My Secret Bride

My Secret Bride
Bab58



Sepanjang waktu tatapan Nicho tidak teralihkan dari puluhan layar yang terpampang di depan matanya, yah saat ini Nicho sedang memeriksa kamera CCTV jalan yang semula di lock kini sudah bisa terbuka karena otak pintar dan tangan terlatih milik Nicho.


Dia bisa meretas kembali cctv cctv yang semula di bajak oleh papahnya, meskipun perasaannya sedang tak karuan tapi sebisa mungkin Nicho menekan rasa khawatir yang kini menguasai perasaannya.


"Coba perbesar kamera 07" tunjuk Nicho saat matanya menatap mobil land cruiser warna hitam berbelok ke arah hutan zona hijau. Matanya membulat saat ingat jika itu adalah daerah terlarang kini dia yakin jika papahnya membangun bangunan di daerah terlarang tanpa sepengetahuannya.


"Cepat telusuri jalan xc, aku yakin itu mobil yang terdaftar atas nama anak buah si tua Bangka!" titah Nicho menggeram, dia juga tidak tinggal diam, Nicho berlari ke basemen dan langsung menancap gas menuju alamat yang sudah didapatkan nya.


"Lihat saja, aku tidak akan diam jika kalian berani menghancurkan milikku" desis Nicho mencengkeram kemudi dengan erat hingga menonjolkan urat urat di buku tangannya.


Sesampainya di sana Nicho terkejut melihat bangunan megah yang menjulang di depan matanya padahal kemungkinan besar jarak Nicho dengan bangunan yang dilihatnya adalah sekitar dua kilo meter. Dia tidak bisa masuk karena penjagaan yang ketat di sekitar gerbang. Di sana dapat dilihat lebih dari 10 orang dengan perawakan tegap dengan otot otot yang kekar berjajar di sekitar gerbang.


"Kita harus menyusun rencana" ucap Nicho setelah menekan tombol alat yang sudah menempel di telinganya.


"Baik, aku pikir kita perlu menunggu para sniper ku memposisikan diri mereka masing masing, kita tidak boleh lengah" jawab Bastian di seberang sana.


Maxim segera menempatkan dirinya di barisan depan, dia segera memimpin para Sniper untuk menaiki pohon tinggi yang mengelilingi bangunan yang menjadi sasarannya saat ini.


"Berhati-hatilah saat memanjat, jangan sampai pohonnya terlihat sedang dinaiki," Maxim memperingatkan para Sniper untuk berhati-hati, dia tidak ingin rencananya untuk menyelamatkan Nasya gagal, baginya Nasya adalah segalanya.


"Angin besar menuju kemari, kita harus sampai ke atas pohon dalam waktu 30 detik secara berombak, agar terlihat seperti alami,"titah Maxim memberi instruksi "Tiga dua satu go,".


******Berrrrrrr******, kretakkkkkk, berrrr, Trak.


Mereka semua telah sampai di puncak pohon hingga dengan jelas bisa melihat isi bangunan di dalam melalui teropong tembus pandang yang diciptakan khusus oleh Bastian.


"Bas, sesuatu yang besar telah terjadi, mangsa Tua menuju ke taman belakang, aku akan menembak dia dari sini dengan tembakan yang akan membuatnya tertidur dalam beberapa jam, aku yakin Nicho tidak akan membiarkannya bebas meski dia ayah kandungnya" ucap Maxim lalu.


Slebbbb


Sebuah tembakan suntikan yang berisi obat tidur mendarat tepat di urat nadi leher Tuan Vernandes hingga sedetik kemudian Tuan Vernandes ambruk terlentang di kursi yang di duduki nya tanpa membuat curiga orang orang di sekelilingnya.


"Aku pikir kita tidak kekurangan personil, targetkan mangsa kalian masing masing"


Semua sniper menargetkan mangsanya masing masing, lalu mengarahkan tembakannya pada orang yang menjadi mangsanya.


"Tiga Dua satu" aba aba Maxim berikan pada seluruh bawahannya lalu terdengar teriakan.


Awhhhhhhh


"Masuk"


Tak lama Mobil Nicho dan Bastian masuk ke dalam di iringi empat mobil SUV, Nicho memarkirkan mobilnya dengan asal lalu menerobos masuk menembak dengan menggila hingga kini dia melihat dua sosok wanita yang di carinya.


"Hello Honey," sapa Stev menghilangkan rasa terkejutnya karena dia tidak menduga Nicho bisa menerobos masuk ke dalam dan mengetahui yang dilakukannya, dia menodong leher Nasya dengan pisau kecil yang dimilikinya. Nicho meradang, emosinya naik saat melihat wanita pujaannya terbaring lemah tak berdaya di atas brankar rumah sakit, apalagi Stev menodongkannya dengan sebuah pisau kecil, Bastian mencoba menenangkan Nicho agar tak terpancing emosi dia mencoba mengajak Stev untuk berbincang.


"Apa maumu?" tanya Nicho berharap Stev melepaskan Nasya.


"Aku hanya ingin kamu hanya mencintaiku bukan mencintai j****g ini" ucap Stev penuh penekanan melirik Nasya dengan tatapan menyalang.


"Kemari, jangan lakukan hal bodoh" ucap Nicho merentangkan kedua tangannya agar Stev datang kepelukannya.


"Aku tau kamu hanya ingin menyelamatkan j****g ini bukan?" teriak Stev dengan penuh emosi


Brughhh


Pisau yang dijadikan alat penodong stev terbang ke atas karena Bram menendang tangan kanan Stev yang tadi di gunakan untuk membunuh Nasya dengan pisaunya, tanpa memberi waktu Bram langsung memborgol tangan Stev hingga tak berdaya.


"Lepaskan aku sialann!" teriak Stev meronta, namun semua tidak peduli Nicho dan Bastian segera menghampiri Nasya yang sudah tak berdaya,


"Baby, wake up Baby, aku mohon" pinta Nicho menghujani Nasya dengan ribuan ciuman yang dilabuhkannya pada istrinya.


"Hahah percuma saja, meskipun dia bangun dia bukan lagi wanita yang sempurna" ucap Stev diiringi dengan tawa jahat yang menggema di seluruh ruangan.


"Apa maksudmu sialan!" teriak Nicho emosi mencengkeram wajah Stev yang di borgol oleh Bram


"Lihatlah jahitan diperutnya dan sesuatu yang kamu injak" titah Stev tersenyum smirk


"Apa ini?" tanya Maxim mengangkat sesuatu yang seperti usus namun berlumuran darah,


"Itu adalah anakmu, dan rahim wanitamu yang sudah aku makan stengahnya" ucap Stev dengan gila, itu memang tidak bohong melihat Nasya seperti itu tidak membuat nafsunya terpenuhi hingga akhirnya dia menggigit rahim Nasya yang diangkat paksa oleh ahli bedah tadi.


"Sialan!!!!!"


Bughhh