
Miris sekali melihat keadaan Nasya saat ini, dia tidak mengenal siapapun, bahkan dia terkesan ketakutan saat seseorang mendekati nya.
"Ahhh,, pergi kamu, jangan dekati saya" ucap Nasya ketakutan bahkan Nasya memundurkan duduknya dengan ekspresi ketakutan saat Bastian datang dan menyapanya.
"Sya, ini aku. Kakak mu, Bastian" ucap Bastian lirih dia sungguh tidak tahan melihat kondisi wanita yang dianggap adiknya.
"Sayang, dia Bastian" ucap Nicho memeluk Nasya dengan erat sambil mencoba menenangkannya agar tidak panik ketakutan.
"Pergi,,,, aku mohon pergi" pinta Nasya dengan linangan air mata, entah apa yang Nasya pikirkan dia masih belum bisa di ajak berkomunikasi oleh orang lain, hanya dengan Nicho saja Nasya mau sedikit berbicara.
"Bas, pergilah dulu, nanti Nasya pasti mengingat mu dan pastinya menanyakan keberadaan mu, jadi untuk sekarang pulanglah" ucap Nicho sahabatnya.
Semua orang yang melihat kejadian itu dari balik kaca merasa sangat pilu, mereka tidak menyangka wanita yang dulu tegar, bisa hidup sendiri meski keluarga nya tidak peduli sama sekali, kini wanita yang yang dulu ceria, tidak lagi bisa berbicara dengan sembarang orang.
"Max, aku tidak kuat" ucap Alana pada Maxim yang saat ini sedang memeluknya.
"Tenanglah Al, aku yakin Nasya pasti bisa melewati masa masa ini" ucap Maxim mencoba menguatkan Alana, padahal jauh di lubuk hatinya dia sangat tersiksa melihat orang yang sangat di cintainya kini terluka karena kelalaian nya sendiri.
"Max, apa si tua Bangka sudah di amankan?" tanya Bastian dengan raut wajah datar namun tangannya terkepal, apalagi tatapannya tidak bisa berbohong mata Bastian mengkilatkan kemarahan yang menggebu-gebu.
"Sudah Bas, seperti yang Nicho minta saat ini Keduanya sedang dalam satu ruangan" jawab Maxim tanpa melepaskan pelukan eratnya pada Alana.
"Bagus, sepertinya ini saatnya untuk sedikit meregangkan otot-otot ku yang kaku" ucap Bastian tersenyum iblis lalu berlalu dari sana.
"Max, mau kemana?" tanya Alana saat Maxim melonggarkan pelukannya.
"Aku dan Bastian akan ke markas untuk memberi mereka pelajaran"
"Aku ikut" ucap Alana dengan tatapan sayu nya.
"Apa kamu akan kuat melihat mereka menerima hukumannya? hm?" tanya Maxim yang langsung di jawab anggukkan oleh Alana. "Baiklah, sepertinya kekasihku tidak ingin berjauhan dariku hm?" lanjut Maxim mengacak rambut wanita yang kini berstatus sebagai kekasihnya. Meskipun kenyataannya Maxim masih belum bisa melupakan Nasya tapi sebisa mungkin dia mencoba membuka hatinya untuk wanita lain, apalagi Alana sangat mencintainya jadi sudah sepantasnya dia membalas cinta yang Alana berikan padanya, Maxim juga berjanji akan belajar mencintai Alana meskipun sangat baginya untuk melupakan cinta pertamanya.
"Nyonya, sudah dua hari ini anda belum makan sedikitpun" ucap Bram pada Nyonya Rita yang tidak pulang sedari kemarin, Nyonya Rita terus terusan duduk di kursi tunggu yang dekat dengan ruangan Nasya, ia berharap Nicho mengizinkannya masuk untuk menjenguk Nasya meskipun mustahil Nicho memberinya izin setelah apa yang dilakukannya selama ini pada putrinya sendiri.
"Aku tidak lapar Bram, lihatlah putriku sangat bahagia menyusui putranya" ucap Nyonya Rita, yah kemarin Nicho menyuruh dokter agar menyuntik payudara Nasya supaya keluar air susu. Meski harus menunggu beberapa jam akhirnya Nasya bisa menyusui putranya seperti ibu lainnya.
"Sayang, mengapa terus terusan baby yang di beri susu? Daddy nya tidak hm?" tanya Nicho menggoda Nasya sembari menaik turunkan alisnya.
"Mas, apaan sih?" ucap Nasya dia malu hingga pipinya merah bak kepiting rebus, entahlah Nicho juga tidak mengerti semenjak kejadian itu Nasya banyak berubah, mulai dari pemalu, Nasya begitu malu saat Nicho melihat dirinya yang sedang memberi putra mereka asi padahal dulunya Nasya tidak pernah malu untuk memperlihatkan asetnya ada orang lain, ingat bukan Jika dulu Nasya pernah menjadi model panas untuk pakaian dalam?.
"Kenapa sayang? hm?" tanya Nicho lagi, dia jadi lebih semangat untuk menggoda istrinya.
"Jangan diliatin mas, malu" ucap Nasya yang langsung membuat Nicho geli mengingat bagaimana agresif nya Nasya dulu, apalagi sekarang Nasya selalu menyematkan kata mas pada namanya.
"Kenapa malu? aku sudah lebih dulu mencicipinya" ucap Nicho tak tahu malu, Nicho malah dengan sengaja sedikit meremas pa*yudara Nasya.
"Mas!" rengek Nasya.
tet tet tet
Ponsel Nicho berdering, dengan cepat Nicho mengangkat teleponnya dan beranjak dari ranjang, namun baru saja sedikit bergerak Nasya langsung menahan lengan Nicho.
"Jangan kemana mana mas" ucap Nasya menarik tangan Nicho agar kembali duduk di belakangnya sepeti tadi. "Angkat aja telepon nya di sini" lanjutnya lagi. Dengan terpaksa Nicho mengangkat telepon Bastian di samping istrinya.
"Ya Bas?" sapa Nicho pada Bastian di sebrang sana.
"Sebentar,, aku akan ke sana" jawab Nicho dengan mengetatkan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
Cup
kecupan hangat di tangannya yang terkepal langsung terasa berdesir hingga Nicho terhipnotis oleh senyuman dari wanita yang sedang menyusui putranya.
"Tidak usah pergi," pinta Nasya dengan tersenyum manis membuat Nicho tidak bisa menolak permintaan istrinya.
"Uruslah sendiri Bas, aku yakin kamu bisa memberikan mereka pelajaran yang sulit untuk dilupakan" ucap Nicho tanpa mengalihkan tatapannya dari wanitanya.
"okey, jagalah Nasya jangan sampai kecolongan lagi" ucap Bastian memperingatkan Nicho.
"Hm"
tut
Setelah menjawab hanya dengan deheman Nicho langsung menutup panggilan tanpa mendengarkan ucapan ucapannya lagi.
"Kenapa melarang ku pergi hm?" tanya Nicho pada istrinya.
"Aku hanya takut, putraku hilang" jawabnya lirih dengan ekspresi sedih bercampur takut.
"Tidak usah takut baby, putra kita tidak akan kemana mana" ucapnya menenangkan Nasya.
Tok tok tok
"Masuk" teriak Nicho dari dalam ruangan saat ruangannya diketuk dari luar.
"Selamat malam Tuan Nyonya" sapa seorang dokter yang menangani Nasya.
"hm" jawab Nicho mengangguk.
"Bagaimana keadaan anda Nyonya?" tanya dokter bertanya pada Nasya yang menyembunyikan bayinya ke dalam dekapan Nicho denga raut wajah takut bayinya akan diambil oleh dokternya. "Jangan khawatir Nyonya, saya tidak akan mengambil putra anda" ucap sang dokter mencoba menenangkan pasiennya.
"Jadi apa yang anda rasakan Nyonya?" tanya Dokter lagi, Nasya hanya menggeleng pertanda dia tidak merasakan apapun.
"Istriku tidak mengeluh apapun, dia juga tidak mengeluh tentang perutnya yang sakit, atau apapun. Dia hanya sesekali berdesis kesakitan karena pa*yudaranya" ucap Nicho menerangkan apa yang dia rasakan pada diri Nasya.
"Oh itu, hal umum terjadi, jika terasa sakit lagi saya sarankan gunakan pompa asi saat baby tidak ingin menyusu namun air asi sangat deras, itu bisa di karenakan air asi yang penuh di kantung payudara" jelas sang dokter, "Apa ada keluhan lain Tuan?"
"Tidak ada" jawab Nicho singkat.
"Baiklah jika tidak ada, besok pagi Nona bisa pulang" ucap sang dokter. "Terimakasih saya permisi"
Setelah kepergian sang dokter, Nasya langsung menegakkan kembali badannya dan menggendong putranya sepeti semula, tidak ada rasa takut atau apapun jika tidak ada orang lain selain Nicho di ruangan ini.
"Sayang, besok kita bisa pulang" ucap Nicho tersenyum bahagia sesekali mengecup tangan Nasya yang di genggamannya.
"Pulang?" tanya Nasya linglung, ia sangat takut keluar untuk keluar dari ruangannya.
"Tidak usah takut, aku akan selalu bersama mu baby, mulai saat ini sampai nanti" ucap Nicho mengelus pucuk kepala Nasya dengan penuh rasa cinta