
Tanpa menunggu lama Nicho langsung menc*Umbu bibir sensual milik Stev dengan nafas yang menggebu-gebu, bukan berarti Nicho tidak setia pada Nasya, tapi ini juga titah Nasya yang harus memberi Stev nafkah batin. Dia hanya ingin belajar hidup dengan benar saja. Ingin belajar adil kepada kedua istrinya, meskipun nyatanya Nicho masih tidak bisa membagi rata rasa cintanya kepada kedua istrinya.
Ahhhhhh
Teriak Stev kesakitan saat Nicho mencoba memasukkan miliknya ke dalam milik Stev.
"Apa aku melukaimu Stev?" tanya Nicho was was, ia takut putranya kenapa Napa jika Stev kesakitan.
"Perutku Nichhh,,, awhhhhh" teriak Stev lagi saat tendangan diperutnya semakin keras.
"Tunggu sebentar, aku telpon dokter dulu"ucap Nicho lalu bergegas bangkit dari posisinya, namun baru saja beranjak tangannya sudah di jegal oleh Stev.
"Tidak usah, ini sudah biasa terjadi di kehamilan tua, lanjutkan saja, aku tidak tahan Nich,," ucap Stev sambil membawa tangan Nicho agar menyentuh area miliknya yang sudah basah.
"Shitttt,,," umpat Nicho saat miliknya kembali menegang karena ulah Stev yang memasukkan tiga jari Nicho pada miliknya.
"Ahhhhh,,,," desah Stev saat tiga jari Nicho tenggelam seluruhnya.
"Apa tidak kenapa jika aku memasukkan jariku?" tanya Nicho takut putranya akan terkena infeksi.
"Tidak akan kenapa Napa Nichhh, cepat gerakkan aku tidak tahan lagi,,," pinta Stev menggila diiringi dengan suara laknatnya yang tidak tahu malu.
Dengan hati hati Nicho menuruti permintaan istri pertamanya, dia menjalankan aksinya dengan ritme pelan namun sangat menuntun. Entah mengapa putranya tidak menyiksa stev saat dijenguk oleh jarinya, tapi ketika miliknya ingin ikut menjenguk putranya langsung menggila menendang perut empunya dengan sangat keras hingga Stev meringis kesakitan.
"Sepertinya sudah lama kita tidak bertemu" ujar Stev pada Nasya tanpa menatap lawan bicaranya, Nasya sadar kata yang diucapkan Stev tertuju padanya namun dia juga harus menjaga image nya takut Stev akan mempermalukannya dihadapan umum mengingat bagaimana gilanya Stev saat penyakitnya kambuh.
"Sorry, apa kamu bertanya padaku?" tanya Nasya seolah memang tidak tahu kepada siapa Stev berbicara.
"Jika bukan denganmu, lalu dengan siapa aku berbicara?" Stev kesal dengan wajah bodoh sok polos yang Nasya tampilkan saat ini.
"Hahahahh, ternyata denganku, kupikir kau bertanya pada yang lain karena disini tidak hanya ada aku" jawab Nasya dengan tertawa kaku.
"Apa hidupmu berjalan dengan lancar?"
"Seperti yang kamu lihat, hidupku lancar lancar saja, bahkan saat ini aku sangat bahagia" jawab Nasya dengan raut wajah yang berseri-seri.
"Kau bahagia bukan karena merebut suami orang kan?" tanya Stev seolah ingin mempermalukan Nasya dihadapan umum.
"Ohho,,, aku hanya akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku" jawab Nasya dengan menekankan setiap katanya.
"Tidak selamanya kamu bisa mengklaim sesuatu menjadi milikmu" ujar Stev tak ingin kalah omong dengan Nasya.
"Tapi bagiku, apa yang sudah menjadi milikku di manapun dia berada aku akan tetap mengambilnya kembali meski harus mempertaruhkan nyawa" ucap Nasya sengit menatap tajam bola mata Stev yang masih ingin mencacinya dihadapan umum, "Aku pikir tidak ada lagi yang perlu kita bahas, karena kita tidak sedekat itu sampai harus membahas sesuatu dihadapan umum" lanjutnya lalu berlalu pergi meninggalkan Stev yang sedang di serbu oleh api kemarahan.
"Jalankan misi Kita" ucap Stev pada seseorang di seberang sana.