My Secret Bride

My Secret Bride
Bab57



Mata Nasya mulai mengerjap saat mendengar suara suara di sekelilingnya, dia melenguh pelan ingin membuka matanya namun sulit, dengan sekuat tenaga ia mulai membuka matanya dengan perlahan.


"To....long ja....Ngan lakukan....innn...ni pada Nona Tu....an" suara lirih seorang pria yang terdengar familiar di telinga Nasya.


Hahahahahah


Suara tawa seorang wanita menggema di seluruh ruangan, "Apa kau bilang? jangan lakukan apa? jika kamu tidak ingin aku dan mertuaku melenyapkan majikanmu maka bangkitlah dan bawa pergi majikanmu jika bisa".


"Nooo....na di....a ada..lah a..dik nona" ucap mang Ucup dengan nafas yang sudah melemah, ia sungguh tidak tahan lagi dengan keadaannya yang saat ini sudah babak belur akibat pukulan serta hantaman dari anak buah Stev dan Tuan Vernandes


"Jika dia memang adikku, dia tidak mungkin mengambil suami kakaknya sendiri, dia yang memulai lebih dulu maka dia pula yang harus membayar konsekuensinya" Stev sungguh ingin melenyapkan adiknya yang sudah mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya, baginya dari dulu Nicho adalah miliknya bukan milik adik tirinya.


"Woahhh,,," prok prok prok Stev bertepuk tangan saat melihat Nasya sudah membuka kelopak matanya tanpa bertenaga. "Baguslah jika kamu sudah bangun j****g"


"Setttt...tevv" lirih Nasya saat melihat kakak tirinya tertawa terbahak-bahak di sampingnya yang tidak bertenaga


"Aku pikir menghabisi mu secara langsung tidak akan membuatku puas," ucap Stev setelah berpikir beberapa kali, Stev yakin jika Nasya lenyap pun Nicho tidak akan mencintainya, hati Nicho akan tetap milik Nasya meski Nasya sudah tiada di dunia ini. "Percuma,"


"Pah, siapa yang menurutmu pantas menjadi ibu dari cucu cucu mu?" tanya Stev pada Tuan Vernandes dengan tersenyum miring.


"Tentu saja kamu Stev, kamu wanita paling sempurna untuk menjadi pendamping putraku, apalagi menjadi ibu dari cucu cucuku aku yakin cucuku tidak akan gagal jika dilahirkan olehmu" ucap Tuan Vernandes tanpa berpikir panjang, memang Iyah Tuan Vernandes tidak menyukai Nasya karena almarhum papah Nasya dahulu.


"Apa kamu tahu pah? putramu tetap tidak akan mencintaiku meski j****g ini kita habisi langsung, so, bagaimana jika kita hancurkan masa depannya saja sebagai pembalasan atas pengkhianatan mereka, tidak apa bukan pah jika Nicho sedikit tersakiti, aku juga yakin rasa sakit Nicho akan terobati setelah putra ku lahir"ucap Stev pada Tuan Vernandes.


"Aku pikir juga begitu," jawab Tuan Vernandes menyetujui usulan menantunya. "Panggilkan ahli bedah sekarang!" perintah Tuan Vernandes pada bawahannya dengan berteriak.


Brughhh


Mang Ucup bersujud di bawah kaki Tuan Vernandes meminta agar Nasya di bebaskan "Tuan saya mohon, jangan lakukan itu pada Nona Nasya, Nona tidak ber hak mendapat hukuman ini, biar saya yang menanggung semua kesalahan ini" pinta Mang Ucup dengan air mata yang sudah berwarna merah bercampur dengan darah yang memenuhi luka di wajahnya.


"Patahkan kedua kaki dan tangan nya!" perintah Tuan Vernandes, "Aku tidak suka bernegosiasi dengan seorang rendahan sepertimu" ucap Tuan Vernandes pada Mang Ucup lalu menendang perut mang Ucup beberapa kali hingga mulutnya mengeluarkan darah, "Mengganggu saja"


"Cepat lakukan" perintah Tuan Vernandes saat ahli bedah suruhannya sudah datang, "Hei itu apa? jangan beri dia obat bius, biarkan dia merasakan kesakitan atas apa yang dilakukannya, tidak ayahnya tidak anaknya membuat ulah saja" ucap Tuan Vernandes melarang anak buahnya mengoleskan obat bius di perut rata milik Nasya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Nasya dengan suara lemah dan air mata yang tak berhenti keluar saat melihat, bajunya di buka hingga menampakkan perut mulusnya.


"Stop" ujar Tuan Vernandes saat ahli bedah akan memulai aksinya.


"Kenapa pah? jangan bilang jika papah berubah pikiran karena kasihan" ucap Stev dengan raut wajah menahan kekesalan.


"Bukan begitu sayang, aku pikir Body nya bagus sangat pas dengan apa yang selalu aku bayangkan, melihat perutnya saja sudah membuatku bergairah" ucap Tuan Vernandes dengan tatapan mesumnya. "Cepat minggir"


"Aku ingin menjenguk cucuku sebelum mengirimnya ke neraka"ucap Tuan Vernandes tersenyum iblis lalu membuka resleting celananya dan mengeluarkan pusakanya.


"Jangan pah, aku mohon,,, plisss pahh" tangis Nasya pecah saat mertuanya menjamah seluruh tubuhnya bahkan Tuan Vernandes tidak segan memberikan tanda di setiap jejaknya. Stev hanya bisa tertawa puas melihat bagaimana tersiksanya Nasya saat di gauli ayah mertuanya, sedangkan mang Ucup hanya bisa menangis dalam diam dengan menutup matanya, hatinya hancur saat mendengar teriak dan permohonan yang keluar dari bibir majikannya.


"Aku mohon pah, hentikan,,,,, awhhhhh,,," teriak Nasya mencoba memberontak namun kedua kaki dan tangannya sudah di borgol dengan posisi terlentang jadi percuma saja memberontak. Nasya hanya bisa menangis dalam diam memohon pertolongan Tuhan.


"Arghhhhhh" teriak Tuan Vernandes saat sudah mencapai klimaksnya, "Kau sungguh nikmat Honey, pantas saja putraku tergila gila olehmu" ucap Tuan Vernandes menjilati milik Nasya yang terdapat banyak cairan kental berwarna putih.


"Tidak usah menangis, bukankah Orlando adalah klien mu? jadi aku harap kamu tidak menangis krena di gagahi oleh pria Tua" ucap Tuan Vernandes menutup resletingnya lalu berjalan menghampiri kepala Nasya, "Terimakasih atas kenikmatan ini, cepat lakukan"


"Kau iblis Tua Bangka yang tak tahu malu" umpat Nasya pada Tuan Vernandes dengan kilatan kebencian.


Awhhhhhhhhhhhh


Nasya berteriak saat sesuatu yang tajam membelah perutnya,


"Kumohon jangan bunuh anakku, aku mohon hentikan ini, aku janji akan pergi dari kehidupan kalian, Stev aku mohon lepaskan aku" teriak Nasya menangis histeris karena sesuatu yang sangat berharganya akan diambil paksa oleh orang orang yang tak berperasaan, bahkan dia melupakan rasa sakitnya yang menghantam seluruh tubuhnya dia hanya meminta agar jangan mengambil putranya.


"Bibirmu cantik saat berteriak," ucap Tuan Vernandes tersenyum miring lalu mencium bibir Nasya.


"Mmmphhhh" Nasya menggigit bibir Tuan Vernandes yang menc*umbunya,


Plak


"Dasar j****g" umpat Tuan Vernandes kesakitan karena bibirnya di gigit oleh Nasya hingga terbelah, untung saja tidak lepas dari asalnya.


"Lakukan dengan cepat jangan membuang waktu, sepertinya aku harus menjahit bibirku dulu" ucap Tuan Vernandes lalu pergi dari sana.


"Inilah akibatnya jika kamu bermain main denganku" ucap Stev pada Nasya yang masih bertahan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, bayangkan saja perutnya di belah tanpa obat bius tergores sedikit saja rasanya hampir mati apalagi Nasya.


"Anakku,,,,,"ucap Nasya nanar saat seorang dokter mengambil kantung kecil yang berisi dari dalam perutnya.


"Kau lihat, dia adalah calon anakmu beserta rahimmu, kamu tidak akan pernah bisa memiliki anak kembali" ucap Stev lalu pergi meninggalkan Nasya yang menangis miris meratapi kehidupan malangnya, dia sudah tidak peduli lagi dengan rasa sakit yang menimpanya dia hanya terus terusan bergumam anakku anakku dan anakku, hingga akhirnya Nasya menutup matanya sepenuhnya.


jika dengan kepergian ku adalah yang terbaik bagi semuanya, maka aku mohon Tuhan ambillah hambamu yang berlumur dosa ini, aku tidak sanggup menghadapi dunia setelah kejadian ini.


Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu selain kepergian anaknya, itulah yang dirasakan wanita yang sat ini terbaring lemah dengan mata tertutup namun perutnya masih dijahit oleh para dokter yang mengingkari sumpahnya sendiri.


Mang Ucup hanya bisa berteriak dalam hati memohon agar Tuhan menyelamatkan kehidupan Nona nya, dia tidak sanggup saat melihat Nona nya sudah tak mengeluarkan suara lagi, ingin rasanya Mang Ucup merengkuh tubuh kecil yang sudah dianggap putrinya sendiri namun apa daya untuk bisa bernafas saja Mang Ucup sudah sangat Alhamdulillah.