
Hari hari begitu cepat jika dilewati bersama Nasya namun berbeda halnya jika dilewati bersama yang lain, rasanya satu hari sama dengan satu Minggu lamanya. Entahlah semakin hari Nicho semakin enggan meninggalkan Nasya yang tidak lepas dari bayangan otaknya.
"Nich, kau ini kebiasaan, cepat bangun ini hari Senin jika kau lupa," teriak Nasya memukuli suaminya yang sedari tadi enggan beranjak dari ranjang, padahal Nasya tahu betul suaminya sudah bangun sejak tadi.
"Hmmm" Nicho hanya berdehem dan menarik selimut hingga menenggelamkan badan serta wajahnya.
"Bangun Nich, ini sudah siang, jangan kebiasaan yahh" geram Nasya frustasi, bagaimana tidak frustasi jika suaminya selalu memancing emosi.
"Berikan aku satu ronde dulu, baru aku akan pergi Bekerja" pinta Nicho hanya mengeluarkan tangan dan mengangkat satu telunjuknya, sebagai isyarat permintaannya.
"Setiap hari, setiap jam, lebih dari satu ronde apa kamu masih belum puas hah?!" pekik Nasya terus terusan memukuli suaminya dengan membabi buta, "Sebenarnya kamu menunaikan kewajiban mu atau mau menyiksaku hah?!" teriak Nasya tidak habis pikir dengan gairah gila Nicho
"Baiklah jika tidak mau, aku pun tidak mau berangkat ke kantor" istri marah si suami malah merajuk entah siapa yang kekanak kanakkan intinya keduanya sama sama tidak ada yang ingin mengalah. Sampai akhirnya si istri harus mengalah merelakan tubuhnya yang sudah lelah di gagahi kembali oleh suaminya istri bisa apa jika suami meminta?.
Siang hari di ruangan milik Nicho, Stev datang dengan wajah yang penuh amarah, sudah beberapa Minggu ini Nicho memang selalu pulang ke rumah dari Minggu ke Minggu hanya saja Nicho selalu tidur di rumah hanya di malam malam tertentu selebihnya entah Nicho tidur dimana. Bagaimana Stev tidak curiga jika Nicho jarang pulang.
"Apa tidak ada yang ingin kamu jelaskan Nich?" tanya Stev geram, apa Nicho tidak sadar jika dirinya sedang mengandung putranya, padahal ini adalah kehamilan Stev yang ke tujuh bulan, apa tidak terlihat?.
"Memang apa yang harus aku jelaskan?" Nicho malah bertanya balik mengabaikan pertanyaan Stev yang memang terdengar wajar tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
"What? kenapa kamu balik bertanya hah?!" Stev benar benar tidak habis pikir dengan pola pikir Nicho saat ini, "Harusnya kamu menjelaskan kemana saja kamu saat tidak tidur di rumah hah? jangan bilang kamu berselingkuh, ingat ada putramu di rahimku jadi jangan pernah macam macam" ancam Stev pada suaminya.
"Aku tidak segan untuk membunuh putramu," ancam Stev dengan mata yang melotot dan tersenyum iblis.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan jika kamu berani melukai putraku sedikitpun" ancam balik Nicho tidak kalah dari ancaman Stev, "Harusnya kamu paham, siapa yang kamu ancam" ucap Nicho lalu berjalan menghampiri Stev.
"Aku tidak akan membiarkanmu lenyap dari muka bumi ini dengan mudah jika kamu berani melukai putraku" bisik Nicho tersenyum devil lalu mengelus perut Stev yang sudah membuncit, "Hay Boy, jaga diri baik baik Daddy tau kamu kuat, jadi jangan lemah hanya karena iblis yang menjelma jadi tempatmu bersemayam" sapanya pada perut buncit milik Stev seolah sedang berbincang dengan putranya lalu sedetik kemudian dia mencium hangat perut buncit milik Stev yang langsung membuat adrenalin Stev terpacu begitu saja.
"Pulanglah, nanti sore aku akan pulang ke rumah" titah Nicho pada istrinya lalu membuka pintu ruangannya,
"Apa kamu butuh Sopir? kurasa tidak, Karna aku yakin kamu diantar oleh sopir di rumah" ucap Nicho mempersilahkan Stev keluar dengan gaya pelayan.
"Apa kamu tidak merindukan putramu Nich? kamu belum pernah menjenguknya semenjak dia hadir disini?" goda Stev yang hanya dianggap angin oleh Nicho.
"Aku tidak akan hanya menjenguknya Stev" ucap Nicho yang langsung membuat hati Stev berbunga bunga dengan pipi yang merah merona, "Tapi aku juga berjanji akan menjaganya 24 jam setelah dia lahir" lanjut Nicho tersenyum smirk puas mengerjai Stev yang kegeeran karenanya.
Stev hanya mengumpat dengan tangan yang terkepal erat, dia berlalu dari sana dengan membawa segudang amarah, dia benci di permalukan oleh suaminya sendiri, harga dirinya jatuh saat dia terlalu pede dengan ucapan Nicho.
Sedangkan Nicho dia hanya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Stev yang menahan kekesalan padanya, entahlah dia memang nyaman saat melihat perut Stev, namun saat sadar siapa pemilik perut yang membuatnya nyaman, kenyamanan itu terbagi dua nyaman dan gundah.