My Secret Bride

My Secret Bride
Bab18



Terkadang kita selalu merasa was was jika seseorang yang kita cintai mengikat janji dengan orang lain, mulanya dia memang berjanji tidak akan mencintai istrinya tapi apakah benih benih cinta benar benar tidak akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu?


Aku tau harusnya aku percayakan seluruh kepercayaan ku padanya. Tapi apa boleh buat? sudah 7 bulan lamanya tapi masih belum ada titik terang kemenangan? perlukah aku mempercayai jika dia benar benar menepati janjinya?.


Aku memang ingin merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku tapi, apakah tidak ada cara lain selain melalui pernikahan dengan kakak tiriku sendiri? Aku pikir aku harus segera menghentikan aksi gila ini sebelum pria yang aku cintai jatuh pada perangkapnya sendiri.


Aku benar-benar mencintai mu meskipun akhir akhir ini sifatmu sedikit berubah entah tentang memberiku perhatian ataupun tentang pengertian. Aku tidak bisa membenci mu meskipun seharusnya aku membenci bajingan yang tega berbagi raga dengan orang lain dengan Alibi membantuku merebut apa yang menjadi milikku.


Sungguh aku tidak ingin bermain judi dengan mempertaruhkan sesuatu yang menjadi milikku saat ini hanya untuk mendapatkan milikku yang lain?. Aku takut kehilangan milikku semuanya. Jika bisa memilih aku rela kehilangan harta yang seharusnya menjadi milikku dibanding kehilangan dirimu.


Tok tok tok


Lamunan Nasya buyar Karna ketukan di pintu apartemennya. Setelah dibuka ternyata Bastian dan Maxim yang mengetuk pintunya, tanpa dipersilahkan Maxim dan Bastian langsung duduk di sofa panjang yang ada di sana.


"Ada apa?" tanya Nasya bingung Karna tak biasanya teman teman kekasihnya datang tanpa kehadiran kekasihnya.


"Loh gak rindu sama gue Sya? gue baru pulang loh" ucap Bastian sambil merentangkan tangannya.


"Cihhh Najis, ngapain gue rindu sama bajingan kayak loh?" tetapi jawaban dan realitanya sungguh berbeda, jika jawabannya acuh berbeda dengan realitanya yang malah masuk ke dalam pelukan Bastian.


"Opahhh, hhhhh" tangisnya pecah saat itu juga di dalam pelukan pria yang pertama kali menolongnya. Pria berhati malaikat kedua setelah ayahnya, yang membawanya dari dalam neraka. Memberikan kasih sayang layaknya seorang kakak pada adiknya, bahkan dia tidak pernah mengeluh jika Nasya menghabiskan uangnya hanya untuk ber Foya-foya.


"Berhenti menangis sis, masih banyak pria yang jauh lebih baik dari bajingan itu" umpatnya kesal akan kelakuan Nicho.


"Tapi aku mencintainya oppah" jawabnya di sela sela tangisnya.


"Apa kau bodoh? mencintai pria yang sudah beristri? hah?" ucap Bastian dengan nada kesal akan kelakuan wanita yang sudah dianggap nya adik.


"Jika kau datang hanya untuk menyuruhku berhenti mencintai Nicho, aku tidak akan melakukan itu" teriak Nasya sembari berdiri dari duduknya yang mampu membuat Bastian dan Maxim melotot tak percaya akan rasa cintanya pada Nicho.


"Okey, jawab pertanyaan oppah kenapa kamu mencintai Nicho ketimbang aku orang yang membawamu keluar dari neraka itu? hah?" tanya Bastian bingung padahal jika dibandingkan wajah Nicho tidak begitu tampan jika dibandingkan Maxim, jelas jelas Maxim lebih tampan. Apa Karna kekayaan? padahal Bastian tidak kalah kaya raya dari Nicho apalagi usahanya hasil dirinya sendiri bukan hasil orang tua seperti Nicho.


"Entahlah aku menyukai aura karismatik dan jiwa kepemimpinannya" jawabnya dengan tatapan menerawang. "Apalagi ekspresi kulkas nya yang hanya ditujukan kepada orang lain, namun jika berhadapan dengan ku dia bak an*jing yang turut akan pawangnya" lanjutnya.


"Bisakah kau mengisyaratkan nya dengan nama lain? rasanya aku geli mendengar seorang pria yang bisa dibilang sempurna namun disamakan dengan an*Jing" ucap Maxim sembari menahan tawanya yang ingin meledak Karna mendengar omongan kekasih Bos-nya.


"Dia memang seperti anjing Max, apa kau tau hobi dia suka menjilati aku oppah" ucapnya yang langsung membuat Maxim menganga tak percaya Karna bibir Nasya yang kurang ajar menceritakan hal intim mereka.


"Apa kau masih Virgin?" tanya Bastian tiba tiba dingin, dia tidak rela jika adiknya di campakkan saat sudah di hancurkan mahkotanya.


"Maksud oppah?" tanya Nasya bingung karena tiba-tiba Bastian menanyakan hal yang menurutnya konyol.


"Jawab aku!" bentak Bastian dengan suara bas nya.


"I,,,,iya opp,,pahh" jawab Nasya terbata bata Karna takut akan bentakan Bastian.


"Lalu sejauh apa hubungan kalian?" tanya Bastian lagi pada Nasya. "Make out?" tanyanya penuh intimidasi.


"No Oppah," jawabnya tegas.


"Bohong, aku tidak percaya, katakan padaku sejujurnya"


"Kau sudah pernah melihat milik Nicho?" tanya Bastian lagi


"No Oppah" jawab Nasya sambil tertunduk bak anak kecil yang sedang di hukum oleh ibunya.


"Bagus, lalu apa rencana mu?" tanya Bastian lagi.


"Aku akan menghentikan Nicho dengan aksi gilanya" jawab Nasya dengan menegakkan kepalanya.


"Apapun keputusan mu oppah akan tetap mendukung, asalkan kamu tetap menjaga kehormatan mu untuk suamimu kelak" nasihatnya pada Nasya.


"Tapi aku pikir apapun yang kamu lakukan Nicho tidak akan bisa berpisah dari Stev" ucap Maxim yang sedari tadi diam


"Siapa yang tahu? jika Nicho memang tetap tidak bisa berpisah dari Stev, aku pikir aku akan menjadi bagian dari rumah tangga mereka" jawabnya tanpa ragu sedikitpun.


"Aku hanya berharap semoga rencanamu berhasil, good luck" ucap Maxim memberi semangat.


"Oh ya bagaimana jika kita dinner? sudah lama kita tidak makan malam bersama?" ajak Bastian pada Nasya


"Gas pool" sahut Maxim yang mendapat cebikkan kesal dari Bastian. Tentu saja kesal Maxim selalu nimbrung di saat Bastian akan berpergian dengan Nasya, kadang Bastian pun merasa bingung pada aksi Maxim yang menurutnya pengecut.


Sepanjang perjalanan Bastian tidak henti-hentinya berbincang hangat dengan Nasya, meski sering berbalas kabar tapi tidak bisa menghilangkan semua kerinduannya pada adik kecilnya. Bastian pun tidak lupa menanyakan kabar pekerjaan Nasya saat ini, dia tidak ingin adiknya terlalu lelah untuk mengumpulkan uang. Karna baginya uangnya juga lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Nasya.


"Kau tau Oppah? j****g itu memerankan peran utama padahal jelas-jelas dia tidak jago akting, hanya saja Karna Nicho investor besar dalam proyek ini jadi dia dengan seenaknya memilih peran yang diinginkannya" ceritanya dengan nada kesal.


"Tapi miris sekali, meskipun aku menjadi peran Antagonis penonton malah menyukai aktingku, aku hebat bukan?" tanya nya pada Maxim dan Bastian sambil menyembulkan kepalanya kedepan ke kursi kemudi Karna dirinya memang duduk dibelakang sendirian.


Bastian dan Maxim hanya diam saja mendengar celotehan Nasya, yang sesekali mengundang tawa mereka.


Sampai di sana Nasya segera memilih tempat duduk yang menurutnya nyaman untuk menikmati keindahan malam ini. Tanpa menunggu lama Bastian segera memesan makanan untuk mereka saat ini, sambil menunggu pesanan datang Nasya ingin mengabadikan momen ini dengan berfoto seperti biasanya.


Nasya sengaja duduk di tengah diapit oleh Maxim dan Bastian, Karna sedari dulu Nasya memang suka di dudukkan di tengah untuk mencegah hal hal yang tak diinginkan terjadi.


"Max, kemari kita abadikan foto kita berdua aku hanya memiliki satu foto saja saat kita berdua, itupun saat pertama kali kita bertemu" ucap Nasya dengan memanyunkan bibirnya.


"Aku malu berfoto dengan aktris" ledek Maxim sambil tertawa.


"Cepatlah Max, Oppah fotoin kita berdua" titahnya pada Bastian. "Ayok Max" ajaknya lalu bersender manja di bahu Maxim bak seorang adik pada kakaknya, tapi berbeda dengan pemikiran Maxim.


hmmm


"Bolehkah kita bergabung?" tanya seseorang di belakang Maxim dan Nasya yang saat ini sedang berfoto.


"Duduklah Nich" ucap Maxim menyuruh Nicho duduk di samping Nasya, namun Stev segera merebut tempat duduk itu agar suaminya tidak menempel pada mantan kekasihnya.


"Tenanglah Stev aku tidak berselera pada pria beristri" ucapnya lalu beranjak dan duduk di dekat Bastian dan di samping Maxim.


"Mbak" panggil Nasya pada pelayan di sana. "Tolong catat pesanan mereka, kau mau makan apa Stev? biar Oppah ku yang traktir, iya bukan oppah?" ucapnya pada Bastian sambil menampilkan puppy eyesnya.


"Apapun asal kamu bahagia Sist" jawab Bastian sambil merangkul tubuh Nasya bahkan dia tidak segan untuk mengecup pucuk kepala Nasya, yang sontak mengundang api kemarahan seseorang di sampingnya.