My Secret Bride

My Secret Bride
Bab61



"Apa yang kau lakukan sialan!" bentak Jesica saat melihat suaminya mengacak acak isi lemari pakaian mereka.


"Dimana pasport ku? hah?!" bentak Tuan Vernandes mencengkeram dagu Jesica dengan kuat.


"Cepat katakan, Dimana pasport ku?" tanya Tuan Vernandes sekali lagi.


"Bram,,," jawab Jesica jelas namun dengan suara yang lirih.


Brughhhhh


"Bodoh! mengapa pasport ku bisa ada di tangan kanan si baj*Ingan itu hah?!" tanyanya lagi mendorong tubuh Jesica hingga pantat sintalnya mencium lantai


"Aku tidak tahu! bukankah kamu yang menyuruh Bram mengambilkan pasport mu kesini?" tubuh Jesica bergetar ia takut dengan kemarahan Vernandes, dia juga tidak mengerti mengapa suaminya bertingkah aneh dengan menanyakan keberadaan pasport nya dengan amarah bak kerasukan syetan.


"Dasar J****g bodoh! mana mungkin aku menyuruh orang lain mengambil pasport ku heh!" Tuan Vernandes melampiaskan kemarahannya ada istrinya yang menurutnya sangat bodoh, dengan mudahnya istrinya di kelabui oleh anaknya sendiri.


"Hentikan sialan!! awhhhhh!!" teriak Jesica beserta desisan dan raungan kesakitan yang menyiksanya.


"Dasar Pria Gila!" umpat Jesica mencoba menahan tangan Tuan Vernandes yang terus terusan mencambuknya dengan ikat pinggangnya.


***setttt


bleshh


Arghhhh***


Jesica pingsan karena kesakitan menerima siksaan dari Tuan Vernandes yang kerasukan.


*


*


*


"Tuan, sepertinya pelaku ada di rumahnya mencari pasport miliknya yang sudah berhasil saya curi sebelumnya" ucap Bram pada Nicho yang masih duduk manis menggenggam tangan istrinya yang masih terbaring lemah.


"Tangkap dia jangan sampai lolos, jika itu terjadi, tukar kesalahan kalian dengan nyawa yang kalian miliki" jawab Nicho dingin tanpa menatap Bram yang berdiri tegak di sampingnya.


Nicho tidak bosan mendampingi istrinya yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakitnya, sesekali dia mengecup punggung tangan Nasya dan terus terusan mengajaknya bicara meskipun nyatanya hanya dia yang berbicara dan bertanya tanpa ada jawaban, seperti saat ini Nicho terus terusan menanyakan kabar istrinya meski tanpa ada reaksi apapun karena Nicho percaya Nasya hanya koma tapi alam bawah sadarnya tahu apa yang Nicho ucapkan.


"Baby, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu" ucapnya dengan tersenyum menawan.


"Apapun yang terjadi, kamu tahu kan? meskipun kamu tidak melahirkan kita masih punya baby, cepatlah bangun jika tidak ingin baby hidup dengan ibu yang lain" lanjutnya mencoba sedikit mengancam Nasya.


Tok tok


"Nich, jadwal operasi Stev setengah jam lagi, Bastian dan yang lain sedang menuju kesini untuk membawa Stev" lapor Maxim menyembulkan kepalanya ke dalam.


"Hmm" Nicho hanya berdehem tanpa menjawab apapun.


"Baby, aku tinggal dulu tidak usah takut, di sana ada banyak pengawal yang akan menjagamu, yakinlah kejadian ini tidak akan terulang lagi, aku harus menjemput Baby kita" ucap Nicho berpamitan pada Nasya, lalu setelahnya mencium dahi Nasya dan berlalu dari sana meninggalkan Nasya sendiri yang mencoba menggerakkan jari tangannya.


Setelah menunggu sekitar 5 menit rombongan Bastian akhirnya datang, mereka membawa Stev ke jalan darurat, Stev mencoba memberontak tapi Bastian dan Maxim menahannya sehingga Stev tidak bisa melakukan penyerangan dia hanya bisa berteriak mengumpat bahkan menyumpah serapahi orang orang yang menculiknya.


"Lepaskan aku! lihat saja, aku pasti membalas ini semua" teriak Stev menggila, lalu para staf rumah sakit segera membawa Stev ke ruang operasi yang sudah di siapkan.


"Apa yang kalian lakukan? usia kehamilan ku baru 8 bulan, kalian tidak bisa mengambil putraku" teriak Stev menangis histeris dia takut putranya lenyap sperti putra Nasya dia tidak ingin itu semua terjadi, jika putranya tiada tidak ada alasan Nicho bersikap lembut lagi padanya.


"Dokter mengatakan tidak apa melakukan Caesar di usia yang tidak mencukupi, hanya saja nantinya putraku akan mengalami prematur dan membutuhkan biaya pengobatan mahal," ucap Nicho enteng saat baru saja masuk ke dalam ruang operasi yang menurutnya berisik karena suara Stev yang mengumpat.


"Harusnya kamu tau Nich, jika kamu melakukan operasi pada putra kita sekarang, putra kita bisa saja mengalami gangguan pernapasan, sakit kuning, infeksi, gula darah rendah, dan bisa saja meninggal, jadi pikirkan baik baik Nich" ucap Stev mencoba dengan beribu cara agar Nicho tidak melakukan operasi paksa padanya.


"Tidak, aku tetap kan melakukan operasi karena aku tau putraku tidak boleh ternodai oleh sifatmu yang seperti titisan iblis" jawaban Nicho menusuk dan sangat tajam.


"Nich putra kita memang mencukupi berat badan, tapi apakah kamu tahu di usia 36 Minggu organ vital baby bisa saja belum sempurna paru paru dan hati juga masih dalam proses perkembangan" ucap Stev lagi.


"Aku tidak peduli, hanya satu yang menjadi patokan ku, baby sudah memiliki hak keluar di usianya yang ke enam bulan, jadi aku pikir tidak apa," jawab Nicho skakmat.


"Hahah jangan membual Nich, siapa yang mengatakan hal gila itu?" tanya Stev menggila tidak mengerti dengan pemikiran Nicho.


"Aku pernah mendengar dalam sebuah Kitab, dan ucapan para guru agama" jawab Nicho yang langsung membuat Stev dan yang lainnya bungkam sekaligus bingung, dari mana Nicho tahu agama? bukankah Nicho manusia laknat, jadi mengapa dia tahu tentang agama?.