My Secret Bride

My Secret Bride
Bab7



"Jangan harap aku akan melepaskanmu begitu saja"


Nicho saat ini sedang duduk bersandar di kursi balkon kamarnya dengan menatap ke atas langit, tapi hatinya entah sedang berkelana kemana. Memikirkan sang kekasih entah sedang apa, ingin rasanya memeluk atau hanya sekedar menelponnya saja, tapi apalah daya dia hanya bisa melakukan ini demi kekasihnya.


"Maafkan aku baby, bersabarlah sebentar lagi aku akan menjemputmu".


Lain dengan Nicho saat ini Nasya sedang melampiaskan kekesalannya dengan menangis sepanjang hari.


"Stop Nasya kamu wanita cantik dan berbakat, masih banyak pria lain yang rela meninggalkan segalanya demi mendapatkan kamu"


Nasya terus terusan berbicara sendiri mencoba menyemangati dirinya sendiri walau akhirnya dia akan menangis kembali. Kejadian siang tadi benar-benar tidak hilang dari memori di otaknya.


flash back of


"Gak usah ngaco Pah, aku gak bakal ninggalin Nasya sampai kapanpun" Nicho berteriak dengan wajah memerah dan rahang mengeras, dia tidak terima jika sang ayah memisahkannya dengan sang kekasih.


"Hanya dengan menjentikkan jariku saja, kau bisa lenyap dan turun dari jabatanmu sekarang juga" Tuan Vernandes berbicara santai sambil mendudukkan bokongnya pada sofa yang ada di sana. "Atau kau ingin apa yang sudah ku katakan benar benar aku hancurkan?"


"Gak usah ngancem doang, buktiin kalo papah berani"


"Lihatlah aku sudah menyiapkan semuanya, hanya tinggal mengklik saja duniamu akan hancur seketika" ucap tuan Vernandes sambil memperlihatkan tulisan yang ada di ponselnya.


"****!.... apa ini caramu mengancam seseorang "


"Pilihlah, memilih ini atau sesuatu yang ada di sampingmu?"


Nasya diam hatinya berdebar dan jantungnya berdetak dengan sangat kencang, dia takut jika Nicho lebih memilih jabatannya dibanding memilih dirinya sendiri.


"Aku akan melepaskan Nasya" ucap Nicho tegas tanpa melihat Nasya yang kini menatapnya dari depan.


jederr.


Bagai tersambar petir di siang bolong, Nasya syok menerima kenyataan jika sang kekasih lebih memilih harta dari pada dirinya. Lututnya melemas seluruh tubuhnya pun bergetar dengan hebat, dia mencoba mencari pegangan untuk menahan bobotnya. Untung saja ada Bram yang menahannya dari belakang, dia ingin terlihat tegar walau nyatanya dia hancur.


Nasya kecewa bercampur malu, ia kecewa Karna kenyataan ini semua, namun ia lebih malu dimana kepercayaan dirinya tadi, dengan percaya diri bermanjaan pada sang kekasih dihadapan orang yang dianggapnya musuh namun berakhir dengan sang kekasih melepaskannya.


"Tanpa disuruh pun aku akan pergi dengan sendirinya," ucap Nasya dengan gaya arogannya padahal nyatanya ia sedang menahan rasa sesak di dadanya


"Good, kau lebih pantas bersama orang rendahan dibanding dengan putraku" ucap Nyonya Vernandes sambil tersenyum bahagia, dia berjalan mendekati Nasya dan mendorong bahunya sambil berkata. "Ingat! kau hanya seonggok p3l4cvr!"


Nasya tak bergeming dia hanya menatap Nyonya Vernandes dengan tatapan meremehkan, "Aku memang p3l4cvr!" ucap Nasya tegas sambil mendorong dorong tubuh Nyonya Vernandes dengan jari telunjuknya. "Sama sepertimu botch!" bisik Nasya tepat di samping telinga Nyonya Vernandes.


Darah Nyonya Vernandes mendidih mendengar ucapn kurang ajar Nasya dia berniat menampar pipi mulus milik Nasya, namun Nasya menahannya lebih dahulu.


grepp


"Tidak usah mengotori tanganmu hanya Karna omongan seorang p3l4cvr!" ucapnya lalu berjalan menghampiri Nicho yang sejak tadi diam menahan amarah dan mencoba menelan emosinya. "Aku pergi, good bye Sugar Daddy" ucapnya lalu mencium bibir sensual milik Nicho.


Cup


"Aku tahu kau pasti merindukan ciumanku, itu adalah bonus untukmu Karna sudah menyewaku dalam kurun waktu panjang" Nasya pergi meninggalkan Nicho tanpa berbalik sedikitpun dia berjalan sendiri seolah olah tidak terjadi apa apa, dia pulang sendiri Karna tidak mungkin Bram mengantarkannya.


*


*


Keesokan harinya Nasya mengemasi seluruh barang barang yang diperlukannya, dia akan pindah ke salah satu Apartemen di dekat kampusnya, yah meskipun apartemen barunya tidak semewah apartemen lamanya, tapi dia tetap bersyukur karna masih ada uang di ATMnya. Dia pun sudah memberitahu sahabatnya Alana dan Gabby tentang kepindahannya dan masalahnya.


"Ah melelahkan" ucap Nasya merebahkan dirinya di ranjang miliknya.


"Apa bajingan itu tidak berniat mengundangku?" Nasya terus bertanya tanya pada dirinya sendiri.


"Ayolah Nasya, kau tidak mungkin tidak bisa melupakannya bukan?"


Nasya terus terusan berbicara sendiri bak orang gila, rambutnya yang acak acakan dan bajunya yang tidak rapih, benar benar menjadi nilai plus seorang pasien rumah sakit jiwa.


Ting tong


Suara bel apartemen Nasya di tekan dari luar


ceklek


"Hahahahah, mantan sugar baby tinggal disini" Alana masuk menerobos tanpa dipersilahkan oleh sang nyonya rumah, sambil menenteng makanan ditangannya.


"Mau apa kau kemari?" tanya Nasya sambil mendudukkan pantatnya di sofa.


"Aku hanya ingin menawarimu pekerjaan" jawab Alana sambil menyusul Nasya duduk. "Dulu ibuku menawarimu untuk menjadi modelnya kau tidak mau, apa sekarang masih sama?"


"Apa ibumu masih menungguku menjadi modelnya?" tanya Nasya.


"Gak usah bertele tele kau mau? atau tidak?" tanya Alana lagi sambil menatap Nasya penuh selidik


"Okey"


"Are you sure?" tanya Alana girang.


"Of course!" seru Nasya tegas yang langsung mendapat pelukan girang dari Alana.


"Sebagai imbalan Karna loh udah setuju gabung, nih dari mommy" ucap Alana sambil menyodorkan sebuah kartu undangan.


"Apaan ini?" tanya Nasya bingung Karna tiba-tiba diberi sebuah undangan berwarna hitam dengan dilapisi gold yang terkesan mewah.


"Wedding laki loh" ucap Alana terbahak-bahak


"Sialan loh, terus gue harus gimana sekarang?"


"Gue tau loh pasti ada sedikit nyeri karena dihempas bagai abu oleh si Daddy, makanya loh harus buktiin kalo loh wanita elegan yang bisa hadir ke acara pernikahannya tanpa drama tangis tangisan" jelas Alana. "Tenang aja masalah baju biar gue yang urus"


"Gue pikir kesannya tuh jadi kek gue gak rela ditinggalin dia kalo gue mesti dandan glamor"


"No! bagi gue kesannya tuh, loh wanita tegar kuat dan tentunya tak tahu malu" Alana menjelaskan dengan tertawa meledek.


"Sialan loh, apa apaan gak tau malu, gak mau ah" ucap Nasya menolak


"Ehhh, inget ucapan loh dulu. Kita harus membalas perlakuan mereka dengan balasan yang setimpal, mereka bilang kalo loh j****g buktiin aja seperti yang mereka bilang, Karna kalo jadi wanita baik tetep aja dimata orang orang syirik loh tetep j****g! so jangan membuang waktumu untuk orang yang gak punya polo beastyhhh"


"Tumben loh pinter?" tanya Nasya sambil tertawa.


"Yah, gue belajar dari kehidupan loh" ledek Alana sambil mencoel dagu Nasya.


Mereka pun tertawa terbahak bahak Karna bernostalgia kisah kehidupan Nasya yang bisa dibilang nyeleneh, dia akan menjadikan dirinya seperti omongan orang lain agar membuat si neng ghibah merasa kesal sendiri.