
Untuk apa bertahan tanpa kepastian, untuk apa bertahan hanya Karna sebuah janji namun nyatanya menyakitkan.
"Lo yakin?" tanya Alana pada Nasya Karna dia ragu akan keputusan Nasya yang saat ini sedang berganti pakaian di ruang ganti.
"Jikapun tidak yakin, aku tidak bisa membatalkannya Karna uangku tidak akan cukup untuk membayar kompensasi" jawab Nasya sambil memakai piyama untuk menutupi tubuhnya.
"Jika memang kau tidak yakin, biar aku yang membayar kompensasi" tawar Alana sungguh sungguh.
"Tidak perlu, aku tidak ingin berhutang Budi lagi pada orang lain" jawabnya dengan arogan
Nasya yang dulunya seorang periang kini berubah arogan dalam sekejap mata, dulunya akan menerima apapun saran orang kini malah berbanding terbalik menjadi wanita keras kepala.
"Apa untungnya coba sya? kota bisa nyari iklan yang lain bukan ini" ujar Alana lagi
"Bayaran iklan ini 3 kali lipat dari iklan yang biasanya Lan" jawabnya enteng sambil mendudukkan bokongnya di kursi meja rias.
"Tapi sya kita ma---"
"Syuttt" desisi Nasya sambil menyimpan jari telunjuknya di bibirnya membuat ucapan Alana terhenti seketika "Di sini kamu cuma jadi manajer aku, jadi berhenti bernegosiasi"
clek
"Nona mari rapikan riasan anda" ucap salah satu penata yang baru saja masuk.
Setelah selesai merapikan riasannya Nasya segera bersiap siap untuk melakukan pemotretan.
"Apa Bram masih di kampung halamannya?" tanya Nasya pada Alana
"Iyah Sya" jawab Alana singkat.
"Bagus"
Ia memang sengaja mencari waktu dimana dirinya tidak diperhatikan oleh bodyguard yang di sewa oleh Nicho untuknya, ia ingin melakukan hal yang membuatnya melupakan rumitnya kehidupan meski hanya sebentar saja.
"Nona silakan bersiap" ucap Potograper di sana
"Baik pak" jawab Nasya mencoba memaksakan senyumnya.
Saat ini Nasya sedang melakukan pemotretannya, ia benar-benar melakukannya tanpa merasa malu sedikitpun. Jika biasanya Nasya mengenakan set dalaman saja jika sedang sendirian tapi kali ini di depan banyak orang dengan beraninya dia berpose bagaikan j****g yang haus akan belain.
"Satu,,, dua,,, tiga,,,"
Nasya terus terusan berpose dengan gaya ho*t hingga membuat mata pria tidak teralihkan sedikitpun dari pemandangan yang saat ini Nasya suguhkan.
"Oke cukup" ucap sang Potograper merasa puas dengan hasil yang Nasya lakukan.
"Aku yakin semua pria tidak akan berhenti menatapmu Nona" ucap Potograper menggoda Nasya.
"Thanks" ucapnya singkat tanpa tersenyum sedikitpun, membuat semua orang di sana merasa heran dengan aksi Nasya yang menurutnya tidak seperti biasanya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Nasya buru buru pulang ke rumah tanpa menghiraukan ajakan Alana untuk hangout bareng teman yang lainnya.
"Lo kenapa sih hah? nyesel?" tanya Alana menarik lengan Nasya yang yang melewatinya.
"Nyesel? untuk apa? yang gue peduliin cuma uang Lan" jawab Nasya melengos tanpa mendengarkan teriakan bahkan umpatan Alana padanya.
Setelah masuk ke dalam apartemen Nasya segera merilekskan tubuhnya dengan berendam di bathtub dengan air hangat. Rasanya kepala Nasya hampir meledak Karna terlalu banyak pikiran yang menghantam otaknya.
"Apa rencana gue bakal berhasil? atau gue gagal?" tanya Nasya pada dirinya sendiri.
Dia tidak bodoh, dia rela menurunkan harga dirinya hanya untuk menghentikan aksi Nicho yang selalu membuatnya tidak bisa tidur sepanjang hari. Dia cemas jika sewaktu-waktu Nicho jatuh pada permainan yang diciptakannya sendiri.
Brakkk
Suara pintu dibanting dengan keras dari luar hingga membuat pikiran Nasya yang tadinya sudah lumayan rileks kini penuh dengan tanda tanya.
"Siapa yang masuk? bukankah pintunya tidak bisa di akses oleh orang lain?" Nasya hanya bisa bertanya tanya pada dirinya sendiri, tapi dengan segera dia beranjak dari bathtub untuk mencari perlindungan. Dia takut jika ada maling yang masuk ke rumahnya.
Brak
Baru saja tangan Nasya menggapai salah satu handuk di sana pintu kamar mandi terbuka dengan lebar menampilkan sosok berbadan tegap dengan tangan terkepal dan dada yang bergemuruh. Nicho berjalan menghampiri Nasya dengan membawa emosi.
"Siapa yang mengizinkan mu membuka pakaian di hadapan orang lain?" tanya Nicho sambil mencengkeram dagu Nasya dan memepetkan tubuhnya pada dinding kamar mandi.
"Apa kau sudah mulai membangkang?" tanya Nicho dengan mengangkat sedikit ujung bibirnya. "Perlu kau tau, aku tidak suka perintahku di abaikan"
"Kau siapa hingga seenaknya bisa memerintahku?" tanya Nasya sambil melipat tangannya di dada.
Nicho yang terus terusan mendapat jawaban yang paling dibencinya Keluar dari bibir mungil milik Nasya, mampu membuat amarahnya naik berkali kali lipat.
"Kau memang j*****g" desis Nicho
jleb
sakit? pasti ini pertama kalinya kata kata yang sering terlontar dari mulut orang lain kepadanya kini keluar pula dari mulut pria yang telah berhasil mencuri hatinya, meskipun suaranya terdengar kecil tapi percayalah itu adalah kata kata yang tak akan hilang dari memori otaknya.
"Aku akan membayar mu berlipat ganda dari perusahaan yang kau iklankan asal kau berhenti dari pekerjaan itu" tawar Nicho mencoba bernegosiasi.
"Aku lebih suka memamerkan lekukan tubuh ku, dibanding menjadi ratu debu" ucap Nasya sambil berlalu meninggalkan Nicho yang masih mencoba mencerna ucapan Nasya.
"Ratu debu? apa kau tak percaya jika aku tak berubah sedikitpun?" tanya Nicho pada Nasya yang saat ini sedang memakai **********.
"Wanita juga butuh tindakan bukan hanya sekedar omongan" ucap Nasya meremehkan.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya baby?" tanyanya sambil mendekap tubuh Nasya dari belakang.
"Berhenti mengatur kehidupanku, urusi saja rumah tanggamu tanpa mengurusi kehidupanku"
Drtt Drttt
"Hallo Lan?" tanya Nasya setelah mengangkat telponnya
"-----"
"Okey" jawabnya lalu menutup telponnya sepihak
"Siapa baby?" tanya Nicho sambil menciumi pundak polos Nasya.
"Alana"
"Ada apa?" tanyanya lagi.
"Dia memberitahuku jadwal pemotretan selanjutnya" jawab Nasya singkat sambil memilih pakaian tidurnya.
"Iklan dewasa?" tanya Nicho yang tiba tiba dingin.
"Yah? kenapa? bukankah aku j****g? ayu kau tidak tahu apa itu pekerjaan j****g?"tanya Nasya tanpa jeda sedangkan Nicho hanya diam mencoba menahan emosinya yang bak roller coaster, naik turun sejak tadi.
"Batalkan, aku akan membayar uang kompensasinya" titahnya dingin tanpa menatap wajah Nasya yang sedang meremehkannya.
"Aku tidak ingin berhutang Budi lagi, lagipula itu pekerjaanku, tidak usah membantuku mengatur kehidupanku" ucap Nasya yang tak kalah dingin.
"Aku tidak main main dengan ucapanku" ancam Nicho
"Apa kamu pikir aku sedang membual? hah?" tanya Nasya dengan raut wajah tak percaya.
"Aku bilang batalkan maka batalkan sialan!" bentak Nicho tepat di depan wajah Nasya dengan suara melengking
"Aku bilang jangan mengatur kehidupanku maka berhenti mengurusi kehidupanku" ucap Nasya pelan namun skakmat.
"Berhenti bermain main j****g!" teriak Nicho sambil mencekik leher Nasya tanpa perasaan sampai nafas Nasya tersengal-sengal Karna kekurangan oksigen. "Aku tidak pernah bermain dengan ancamanku" terangnya lalu menghempaskan tubuh Nasya hingga terbentur ke dinding dan berlalu dari sana.
Brak
Nicho keluar apartemen sambil membanting pintu dengan kencang agar Nasya tau jika ucapannya tak main main.
Brukk
Luruh sudah pertahanan Nasya, yang mencoba seolah olah ia tak takut pada apapun. Nasya menangis sejadi-jadinya, dia kecewa pada dirinya sendiri Karna tak bisa menahan tangis yang sedari tadi ditahannya. Ia hanya ingin Nicho tau jika dia melakukan semua ini hanya untuk membuat Nicho keluar dari permainan yang diciptakannya sendiri, ia terlalu takut jika sewaktu-waktu Nicho akan berpaling darinya. Jika tujuan Nicho menikah dengan Stev hanya untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya maka dia orang yang seharusnya menjadi pemiliknya tidak akan diam saja, dia tidak ingin Nicho masuk perangkap.
"Kau tidak tau Nich, jika semua yang aku lakukan demi masa depan kita" ucapnya di sela sela Isak tangisnya.
Memang benar, menjalin hubungan tidak semudah yang kita bayangkan. Percayalah dalam suatu hubungan yang diperlukan adalah kepercayaan.