
Niat dari rumah berangkat kerja ke kantor namun nyatanya Nicho malah mangkir ke sebuah hotel yang ada di dekat kantor dengan istri keduanya.
Brughh
Nicho melempar halus tubuh mungil milik istri kecilnya ke atas ranjang king size dihadapannya tanpa menunggu lama Nicho langsung menyergap bibir ranum milik Nasya yang sedari tadi menggodanya tanpa menunggu lama Nicho langsung membuka pakaian Nasya dan membuangnya dengan asal.
"Apa akan sesakit kemarin?" tanya Nasya was was, takut akan rasa sakit yang kemarin menerjangnya.
"Aku akan mencoba pelan, agar tidak terasa sakit" jawabnya dengan senyuman melebar mencoba memberi Nasya support jika ini mungkin sesakit kemarin.
***Cuppp
Awwwhhhhhsss***
Nasya meringis saat Nicho mencoba membobol gawang miliknya, namun dengan reflek Nicho menautkan bibirnya dengan Nasya agar Nasya melupakan rasa sakit di area bawahnya, hingga akhirnya suara de*Sahan demi de*Sahan memenuhi ruangan luas dengan atmosfer yang panas meski sudah menghidupkan Ace yang begitu dingin.
"Nichhh, bisakah kamu berhenti sekarang? ini sudah jam sebelas apa kamu masih tidak puas padahal sudah 4 kali pelepasan?" tanya Nasya kesal pada suaminya yang masih bergerak di atas tubuhnya yang sudah terkulai tak berdaya.
"Seben...tarrr" ucap Nicho dengan suara beratnya namun masih menaik turunkan pinggulnya.
"Ini hari jum'at, kamu harus berangkat jum'atan" Nasya mencoba mengingatkan suaminya untuk melaksanakan solat Jum'at.
Ahhhhhhhh
Desah Nicho saat mencapai puncak kenikmatan nya, lalu menggulingkan tubuhnya ke samping dan memeluk erat tubuh istri mudanya yang kelelahan.
"Terima kasih,, cuppp" ucapnya lalu mencium kening dan pipi Nasya,
"Nichh, solat jum'at bukan tidur" Nasya mencubit perut Nicho yang malah memejamkan matanya.
"Aku lelah nanti saja Minggu depan" jawabnya tanpa membuka matanya
"Oke, kalo gitu kamu gak usah minta jatah Minggu depan aja mintanya gak bisa nanti malam besok dan lusa" ancam Nasya yang langsung membuat mata Nicho terbuka lebar
"Yah gak bisa gitu dong beb," Rajuk Nicho seperti anak kecil yang dipotong yang jajannya.
"Lagian aku sudah terbiasa tidak solat" lanjutnya bodoh yang langsung mendapat tendangan maut dari Nasya.
***Brughh
Awhhh***
Bukan Nicho yang bersedia kesakitan Karna jatuh terjungkal ke bawah, melainkan Nasya yang kesakitan karna miliknya tergerak gerak.
"Sok jagoan sih, nendang suami tuh gak boleh dosa besar" ceramah Nicho sambil membantu Nasya menggendongnya ke kamar mandi.
"Mau ngapain hah?" tanya Nasya heran
"Kamu bilang aku harus solat Jum'at sebelum solat harus mandi wajib, mandi bareng bareng kan sunat beb"
"Sunnah sih Sunnah, kalo kamu minta lagi awas ajah gue cincang habis habisan luhh" ancam Nasya pada suaminya yang malah cengengesan.
"Istri tuh harus melayani suami kapanpun dia mau beb" ucap Nicho sambil mengisi air hangat di dalam bathtub.
45 menit kemudian Nasya keluar dengan wajah yang di tekuk namun berbeda dengan Nicho yang malah sumringah, bagaimana tidak sumringah jika di dalam sana keinginannya masih sudah tercapai.
"Wajahnya jangan di tekuk gitu dong, cantiknya ilang loh" godanya pada istrinya yang sedang duduk dengan bibir mengerucut. "Mau aku pakein bajunya? mau pakai yang mana?"
"Biasa aja kali, kayak yang rajin solat aja" ucap Nicho sambil menyemprotkan parfum miliknya.
"Setidaknya kita bisa memulainya dari awal," ujar Nasya sensi.
"Oke aku berangkat sayang, bye" ucap Nicho mengangkat sebelah tangannya.
"Waalaikumsalam" sindir Nasya.
"Assalamualaikum Bu Hajjah" ledek Nicho sambil tertawa terbahak-bahak saat mendapat lemparan sendal dari Nasya.
*
*
*
"Dimana suamiku sialan!" bentak Stev yang sedang mengamuk sedari tadi tidak mendapati suaminya yang dinantikan kedatangannya.
"Maaf Nona saya kurang tahu," jawab Maxim masih mencoba halus.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku hah?!" bahkan mata Stev jika tidak tahan sudah keluar sejak tadi.
"Haruskah saya mengatakan semuanya apa yang ada di memori ingatan saya?" tanya Maxim heran dengan kegilaan Stev.
"Sialan! katakan kau menyembunyikan suamiku di mana?!"
"Apakah ada seorang bawahan menyembunyikan bosnya sendiri?" lagi lagi Maxim malah bertany balik tanpa menjawab pertanyaan Stev.
"Ohh, jadi kau sudah bisa melawan? baiklah, aku akan mencari tahu kemana perginya suamiku hingga jarang pulang?" ucap Stev tersenyum iblis.
"Cari tahulah sendiri agar tidak selalu merepotkan ku" jawab Maxim lalu keluar dari ruangan milik bos nya.
Setelah Maxim pergi Stev buru buru melapor pada ayah mertuanya, dia juga menceritakan jika sifat Nicho akhir akhir ini sangat sulit untuk ditebak, seperti ada yang mengendalikannya.
"Baiklah, Papah akan mencari tahu dimana Nicho tinggal jika tidak sedang di rumah" ucap Tuan Vernandes pada menantu satu satunya.
"Thank you Pah" ucap Stev dengan bibir mengembang, rasanya lega ia semakin yakin jika sebentar lagi siapapun yang menjadi penghalang Nicho bersamanya akan segera tersingkirkan.
"Lihat saja Nicho, aku tau kamu masih membutuhkan aku untuk kehidupan mu" lirih Stev lalu merebahkan dirinya di sofa panjang,
Satu jam kemudian Nicho datang ke kantor dengan wajah yang terlihat sangat bahagia, namun saat membuka pintu ruang kerjanya dia langsung merubah wajahnya menjadi datar tanpa ekspresi saat mendapati keadaan Stev yang ada di sana.
"Dari mana saja? hah?" tanya Stev sinis,
"Sedang apa di sini?" tanya Nicho dingin mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya dengan gaya angkuh, dia sungguh tidak suka dengan pertanyaan stev yang ingin mengetahui aktivitas nya, jika saja dia tidak ingat ada benihnya yang sedang tumbuh di rahim Stev sudah dia paksa keluar istri pertamanya yang kurang ajar
"Aku tanya kamu habis dimana? hah? terus ini apa hahh?!" bentak Stev saat melihat leher dan dada Nicho yang terbuka penuh dengan bekas kissmark. "Kamu punya istri, untuk apa masih minta dipuaskan oleh j****g? hahh?!"
"Kamu tidak tahu apapun tentang aku, aku memang punya istri aku pun tidak menyewa j***g" jawab Nicho tersenyum penuh arti, "Jadi sekarang keluar lah" titah Nicho pada Stev sambil memainkan gadget ditangannya.
"Lalu ini bekas siapa? hah?!!!" bentak Stev tidak tetima menunjuk nunjuk leher Nicho.
"Jangan sentuh aku keluarlah sebelum aku memanggil scurity" ancam Nicho.
"Oke sekarang aku pergi, tapi nanti malam pulanglah kita harus merayakan anniversary pernikahan kita, lagipula aku rasa putra kita ingin di jenguk oleh papahnya" ucap Stev dengan suara bergaya erotis mencoba menggoda suaminya, Karna jujur saja dia butuh Nicho jika dihitung Nicho hanya beberapa kali menyentuh nya meskipun di setiap saat pun di tidak kedinginan Karna banyak pria yang menemaninya melewati malam panas bersamanya tapi tetap saja rasanya berbeda Karna setiap kali berhubungan dengan yang lain dia selalu siaga menggunakan pelindung.