
"Ada apa Stev?" tanya Nicho saat istri pertamanya masuk dengan raut wajah yang sumringah.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat suamiku saja, apa itu salah?" tanya balik Stev memeluk leher Nicho dari belakang, dia juga tidak segan menempelkan dagunya di bahu tegap milik Nicho. "Ini adalah hari yang paling bahagia yang baru aku rasakan"
Deghh
Entah mengapa perasaan Nicho tak menentu saat Stev mengatakan kata kata yang tak biasanya, secepat mungkin dia menepis pemikiran negatif tentang Stev, mungkin hal yang membuat Stev berbeda adalah perlakuannya beberapa hari kebelakang yang berbeda dari sebelumnya.
"Ada apa memangnya?" tanya Nicho penasaran, takut Feeling sensitifnya benar.
"Tidak ada apa apa, aku hanya bahagia dengan perubahan sikapmu" jawab Stev dengan senyuman mengembang.
"Aku hanya tidak ingin mempengaruhi pertumbuhan putraku hanya karena suasana hati ibunya tidak baik" ucap Nicho to the point, "Bisakah duduk di sofa saja, aku sedikit tidak nyaman di posisi seperti ini, ini membuatku tidak fokus jadi duduklah di sana" lanjut Nicho tegas merasa risih dengan kelakuan stev saat ini.
"Kamu tidak fokus apa karena milikmu terbangun oleh ulahku honey,?" bisik Stev di telinga Nicho dengan suara erotis seolah mengajak Nicho bertempur di ranjang.
"Apa di otakmu hanya ada ************? aku tau aku normal, tapi jika setiap waktu aku terus terusan terangsang aku pasti tidak normal, di otakku tidak hanya hal ranjang jadi tidak setiap kamu menggodaku aku menginginkanmu" ucap Nicho bangkit dari duduknya menatap Stev dengan tajam seolah sedang menguliti lawan bicaranya hidup hidup.
"Kau merendahkan ku?" tanya Stev tak percaya dengan ucapan Nicho, wanita mana yang tidak malu di lontarkan kata kata kejam yang Nicho lontarkan padanya. "Apa kamu tidak malu menitipkan benih pada wanita yang kamu rendahkan?" lanjut Stev dengan dada bergemuruh menahan amarah.
"Aku salah menitipkan, seharusnya tidak aku titipkan di rahimmu, jika aku tau kamu serendah ini dari awal aku tidak akan menyentuhmu seujung kuku pun" ucap Nicho penuh amarah, ia marah saat stev mengatakan putranya bersemayam di tempat murahan.
"Jangan bawa bawa putraku, dia belum lahir saja sudah kamu jadikan senjata apalagi nanti, seharusnya aku sadar, dari dulu kamu memang tidak pernah meninggalkan dunia murahan" ucap Nicho dengan suara tinggi lalu berlalu meninggalkan Stev seorang diri dengan penuh amarah.
Sepanjang perjalanan perasaan Nicho entah mengapa tidak enak, dia meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menenangkan hati dan pikirannya, hanya bertemu Nasya saja itu adalah obatnya.
"Sedang apa dia?" lirih Nicho membayangkan aktifitas Nasya yang pastinya sedang rebahan di ranjangnya sambil mengemil snacks, lalu tatapannya tanpa sengaja menangkap para pedagang kaki lima yang disukai Nasya. Akhirnya Nicho membeli berbagai macam makanan di sana untuk istri mudanya.
"Thank You" ucap Nicho pada pedagang, lalu melanjutkan perjalanannya kembali, sampai di rumah Nicho memarkirkan mobilnya dengan asal dan berteriak lembut memanggil istrinya.
"Baby I'm coming" teriak Nicho memanggil Nasya, "Baby turunlah" lanjut Nicho berteriak, dia hanya berdecak kesal saat istrinya tidak muncul muncul
"Ckk.... baiklah aku akan menyeret mu turun baby" ucap Nicho menatap kamar atas yang ditempatinya dengan Nasya, namun dadanya langsung berdebar hebat saat tak mendapati siapapun di sana, dia juga baru sadar jika pintu gerbangnya terbuka lebar tanpa ada pak Yanto di post satpam rumahnya.
"Baby Where are youu!!!" teriak Nicho frustasi mengelilingi rumah lalu dia tercengang saat melihat belakang rumahnya yang sudah di dekorasi dengan sedemikian rupa, berbagai foto hasil USG menggantung di sana dengan balon huruf "HELLO DADDY" jantung Nicho berdebar saat melihat beberapa test pack dengan garis dua di sana, ada rasa haru saat sadar jika dirinya akan menjadi seorang ayah, Nicho berfikir ini adalah suprise yang Nasya rencanakan dengan seluruh pekerjanya dia tersenyum bahagia, dengan air mata yang mengalir di pelupuk matanya dia terharu dengan cara Nasya memberinya kejutan tepat di hari ulang tahunnya.
"Thank you baby" lirih Nicho mencium foto USG di sana dengan rasa haru, namun tangis haru itu berubah dengan rasa ingin menjerit sekeras kerasnya saat dirinya mendapat telepon dari Bram jika istrinya di bawa oleh sekelompok orang.
"Apa kamu berbohong Bram? aku tau ini prank, ini pasti prank kejutan di hari ulang tahunku bukan?" tanya Nicho dengan tertawa miris diiringi air mata yang tak berhenti, ingin rasanya ia tidak percaya dengan ucapan Bram namun dia tidak memiliki waktu lagi selain berangkat ke tempat Bram berada.
"Aku harap ini hanya Prank di hari ulang tahunku" lirih Nicho mencengkeram setir dengan kilatan amarah bercampur kesedihan di matanya