My Secret Bride

My Secret Bride
Bab8



***The wedding


tak tak tak


Suara High heels menggema di dalam ruangan, seorang wanita cantik dengan balutan dress hitam mengkilap dengan tali spaghetti dan belahan sampai paha dengan rambut di sanggul agar terkesan wanita elegan, mampu membuat semua mata menatapnya tanpa berkedip.


ckrek ckrek


Semua wartawan memotretnya tanpa berhenti dia berjalan di atas karpet merah bak seorang model internasional yang sedang berfashion show, Ia naik ke atas pelaminan memberi selamat kepada sang kekasih atas pernikahannya.


"Happy wedding Dude" ucap Nasya lembut pada Nicho dengan memamerkan senyum menawannya.


"Happy wedding sister" ucapnya lagi pada Stevani dengan tertawa mengejek.


Nasya bergabung dengan sahabatnya yang sudah lebih dulu berada di sana.


"Gimana? jantung aman?" ledek Alana


"Sialan loh"


"Kenalin ini dia Arsen Kaka gue" ucap Gabby memperkenalkan kembarannya pada Nasya.


"Hai aku Nasya Moon" ucap Nasya sambil menyodorkan tangannya pada Arsen.


"Aku Arsen Gautama" ucap Arsen menjabat tangan Nasya tanpa mengalihkan tatapannya pada Nasya.


"Biasa aja kali bang liatnya, " ucap Nasya mengedipkan matanya dan mencoba melepaskan tangannya dari pria 30 tahunan itu.


"Hahah sorry sorry lagian loh cantik banget Sya" jawab Arsen sambil mencoel dagu Nasya karena gemas melihat tingkah Nasya yang cukup genit.


"Are you sure? Aku cantik?"


"Yes you're beautiful girl"


"Thank you Dude" ucap Nasya tersipu malu.


Arsen menggandeng tangan Nasya mengobrol dengan kolega kolega bisnis yang dikenalinya dengan tangan yang setia memegang Nasya. Apakah Nasya marah atau kaku? jawabnya adalah tidak, kenapa? Karna Nicho saja bisa melupakannya mengapa Nasya tidak sebaliknya.


Di atas pelaminan Nicho memandang Nasya dengan wajah memerah menahan amarah jika tidak ingat akan ancaman ayahnya ingin rasanya Nicho membanting seluruh benda yang ada dihadapannya.


"Arsen Gautama"


"Hey, Tuan Muda Vernandes yang terhormat" jawab Arsen meledek Nicho. "Ada apa?"


"Tidak ada aku hanya ingin mengingat namamu saja" jawab Nicho lalu menghampiri salah satu koleganya dengan menggandeng lengan Stev.


"Ahhh sialann, dasar j****g" desis Nasya sebal melihat tatapan Stevani yang seakan mengejek kekalahannya.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Arsen bingung


"No, aku ke toilet dulu sebentar" izin Nasya pada Arsen dan temannya.


Nasya pergi ke toilet seorang diri, rasanya baru satu jam berada di sini serasa sudah satu tahun lamanya disini. Mustahil jika Nasya tak cemburu melihat Nicho dan Stevani bak pasangan yang saling mencintai, jika dipikir pikir untuk apa masih mengharapkan seseorang yang sudah mengkhianati bahkan membuang kita? tapi apalah daya cinta terkadang membuat diri kita bodoh. Dia juga sebal melihat keluarga Orlando yang begitu menikmati harta yang seharusnya menjadi miliknya.


"Ahhh Dasar sialan" ucap Nasya sambil menendang pintu toilet dan berdiri dihadapan cermin.


"Tenang saja Nasya kamu pasti bisa mengambil milikmu, so kamu harus sabar" ucap Nasya menyemangati dirinya sambil mencuci tangannya di kran.


"Dan kau Stev! ku pastikan kau tak akan pernah bisa hidup dengan tenang" ucap Nasya lagi sambil tersenyum smirk dan terus terusan mencuci tangannya.


Sepasang tangan memeluknya dari belakang dan sesuatu yang kenyal terasa menempel bahkan mengecup beberapa kali pundak polosnya dan leher jenjangnya. Dia segera melihat siapa gerangan yang lancang menjamah tubuhnya lewat cermin didepannya. Ketika tau siapa pelakunya dia segera berbalik dan mendorong sang pelaku.


"Bastard, lepasin gue" ucap Nasya sambil mencoba keluar dari dekapan Nicho.


"Diamlah, aku hanya ingin memelukmu" ucap Nicho sambil memejamkan matanya dan menyandarkan dagunya di bahu polos milik Nasya.


Jujur dekapan inilah yang Nasya rindukan beberapa hari terakhir, dekapan lelah seolah olah sedang menyalurkan frustasi nya.


"Aku lelah baby, jangan memancing emosiku terus, kau tidak tau apa yang aku lakukan" perkataan Nicho mampu membuat jantung Nasya berdegup dengan kencang, dia merasa bersalah Karna tidak meminta sang kekasih menjelaskan alasannya, tapi akhirnya dia tersadar ini adalah salah, kekasihnya kini sudah menikah statusnya dulu dan sekarang berbeda, jadi dia tidak boleh terus terusan begini seolah olah kemarin dan sekarang masih tetap sama.


"Lepaskan aku sialan! aku tidak peduli apa yang sedang kau lakukan satu hal yang aku tahu, memelukku adalah salah! Aku bukan J****g mu lagi" ucap Nasya lalu menginjak kaki Nicho hingga mengaduh dan akhirnya terlepas dari dekapannya.


"Harus berapa kali aku bilang? kamu bukan J****g kamu adalah kekasihku" ucap Nicho dengan darah yang mendidih dan amarah yang bergejolak


Nasya hanya tersenyum mengejek, meremehkan ucapan Nicho saat ini. "Kadang aku suka mikir kamu bener bener buaya, kamu menjadikan aku ratu oleh ucapanmu namun di hempas bagaikan debu oleh sifatmu"


"Jangan berpikir yang tidak tidak, pulanglah Maxim akan mengantarmu" ucap Nicho mencoba menelan emosinya dengan mengecup tangan Nasya.


"Bahkan saat inipun kamu masih memperlakukan aku bagai j****g mu, kau menjamah ku semaumu padahal saat ini status mu adalah suami orang, lalu apa kata ucapanmu jika aku bukan J****g? padahal kamu memperlakukan aku seperti j****g mu saja" ucap Nasya dengan mata yang mengkilatkan amarah dan berlalu dari sana meninggalkan Nicho yang hanya diam mematung.


Nicho sadar, dia tidak bisa menahan nafsunya sendiri jika berhadapan dengan Nasya. Seolah olah ada magnet tertentu pada tubuh Nasya, apalagi saat ini Nasya mengenakan pakaian yang sangat terbuka seperti halnya kebanyakan wanita.


*


*


Pagi yang cerah udara yang masih segar, namun jalanan sudah macet oleh kendaraan. Nasya berangkat ke kampus dengan berjalan kaki Karna jarak apartemen ke kampusnya cukup dekat, jika dilihat di balkon kamarnya saja terlihat jelas bangunan tinggi nan megah yang menjadi tempatnya menuntut ilmu saat ini.


"Hai cewek" ucap seorang pria di dalam mobil yang hanya menurunkan setengah kaca mobilnya saja. "Mau bareng gak baby?"


"Gak usah, gue masih punya kaki" ucap Nasya ketus sambil melanjutkan perjalanannya.


Di goda atau menggoda bagi Nasya itu adalah kehidupannya sehari-hari, tapi entah mengapa meskipun Nasya sering menggoda pria tetapi tidak ada pria yang mengatakannya wanita murahan. Why? Karna Nasya tidak mudah diajak kencan bahkan hanya jalan oleh sembarang pria.


"Ahhh, hari yang melelahkan" ucap Nasya sambil mendudukkan bokongnya di salah satu kursi dekat Alana.


"Tumben Luh ikut pelajaran ini?" tanya Alana bingung.


"Gue mau jadi anak rajin biar kaya raya"


Alana hanya tertawa mengejek mendengar ucapan Nasya yang menurutnya menyeleneh


"Mommy bilang, siang nanti Luh ada pemotretan" ucap Alana


"Dimana?"


"Di studio Bokap gue" ucap Alana. "Tapi ada pengantin baru juga di sana" lanjutnya sambil tertawa


"Kenapa harus ada dia?"


"Dia juga ada pemotretan, gue yakin Luh pasti bisa, lagian menurut gue Luh mah emang pantesnya jadi model, bukan Business women"


"Why?" tanya Nasya malas Karna hampir semua orang mengatakan hal yang serupa.


"Pertama body Loh yang aduhai dan kedua Followers loh bisa dibilang banyak gunakan sosmed loh dengan hal yang bermanfaat bagi diri loh, bukan cuma post foto foto kece doang"


"Berisik ah" ucap Nasya sambil menenggelamkan wajahnya pada meja dihadapannya