
Waktu terus berlalu, hari terus berganti, Nasya sudah bisa memasak dengan rasa yang bisa diterima meski hanya di lidahnya sendiri.
"Mau sarapan apa Nich?" tanya Nasya pada Nicho yang sedang menarik kursinya.
"Bi Inah, beri aku sandwich" titahnya pada Bi Inah tanpa menjawab pertanyaan Nasya, menghiraukan saja tidak seolah Nasya adalah batu kerikil yang keberadaannya sangat tidak diharapkan.
"Mengapa tidak memakai baju pilihanku? apa tidak cocok dengan seleramu Nich?" tanya Nasya lagi masih mencari perhatian dari Nicho, Nicho tidak menghiraukan pertanyaan Nasya sama sekali, dia malah memakan sandwich nya tanpa menghiraukan pandangan orang di sekelilingnya.
Nicho memang selalu mengabaikannya dia tidak pernah menganggapnya ada meski suara nya tidak berhenti berceloteh mencari perhatian darinya. Saat sehari dua hari sifat Nicho dingin padanya Nasya selalu marah marah bahkan berteriak dihadapan Nicho, tapi Nicho tetap diam seolah tidak terjadi apa apa dihadapannya. Pada akhirnya Nasya memilih mencoba menerima sifat ini yang acuh padanya, namun di sisi lain dia terus mencoba belajar menjadi istri yang baik, entah itu belajar masak atau belajar sabar dengan tetap menanyakan keadaan Nicho meski tanpa ada respons satu huruf pun.
"Hati hati di jalan Nich" ucap Nasya melambaikan tangannya dengan senyum merekah saat Nicho sudah mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah yang hanya ditempatinya dan Nasya.
Sebenarnya Nicho tidak bisa menahan sesak saat mendiamkan Nasya yang terus terusan berceloteh dihadapan nya tapi amarah dan kecemburuannya membutakan mata hatinya, menutup cinta dengan rasa benci di hatinya. Setiap kali meninggalkan rumah Nicho selalu menatap gerakan Nasya melalui kaca spionnya, ingin sekali mendekap tubuh yang sedang berpura-pura tegar namun kenyataannya rapuh dan terpuruk.
"Andai kamu masih mencintaiku Sya, aku pasti tidak akan mendiamkan mu seperti ini, salah kamu malah mencintai Maxim" lirihnya dengan air Mata yang lolos begitu saja.
Mulutnya gatal untuk tidak memaki Maxim yang saat ini sedang duduk di sofa ruangannya, tertawa sendiri dengan gadget di tangannya tanpa menyadari kedatangan Nicho.
Buk
Nicho menendang pintu agar menyadarkan Maxim yang sedang asyik pada dunianya.
"Cih, kau mengganggu saja" ucap Maxim. "Hari ini ada rapat dewan direksi, mereka sudah berkumpul di tempat rapat, hanya tinggal menunggu kehadiran mu saja"
"Gantikan aku rapat, aku sedang tidak ingin rapat" titahnya lalu duduk di kursi kebesarannya.
"Enak sekali kau? rapat ini harus dipimpin oleh mu sialan! jika tidak kau akan dicopot dari jabatan mu saat ini" ancam Maxim pada Nicho
"Copot saja, aku tidak peduli, aku cukup diam di rumah memainkan J****g Ku tanpa bekerja" jawabnya enjoy.
"Pergi rapat!" suara berat seseorang mengagetkan mereka yang sedang bersitegang.
"Ada apa papah kemari?"
"Ini perusahaan ku, aku hanya ingin memastikan jika kau tidak memelihara j****g lain, setelah memiliki istri yang sempurna" ucapnya sambil berkeliling di ruangan sang putra.
"Ya, ya, terserah kau saja,"
"Ayo Max"
Nicho mengikuti rapat dengan khidmat namun berbeda dengan hati dan pikirannya yang tidak lepas dari bayang bayang Nasya saat ini.
Sedangkan orang yang dipikirkannya saat ini sedang berkeliling di supermarket hanya menggunakan baju piyama tidur saja, terlihat cukup cantik dengan kepedeannya.
"Kau akan pergi kemana sekarang?" tanya Alana yang sedang menemani Nasya berkeliling supermarket.
"Aku akan pergi ke perusahaan Nicho setelah mengantarkan belanjaan ini ke rumah" jawabnya
"Untuk apa ke sana?" tanya Alana heran dengan sifat Nasya yang tidak kapok dengan sifat acuh Nicho padanya.
"Aku hanya ingin melihat dia, apa benar benar mengabaikan ku atau hanya sekedar topeng saja" jelasnya lalu membayar belanjaan nya.
Setelah menyelesaikan pembayaran Nasya buru buru pulang ke rumahnya untuk memberikan belanjaan nya pada Bi Inah.
"Apa ini rumah yang kau tinggali Sta?" tanya Alana bergidik ngeri
"Ya, kenapa emang?" tanya Nasya bingung melihat Alana yang seolah ketakutan.
"Kau tidak takut tinggal di sini?"
"Tidak sama sekali"
"Kau tau? orang yang menyukai warna gelap mayoritas seorang psychopat Sya" ucapnya memeluk lengan Nasya.
"Terlalu banyak baca novel" jawab Nasya menempeleng kepala Alana.
Setelah mengantarkan belanjaan Nasya mengganti bajunya mengenakan celana hotpants warna putih dipadukan dengan sweater warna matcha tidak lupa dia menenteng tot bag nya dan menyempurnakan penyamaran nya dengan topi, kacamata dan masker.
Kaki mungil yang kembali mulus itu melangkahkan kakinya ke tempat yang sudah hampir sepuluh bulan tidak ia datangi. Nasya dan Alana naik menggunakan lift petinggi perusahaan, setelah sampai di lantai paling atas Nasya yang akan masuk ke dalam ruangan Maxim dikagetkan dengan suara bariton di belakangnya.
"Ada apa kalian kemari?" tanyanya lagi
"Kami ingin mengirim delivery ini pada Tuan Maxim" jawab Alana sambil memperlihatkan paper bag di tangan nya.
"Maxim sedang rapat, titipkan saja pada resepsionis di bawah, jangan asal masuk ke lantai orang seperti rumahmu sendiri saja" ucapnya memaki Nasya dan Alana
"Maaf Tuan" ucap Alana sambil membungkukkan badannya sedangkan Nasya hanya berjalan menuju lift menekan tombol tanpa meminta maaf.
"Hey wanita sombong, siapa yang mengizinkan lift petinggi di pakai umum?" tanya Tuan Vernandes sambil menahan pundak Nasya. "Apa kau tidak bisa baca tulisannya? dasar wanita Kuno".
"Aku tau, tapi apa bedanya lift ini dan lift yang sebelah?" tanya Nasya tanpa membalikkan tubuhnya.
"Berani sekali kau menjawab ku" ucap Tuan Vernandes kesal.
"Maaf Tuan, saya hanya bertanya saja perbedaan lift ini dan lift di sebe------
Ting
perkataannya tergantung saat lift terbuka menampakkan sosok pria dengan wajah lesu tidak bersemangat sama sekali, berbeda saat di rumah yang wajahnya di tekuk namun tidak tersirat kelesuan di sana.
"Kau memesan apa dari wanita sombong ini Max?" tanya Tuan Vernandes pada Maxim yang baru saja keluar bersama Nicho.
"Oh,,, anu Tuan, saya memesan coklat untuk kekasih saya" jawabnya gugup Karna diberi pertanyaan yang tidak ia lakukan.
"Lain kali jika membeli apa apa jangan pada pedagang sombong!" ucapnya menghina.
"Tapi aku bukan pedagang" ucap Nasya menyela ucapan Tuan Vernandes. "Aku kemari hanya ingin memastikan jika suamiku baik baik saja"
"Siapa yang kau bilang suami?" tanya Tuan Vernandes bingung Karna setahunya Maxim belum menikah dan istri putranya adalah Stev yang saat ini sedang menyiapkan kejutan.
"Siapa lagi jika bukan-----
"Bawa istrimu ke ruangan mu Max" ucap Nicho saat Nasya akan melanjutkan omongannya.
Ting
"Sayang!" teriak Stev pada Nicho dan Langsung memeluknya dari belakang. "Aku punya hadiah untukmu"
Stev masih belum sadar jika di sana ada Nasya yang sedang berdiri menahan kecemburuannya.
"Sialan!" teriak Stev dengan mata yang melotot.
"Kenapa kau kemari?" ucapnya dengan suara tinggi sambil menjambak rambut Nasya bak orang gila
"Lepaskan rambutnya Stev!" bentak Maxim tidak terima dengan ulah Stev
Stev langsung melepaskan jambakannya pada Nasya dengan senyum sumringah entah apa yang terjadi yang membuatnya tersenyum lebar.
"Sayang" ucapnya manja pada Nicho
"Hmm?" tanya Nicho lembut.
"Aku punya hadiah untukmu"
"Ayo masuk ke dalam berikan aku hadiahnya di dalam"
"Big No, aku juga ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka" jawabnya namun matanya melirik pada Nasya yang sedang menunggu lift terbuka.
"Taraaaaaaa,,,,,," ucapnya sambil memperlihatkan test pack bergaris dua di tangannya. "Aku mengandung benihmu baby"
Perkataan Stev langsung membuat hatinya bak tertusuk panah, bukankah dia menginginkan Stev cepat hamil agar bisa membuat Nasya semakin terpuruk, namun saat melihat respon Nasya yang seperti terkejut membuatnya terluka, ia seperti mencabik cabik tubuh wanitanya dengan tangannya sendiri.
Nasya langsung berlari masuk ke dalam lift dan menutupnya dengan cepat seolah terburu buru, hatinya hancur Karna terlalu ber ekspektasi tinggi, dia pikir Nicho hanya make out dengan Stev seperti yang biasa mereka lakukan, apakah bisa hamil tanpa making love? itu berarti Nicho memang melakukannya dengan Stev, bahkan menitipkan benihnya di rahim Stev.
Dunianya terasa hancur menerima kenyataan jika sang suami akan memiliki putra dari wanita lain, ingin sekali dia pergi dari kehidupan Nicho, tapi dai tidak ingin pergi lebih dahulu sebelum Nicho tau kenyataan jika dirinya tidak memberikan keperawanannya kepada orang lain. Dia berjanji akan memberi Nicho pelajaran atas apa yang Nicho lakukan padanya.