
Terkadang sangat sulit untuk menerima kenyataan jika kehidupan kita memang telah berputar seperti hidup dengan takdir di sela roda, entah akan naik atau tetap bertahan di bawah. Intinya hanya tuhan yang bisa menjawab dan mengubah segalanya.
Nasya terlalu malu untuk datang bersujud pada Tuhan yang maha kuasa yang telah menciptakannya dan seluruh alam semesta.
Dulu dia tidak pernah meninggalkan kewajiban sekalipun, namun saat umurnya 9 tahun dia kehilangan figur ayah yang menjadi guru agamanya. Ayahnya pergi untuk selamanya tanpa mengucapkan selamat tinggal ataupun memberinya aba aba jika dia akan pergi, ayahnya pergi hanya dalam waktu tiga menit setelah menidurkannya di ranjang. Seorang anak pasti memiliki ikatan batin dengan orang tuanya, perasaan Nasya tidak menentu ingin menangis namun tidak bisa ia ingin menanyakan apa yang sedang terjadi pada dirinya kepada ayahnya, namun baru saja keluar kamar Nasya melihat ayahnya sudah terbaring lemah di lantai tanpa bisa mengatakan atau menggerakkan apapun, dulu Nasya tidak tau apa yang terjadi pada ayahnya, Nasya pikir ayahnya sedang meledekinya Karna tingkahnya saat ini sama persis dengan tingkah nya saat merajuk.
"Baiklah, jika papah ingin menjadi diriku dalam 5 menit, maka aku akan menjadi dirimu dalam setahun" ucap Nasya sambil menggelitik tubuh Tuan Alvaro, namun Nasya kesal papahnya hanya diam dan menitikkan air matanya, dalam satu jam kemudian ayahnya menutup matanya tanpa memberinya senyum perpisahan.
Setelah dewasa Nasya sadar jika ayahnya diberi racun mematikan dengan reaksi melumpuhkan seluruh sarafnya agar mati secara perlahan, ayahnya tersiksa tanpa bisa berteriak kesakitan, dan bodohnya dia malah mengajaknya bermain seolah tidak terjadi apa-apa.
Bagaimana perasaan ayahnya saat itu? fisiknya sedang di siksa oleh racun yang mulai menguasai tubuhnya, dan batinnya tersiksa saat melihat gadis semata wayangnya yang masih kecil menggelitiknya seolah dia sedang mengajaknya bermain.
Nasya menangis sejadi jadinya merindukan sosok ayah, yang tidak mengenal lelah untuk mencintainya dan memberinya kasih sayang yang besar hingga membuatnya lupa jika dia memiliki ibu kandung yang berhati iblis.
"Pah aku merindukanmu" ucap Nasya di sela tangisnya yang tidak berhenti untuk menemani siang harinya. Cinta pertama ternyata sulit untuk dilupakan, jika harus memilih antara Nicho dan Papah nya tanpa menunggu satu detik terlewati Nasya tanpa ragu akan memilih ayahnya yang tidak lelah mencintainya. Dia adalah cinta pertama dalam kehidupannya.
Tok tok tok
Nasya segera menghapus air matanya saat ada seseorang yang mengetuk pintu kamar, dia tidak ingin terlihat lemah walaupun mata bengkaknya tidak bisa membohongi apa yang telah terjadi.
"Masuk" teriak Nasya dari dalam
Lalu Bi Inah pun masuk membawa tas yang sangat familiar di netranya, namun dia tidak ingin terlalu berharap takutnya ia akan di sleding oleh realita yang akan menyiksanya.
"Sebelum pergi Tuan menitipkan ini untuk diberikan pada anada, tapi saya lupa untuk langsung memberikannya pada anda Nona" ucap Bi Inah sambil menunduk menyesal. "Saya minta maaf"
"Tidak apa Bi, aku mengerti lagipula bibi pasti sibuk dengan pekerjaan, terimakasih Bi" ucap Nasya dengan tulus.
"Sama sama Nona, oh ya, Tuan berpesan jika anda ingin keluar untuk hangout dengan teman anda silahkan pakai mobil putih di garasi, anda juga bisa meminta mang Ucup untuk mengantar anda ke sana" ucap Bi Inah panjang lebar
"Baik Bi, terimakasih".
Nasya bersyukur Karna ponselnya kembali ke tangannya tanpa ada lecet sedikitpun, bahkan Fotonya pun masih ada hanya saja Foto Nicho atau saat dirinya bersama Nicho entah kenapa sudah hilang tidak ada di ponselnya, tapi Nasya tidak mempermasalahkan hal itu Karna yang ada dipikirannya saat ini pergi menemui Alana sahabatnya.
Baru saja membuka aplikasi instagramnya, Nasya sudah disuguhi oleh pemandangan yang membuatnya meradang seketika, bahkan dia memegang erat ponselnya seolah sedang melampiaskan kemarahannya pada ponsel.
Bagaimana tidak marah, di layar beranda nya muncul banyak sekali foto Stev yang sedang bermesraan dengan Nicho, entah sedang di lokasi syuting, dinner, bahkan di ranjang pun banyak, tidak tahu malu memang mengumbar keintiman nya sendiri hanya Karna ingin mendapatkan banyak sticker Cinta sampai rela menebar foto seksinya saat menggoda Nicho, saking banyaknya foto Nasya sampai bosan melihatnya Karna dari satu baju bisa difoto sampai dua puluh apalagi fotonya diumbar semua sungguh sampah masyarakat yang tidak patut menjadi panutan masyarakat.
"Cih memuakkan" ucap Nasya sambil melempar ponselnya ke ranjang.
Dia segera duduk di meja rias untuk merias wajahnya yang sudah kembali seperti dulu, meskipun tidak semulus dulu. Tapi dia tetap bersyukur, Karna wajah dan tubuhnya tidak semengerikan kemarin. Dia memoles wajahnya di cermin menutupi warna kulitnya yang belum merata seluruhnya, lalu mengganti stelan piyama tidurnya dengan piyama tidur bercorak garis, lalu dia mengambil pet koleksi milik Nicho untuk menyempurnakan penyamaran nya yang ditutup oleh masker dan kecamata.
"Sial! aku lupa mengabari Alana" desis Nasya saat ingat nama temannya, Nasya segera menenteng tot bag nya dan memanggil mang Ucup yang akan mengantarnya ke pusat perbelanjaan, Karna sebelumnya ia telah mengabari Alana untuk datang ke sebuah caffè shop yang ada di pusat perbelanjaan, namun Alana belum membacanya mungkin dia sedang sibuk atau tidur pulas untuk menikmati liburnya.
"Bisa antar aku ke mall xx mang?" tanya Nasya pada mang Ucup yang sedang mengobrol dengan mang Yanto satpam rumahnya.
"Baik Nona" jawab mang Ucup lalu berlari masuk ke garasi untuk mengeluarkan salah satu mobil Nicho.
"Mang Ucup nya di pinjem dulu ya bang" ucap Nasya pada mang Yanto yang langsung membuat mang Yanto kikuk saat melihat wajah Nasya tanpa masker, apalagi Nasya terlihat ramah Karna senyumnya yang mengembang.
"Iiii,,,,ya, Nona gak papa" jawab Mang Yanto sambil menetralkan detak jantungnya yang deg degan dengan sifat Nasya yang sangat berbeda dengan hari hari sebelumnya. Bahkan Nasya tidak pernah menyapa para pegawai, setiap pagi kerjaannya menghancurkan barang dan memaki setiap Orang namun berbeda dengan hari ini yang tampak ramah meski dengan mata yang terlihat sedikit sembab meski telah di tutupi oleh make up.
"Bisakah bantu aku memegang ini?" tanya Nasya pada mang Ucup yang mengikuti nya sambil memberikan paper bag nya.
"Baik Nona" ucap Mang Ucup sambil mengambil alih paper bag di tangan Nasya.
"Apa menurutmu pria akan suka jika aku memakai baju ini?" tanya Nasya memperlihatkan salah satu koleksi baju Louis Vuitton keluaran terbaru.
"Itu pasti akan cantik jika dikenakan oleh anda Nona" jawab mang Ucup dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Baiklah warna putih tulang sepertinya cukup bagus, aku akan terlihat dewasa jika memakai ini" ucap Nasya sambil mencoba coba bajunya di cermin menyesuaikan dengan warna kulitnya saat ini.
"Sayang, lihatlah gara gara kamu aku kehilangan baju incaran ku" pekik seorang wanita kesal.
"Kita bisa membelinya langsung di sana Honey," jawab sang pria mencoba menenangkan wanitanya yang kesal dengan kelalaian nya. Namun mata wanita itu menangkap incarannya yang sedang berada di tangan pelanggan yang lain.
"Berikan padaku!" ucap wanita itu sambil merebut paksa, baju yang akan Nasya coba di ruang ganti.
"Hey Nuna, apa yang lakukan?" pekik Nasya saat bajunya di rebut paksa oleh wanita manja yang membuat pendengarannya tersiksa dengan suara gemulai nya yang dibuat buat.
"Ini baju incaranku sialann!" bentak Stev pada Nasya, ia tidak bisa mengenali Nasya Karna saat ini dia tidak membuka masker dan kecamata nya sama sekali.
"Aku yang lebih dulu mendapatkan nya Mbak!" ucap Nasya dengan nada tinggi, tak ingi kalah Karna dia memang sudah jatuh cinta dengan baju yang di pegangnya sat tadi.
"Baiklah, kita lihat siapa yang akan mendapatkan baju ini," tantang Stev. "Pelayan!"
"Iya Nona?" jawab salah satu pelayan di outlet ini
"Berapa harga baju ini, aku akan membayarnya 3x lipat" ucap Stev sambil menyikut lengan Nicho agat memberikan kartu hitamnya, Nicho segera menurut dan memperlihatkan kartu hitamnya pada pelayan di sana.
"Aku akan membayarnya 5x lipat" ucap Nasya tak ingi kalah sampai membuat semua orang menonton perseteruan mereka.
"7x lipat"
"9x lipat"
"11x lipat"
Mereka terus terusan beradu dengan harga tinggi, Stev langsung mengajukan tawaran diluar nalar yang membuat Nasya berpikir dua kali untuk mendapatkan nya ia terlalu menyayangkan uang yang hangus hanya untuk satu baju.
"50x lipat" ucap Stev lantang. "Kenapa diam? kau tidak memiliki uang untuk menawarkan harga yang lebih tinggi dariku?"
"Bahkan jika harus membayarnya 100x lipat pun aku sanggup" ucap Nasya kesal Karna Nicho hanya diam sambil mengelus elus pinggang Stev yang dirangkulnya serta perut Stev yang terlihat sedikit membuncit.
"Lalu kenapa kau tak menawarkan harga itu? apa kau berbohong?" ejek Stev ingin puas
"Tidak, hanya saja aku harus berpikir 1000x untuk membayar 100x lipat baju yang sangat di inginkan seorang sampah sepertimu" ucap Nasya yang membuat dada Stev langsung naik turun menahan marah, mata Nicho juga menyiratkan kemarahan namun ia hanya diam malah mengecupi pucuk kepala istri pertama agar merasa lebih tenang.
"Maksudmu apa j****g?!" bentak Stev tak habis pikir, seseorang menghinanya sampah tanpa melihat siapa orang di sampingnya. Hello? Stev kau tidak tahu siapa orang dihadapan mu.
"Maksudku, ambilah jika memang kau mau, aku tidak ingin memperebutkan sesuatu dengan sampah sepertimu, itu sama saja aku berusaha untuk tinggal di tempat kotor yang dipenuhi rayap dan serangga, aku terlalu istimewa untuk menjadi sainganmu" ucapnya lalu berjalan keluar dari Outlet di ikuti mang Ucup dibelakangnya, meninggalkan pelanggan lain yang merasa kagum Karna berani membalas penghinaan seorang Stev yang sangat penindas, apalagi setelah dinikahi putra konglomerat yang dibilang cukup sensitif. Siapa yang tidak kenal Nicho? siapa juga yang tak kenal Stev, artis yang populer Karna koneksinya.