
Jika bukan karna permintaan Nasya yang memintanya untuk adil terhadap istrinya, Nicho mana mau berbaring di ranjang yang sama dengan istri pertamanya.
"Stev, bisakah sedikit kendurkan pelukanmu? aku sungguh tidak bisa bernafas" Nicho tersiksa oleh pelukan Stev saat ini rasanya dia sulit bernafas apalagi untuk memejamkan matanya rasanya mustahil jika malam ini dia bisa tidur.
Lain hal nya jika yang memeluknya saat ini adalah Nasya, mungkin dia akan tersiksa oleh nafsunya sendiri,
"Sabarlah Nich, hanya menunggu 42 jam lagi," ucap Nicho menyemangati dirinya sendiri.
"Apa kamu berkata sesuatu Nich?" tanya Stev yang sudah mulai masuk ke alam mimpinya namun terganggu Karna gerutuan suaminya.
"Tidak, cepatlah tidur"
"Apa kamu akan meninggalkan ku lagi?" tanya Stev takut kejadian sebelumnya terjadi kembali.
"Tidak," jawab Nicho singkat.
"Jika tidak, cepatlah tidur" ucap Stev sambil mendekap erat tubuh kekar Nicho.
Sampai akhirnya Nicho memejamkan matanya dengan terpaksa, tidak berselang lama suara Stev mendengkur sudah terdengar, sebisa mungkin Nicho melepaskan tangan Stev yang ada di perutnya.
"Ah sial, mengapa waktu berjalan begitu lambat?" tanyanya lalu beranjak berpindah posisi berbaring di sofa panjang yang ada di dekat tv.
*
*
*
Howammmmm
"Apa tidur anda tidak nyenyak Tuan? mengapa di jam kerja begini anda sudah menguap lebih dari 4 kali?" tanya Maxim saat Nicho menguap di jam kerja,
"Berisik Max, kau cerewet sekali" desisnya lalu menumpu kepalanya di meja.
"Perlukah saya bawakan teh atau kopi agar anda tidak mengantuk?" tawar Maxim lagi.
"Bawakan aku segelas susu" ucapnya tanpa membuka matanya.
Tidak terasa Karna semalam Nicho tidak tidur sama sekali hingga saat ini dirinya sudah tertidur nyenyak dengan posisi yang tidak berubah.
"Tidak usah dibangunkan Max? berikan saja berkasnya padaku, aku akan memeriksanya" ucap Nasya yang sudah lebih dari 3 jam duduk di sana, memeriksa fail yang seharusnya di periksa Nicho.
"Baik Nona, apa anda ingin sesuatu?" tanya Maxim pada Nasya yang terlihat sudah lesu memeriksa berkas berkas di sana.
"Bawakan aku pancake," titahnya pada Maxim tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas berkas.
"Oh iya max, tolong belikan basreng dan cilok yang ada di sebrang jalan, kasih aidanya yang banyak" ucapnya lagi.
"Baik Nona"
Setelah kepergian Maxim Nasya melanjutkan pekerjaannya hingga selesai, setelah menyelesaikan nya Nasya beranjak dari duduknya, niat hati menghampiri Nicho ingin mengecupnya sedikit Nasya malah mendapati suara cempreng dari luar.
"Sayang,,,," teriak Stev masuk ke dalam ruangan
Dugh
"Awww" desis Nasya saat kepalanya kepentok meja, dia buru buru bersembunyi ke bawah meja Nicho hingga membuat Nicho terbangun dari tidurnya.
Sutttt
Isyarat Nasya menempelkan jari telunjuk di bibirnya saat Nicho membelalakkan matanya melihat istri keduanya berada tepat di bawahnya.
"Berhenti di sana!" teriak Nicho replek saat Stev mendekatinya, dia dengan deg degan beranjak dari duduknya menghampiri Stev agar istri pertamanya tidak melihat keberadaan madunya.
"Kenapa? apa mulai sekarang kau sudah berinisiatif menghampiri istrimu?" tanya Stev dengan senyuman melebar di bibirnya
"Mungkin" jawab Nicho acuh sambil memasukkan kedua tangannya ke kantung celana.
"Nona ini-----" ucapan Maxim menggantung saat mendapati Stev yang sedang berbincang dengan Nicho.
"Apa itu inisiatif mu juga?" tanya Stev lagi dengan wajah berbinar saat melihat pancake dan basreng di tangan Maxim.
"Thank you, mmmwah" ucap Stev mengecup singkat bibir Nicho yang bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Thanks max," Stev langsung mengambil makanan di tangan Nicho dan memakannya di sofa. "Apa kamu tidak ingin ini juga? ini enak banget loh"
Stev memakan makanannya dengan lahap seolah itu adalah makanan ternikmat yang pernah dia makan.
"Habiskan lah, aku harus memeriksa beberapa berkas" jawab Nicho lalu mengambil berkas di meja sofa dan membawanya ke kursi kebesarannya.
"Kamu memang pengertian Nich" ucap Stev di ujung sana pada Nicho.
Nicho mencoba menghilangkan kegugupannya entah mengapa dia takut jika Stev menemukan keberadaan Nasya yang berada tepat di bawah meja kerjanya, entahlah hatinya takut jika Stev wanita licik akan melakukan apapun agar membuat Nasya sengsara.
Awhhhhh
"Kenapa Nich?" tanya Stev khawatir sembari bernajak dari duduknya.
"Tidak usah kemari, aku tidak apa-apa ini hanya sedikit pegal saja" jawab Nicho namun tangannya mencoba menghalau cubitan yang di berikan Nasya, saat melihat ke bawah sana dimana istri keduanya berada, dia mendapati Nasya yang sedang cemberut dengan wajah yang kesal.
"Oh ya Nich, bisakah besok antar aku check up ke dokter?" tanya Stev
"Besok? bisa kok bisa" jawab Nicho yang langsung mendapat gigitan di tangannya yang memegang tangan Nasya.
"Ahhh sial mengapa harus jatuh?" gerutu Nicho saat pulpennya terjatuh ke bawah, padahal dia sendiri yang menjatuhkannya.
***Cup
Mmm,,, sstttt,,,,ahhhh***-----
Nicho mencum*Bu bibir Nasya dengan nafsu hingga Nasya terbuai oleh cum* buannya tapi buru buru Nasya tepis keinginannya Karna dia sadar jika saat ini jatah Nicho dan Stev apalagi di sini ada madunya sendiri.
Plak
Nasya menampar pipi Nicho saat Nicho malah semakin menjadi dengan tangan liarnya yang sudah masuk ke dalam aset miliknya,
"Kenapa Nich? apa pulpennya belum ketemu?" tanya Stev khawatir
"Tidak apa, hanya sedikit gatal sudah ada kok" jawab Nicho menyembulkan kepalanya ke atas dan duduk di kursinya
"Nich, bisakah bantu Daddy ku?" tanya Stev berjalan menghampiri Nicho lalu duduk dihadapannya.
"Bantu apa?" tanya Nicho dengan wajah memerah Karna ulah tangan Nasya yang membelai miliknya yang sudah on.
Srelekk
Nasya bahkan membuka sabuk dan resleting milik Nicho hingga milik suaminya hanya terhalang oleh CD nya saja.
"Perusahaan Daddy di bobol orang luar, tapi anehnya sampai saat ini belum ada satupun petunjuk pencurian" jelas Stev, "Nich, apa kau mendengarkan ku?" tanya Stev yang melihat Nicho malah memejamkan matanya.
"Yesss" jawab Nicho singkat dengan suara beratnya
Nasya dengan jahilnya melorotkan sedikit CD Nicho hingga milik suaminya benar benar telah keluar berdiri tegak bak ke Adilan, panjang bak sebuah sungai dan berotot bagaikan perut perwira.
"Yess? aku sedang meminta bantuan mu" ucap Stev dengan nada tinggi dia sangat sangat kesal dengan respon suaminya yang seolah sedang sibuk dengan dunianya sendiri
"Aku harus bagaimana?" tanya Nicho memaksakan melebarkan senyumnya
"Aku tau kamu pintar melacak, tolong lacakkan lokasi alamat IP ini" pinta Stev sembari memberikan sebuah layar di gadgetnya.
"Baiklah, aku akan mencoba tapi jangan terlalu berharap" Iyah bukan.
"Thanks Nich" ucap Stev memangku wajahnya dengan tangan dan menangkupnya dihadapan Nicho agar lebih leluasa memandang wajah salting dari suaminya.
"Hmmm" jawab Nicho mencoba sabar dengan tangan menahan mulut Nasya yang akan meng*ulum miliknya sedangkan Nasya hanya tertawa kecil, sesekali dia *******-***** erotis milik Nicho hingga Nicho harus menahan desahannya, tapi Nasya malah menaik turunkan tangannya yang sudah di basahi air liurnya di tiang bendera yang berdiri tegak.
Brakkkk
"Dimana Nasya?!" teriak Orlando di depan pintu masuk ruangan Nicho.
"Ada apa?" tanya Nicho mencoba menghilangkan hasrat nya yang mulai naik
"Dimana Nasya, j****g itu telah mencuri berkas milikku, Sialan!" bentanya
"Keluar kalian sekaran juga," bentak Nicho saat Stev akan membuka mulutnya
"Kamu mengusirku Nih?" tanya Stev tak percaya
"Cepat keluar, aku muak melihat wajah kalian, keluar" bentak Nicho emosi dengan dada dan jakun yang naik turun, hingga akhirnya Stev dan Orlando pun pergi dari apartemen itu,
Brak
Stev dan tuan Orlando keluar ruangan dengan membanting keras pintunya lalu dia menekan pintu kunci otomatis dengan suara nya
"Aku tidak akan melepaskan mu baby" ucap Nicho mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Nasya yang sudah acak acakan
"Ganti makananku cepat," teriak Nasya menyuruh Nicho agar mengganti makanan yang tadi dimakan Stev.
"Baiklah, asal selesaikan dulu tugasmu" goda Nicho dengan tangan yang menuntun tangan Nasya agar memegang miliknya lagi
Awhhhhh
Nasya malah mencubit dan sedikit memelintir milik Nicho agar tau rasa.
"Bagaimana jika nanti dia marah dan tak ingin bangun lagi?" tanya Nicho merengek kesakitan
"Bodo amat, cowok banyak, untuk apa takut?" ucapnya dengan bibir maju lima senti dan beranjak dari duduknya,
"Dasar otak ************!" ucapnya lalu berlalu dari sana meninggalkan Nicho yang sedang cekikikan akan tingkah Nasya yang menurutnya posesif.