My Secret Bride

My Secret Bride
Bab23



Malam hari di sebuah kamar yang bisa dibilang mewah seorang pria paruh baya sedang duduk sambil sesekali menyesap minuman di tangannya. Sudah satu jam lamanya dia duduk tanpa berpindah posisi dan tanpa merasa pegal sedikitpun, namanya juga orang kasmaran kadang suka lupa pada bagian tubuh yang sebenarnya kesakitan.


"Kenapa dia lama sekali? bukankah dia bilang sedang dalam perjalanan?" gerutu Tuan Orlando tidak sabar.


Yah, Nasya sudah menyetujui bisnis yang Tuan Orlando janjikan, jika Nasya mau memberikan Tuan Orlando keperawanan nya maka sebagai imbalannya Nasya akan mendapat 10% saham perusahaan Moon Group.


"Sya loh yakin?" tanya Alana mencoba menahan Nasya agar tak melakukan hal gilanya hanya demi harta.


"Jika demi uang apapun bakal gue lakuin Lan" jawab Nasya tanpa gugup sedikitpun.


"Jika masalahnya uang, gue bisa kasih 2x lipat yang dijanjiin si Botak sama loh" bujuk Alana


"Loh tau 15% saham perusahaan Moon Group sama dengan berapa ratus miliar? mungkin gue bakal jadi miliarder muda" jawabnya enteng lalu berlalu masuk kedalam loby hotel yang sudah di pesan oleh Tuan Orlando.


Nasya naik ke lantai 13 dimana Tuan Orlando sudah menunggu janjinya, dia berjalan dengan tatapan yang penuh percaya diri tanpa ada keraguan sedikitpun.


click


Nasya masuk tanpa mengetuk pintu lebih dahulu dia hanya menempelkan acces card yang diberikan resepsionis tadi, tepat tubuhnya masuk Nasya langsung disuguhi oleh pemandangan yang membuatnya mual.


Dia melempar tas nya ke sembarang arah tanpa mengalihkan pandangannya dari Tuan Orlando yang sedang duduk menunggu di ranjang tanpa menggunakan sehelai benangpun.


Tuan Orlando hanya menyunggingkan bibirnya saat melihat reaksi Nasya yang memandangnya Excited. Dia puas dengan reaksi Nasya yang menatapnya dengan lapar.


Tanpa menunggu lama Nasya segera menyerang Tuan Orlando dengan membabi buta. Tapi saat Tuan Orlando akan menindihnya Nasya segera beranjak menuju meja yang terdapat sebotol minuman dan dua gelas yang sudah terisi.


"Aku tidak yakin jika kau akan kuat mengalahkan ku Step Father" ucap Nasya sambil menggoyang goyangkan minuman ditangannya.


"Kau meragukan ku baby?" tanya Tuan Orlando sambil mengecupi leher jenjang milik Nasya.


"Jika memang Iyah bisakah kau habiskan satu botol minuman ini hingga tandas?" ucap Nasya


"Kau meragukan ku baby? aku sudah terbiasa menghabiskan puluhan botol dalam satu malam" jawabnya lalu meminum seluruh minuman hingga tandas.


"Waww, kau hebat Daddy" puji Nasya dengan tangan yang bergerilya di bawah perut Tuan Orlando.


"Let's go baby" ajak Tuan Orlando sambil membopong tubuh Nasya ala bridal style. Tidak bisa dipungkiri jika tenaga Tuan Orlando memang tidak seperti pria paruh baya pada umumnya, dia masih bisa dibilang kuat di usianya yang sudah lebih setengah abad.


Tanpa menunggu lama Nasya segera menyerang kembali Tuan Orlando tanpa henti.


Di sebuah kamar yang bisa dibilang cukup mewah seorang wanita paruh baya sedang merasa terbang ke awan saat pria muda sedang menggagahi tubuhnya yang mulai keriput. Dua pasang orang yang sedang melakukan hal yang tak masuk akal sama sekali, sedang mencoba puncak nikmatnya masing masing.


"Ahh Sial, tubuhku serba lengket"


"Dasar Tua Bangka"


*


*


Matahari masuk ke celah gorden menyinari dua insan yang masih menggulung tubuhnya di dalam selimut yang sama tanpa terhalang sehelai benangpun.


"Matahari sialan! kenapa mengganggu tidurku brengsek" umpat Tuan Orlando kesal.


"Apa kau masih lelah baby?" tanya Tuan Orlando lembut sambil mengelus pipi mungil milik Nasya.


"hm" Nasya hanya menjawab dengan deheman tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia sungguh lelah akibat pergumulan mereka semalam.


Tuan Orlando hanya bisa menahan hasratnya yang sudah bangun akibat melihat bagian depan tubuh Nasya. Ia tidak bisa memaksa Nasya lagipula salahnya semalam dia terlalu bersemangat, entah apa yang terjadi dengan tubuh Tuan Orlando semalam ia menggagahi Nasya 4 jam tanpa istirahat. Lamunannya hancur akibat pintu yang dibuka secara paksa.


Brak


Tuan Orlando yang sedari tadi menggelung tubuhnya di dalam selimut dengan terpaksa ia bangun untuk melihat siapa yang berani masuk ke dalam ruangannya tanpa seizinnya.


"Wowww,,, j*****g!" ucap Stev sambil bertepuk tangan mengejek Nasya, "Kau lihat? wanita yang kau bilang wanita baik baik ternyata dia adalah simpanan ayahku alias ayah tirinya sendiri"


Nasya yang awalnya hanya diam tanpa bangun saat mendengar gebrakan pintu kini terpaksa membuka matanya untuk melihat siapa gerangan yang datang dengan Stev.


Nasya cukup terkejut saat membuka matanya dan duduk untuk melihat siapa orang yang ada di samping Stev, namun sebisa mungkin ia mencoba untuk bersikap seolah olah yang mereka lakukan adalah hal lumrah.


"Ada apa kau kemari?" tanya Tuan Orlando pada Nicho dan Stev yang sedang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda.


"Aku hanya ingin membuktikan jika wanita yang terlihat alim adalah pelacur yang bersembunyi di balik kepolosan nya" ucap Stev tanpa merasa takut sedikitpun, Karna dia tau saat ini emosi Nicho tidak bisa dikendalikan, dapat dilihat dari rahangnya yang mengeras dan tangannya yang terkepal hingga menampakkan buku buku jarinya.


"Jaga ucapanmu Stev, kau berbeda dengan wanita yang aku kencani" bela Tuan Orlando


"Berbeda? apanya yang beda?" tanya Stev mengejek tak percaya.


"Dia masih virgin di usianya yang sudah masuk 23 tahun, sedangkan kau? diumur 12 tahun saja kau sudah memberikan keperawanmu pada suami orang?"ungkap Tuan Orlando gamblang


"Dadd....." ucap Stev mencoba protes saat ayahnya sendiri membuka aibnya dihadapan suaminya.


Nasya yang malas mendengar perdebatan antara ayah dan anak ia memilih mencoba beranjak memunguti pakaiannya yang tercecer kemana


"Stttt" desis Nasya kesakitan saat mencoba menggapai bajunya yang tergeletak dibawah.


Nicho segera membuka jas dan kemejanya lalu menutupi tubuh Nasya yang telanjang bulat tanpa berkata apapun. Nasya hanya diam saat mendapat perlakuan halus dari Nicho. Nasya pikir Nicho akan menyiksanya saat ini pula ternyata dia salah, malah Nicho segera membopong tubuh Nasya saat di rasa Nasya telah memakai pakaiannya.


"Mau kau bawa kemana ke kasihku?" tahan Tuan Orlando saat melihat Nasya yang akan dibawa pergi oleh Nicho.


Nicho segera menepis tangan Tuan Orlando lalu melanjutkan perjalanannya, sedangkan Nasya ia tidak protes sedikitpun Karna tulangnya yang di rasa seakan akan berpisah dari tubuhnya.


"Nicho!!!!" teriak Stev. "Kau akan pergi kemana sialan?!"


Stev menghalangi jalan Nicho yang akan keluar dari pintu tapi Nicho hanya mendorong tubuh Stev hingga terjatuh lalu berlalu pergi menuju parkiran mobil.


Sesampainya di sana Nicho segera membanting tubuh Nasya ke kursi penumpang di samping kemudi.


"Awhhh" ia bahkan menghiraukan rintihan Nasya yang kesakitan saat tubuhnya dibanting dengan keras ke jok mobilnya. Bahkan ia tanpa segan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan air wajah menahan emosi yang tidak berubah sedari tadi.


"Nicho Sialan!!!!! aku tidak ingin mati muda,, turunkan aku bajingan" teriak Nasya saat Nicho menaikkan kecepatannya.


Tapi Nicho tetaplah Nicho saat ini dirinya tidak bisa menerima penghinaan yang telah Nasya berikan padanya. Ia berjanji tidak akan membiarkan hidup Nasya tenang mulai saat ini.