita yang sedang berjalan menjauhinya sambil dirangkul oleh pria yang mengaku kekasihnya.
Terkadang kita tidak bisa membedakan mana pengorbanan dan mana pengkhianatan. Lebih indah berkorban berkedok berkhianat meski awalnya menyakitkan dibanding berkhianat dibalik kelembutan yang pastinya akan menyiksa batinnya secara perlahan.
Malam yang indah di temani oleh langit berbintang, Nasya duduk di kursi balkon kamarnya sambil memikirkan langkah apa yang harus diambilnya agar Nicho berhenti membencinya, Nicho juga harus tau jika apa yang dia lakukan hanya untuknya.
Seperti malam malam sebelumnya Nicho akan pulang ke rumah Nasya setelah melewati malam panas bersama Stev tanpa membersihkan sisa bercintanya ditubuh tegapnya. Dia berbaring di samping Nasya tanpa memeluk Nasya seperti biasanya, dia berusaha untuk tidak memeluk Nasya tapi sialnya Nasya malah memeluk nya dari belakang tanpa sadar.
"Sial!" umpatnya, lalu berbalik memandang wajah yang kemarin dirusaknya, mengusapnya lembut dengan tatapan nanar jika mengingat hari dimana dirinya menyiksa Nasya habis habisan.
"Andaikan kau melakukan pengorbanan itu untukku bukan untuk Maxim, sedikitpun aku tidak akan melukaimu" lirihnya lalu mendekap Nasya dengan air mata yang keluar dari kelopak matanya.
Sedih saat mengetahui jika wanita yang ada dihadapannya memang telah mencintai pria lain, seperti tekad yang berkarma padanya, "berani mengkhianatiku kupacari sahabatmu" mungkin itulah yang saat ini Nasya lakukan padanya.
Sama sama berkorban untuk pasangan tapi tanpa mengatakan yang sebenarnya hanya menunggu kepekaan masing masing saja, lalu apakah peka akan datang saat otak di penuhi negatif thinking. Sebaiknya bicarakan baik baik agar pasangan bisa menerima dan menyesuaikan diri dengan takdir, dibanding saling diam mencoba menelan pahitnya perjuangan sendirian tanpa tahu bagaimana tanggapan menurut pasangan, apakah dia akan mengerti jika itu adalah pengorbanan?.
Orang be IQ tinggi bisa memecah bahkan membuat rumus matematika, namun mereka tidak akan bisa memecahkan rumus kode para wanita dan pria. Percayalah sepintar pintarnya orang jika mentalnya terlalu lelah, dia akan menjadi orang bodoh yang tak kasat mata.