
Atmosfer di dalam kamar Nicho dan Stev entah mengapa menjadi terasa panas. Nicho tidak munafik, dia lelaki normal apalagi saat ini sang istri hanya memakai baju jahannam tanpa piyamanya. Meskipun nafsu Nicho bergairah, namun entah mengapa jika untuk menyentuh rasanya dia tidak siap. Pikirannya terus pada Nasya entah sedang apa dan dengan siapa.
"Nich, ayolah" ucap Stev sambil naik ke atas tubuh Nicho yang sedang berbaring di sisinya
"Ayolah Stev aku lelah" ucap Nicho
"Dia bangun honey" Stev malah dengan sengaja memainkan milik sang suami agar terbakar gairah. Dia tau saat ini sang suami sedang menahan nafsunya, tapi Stev adalah wanita berpengalaman jangan ditanya lagi, dia pasti bisa meruntuhkan pertahanan Nicho.
"Jika kau menginginkannya, lakukanlah asal jangan menggangguku, aku ingin istirahat" ucap Nicho sambil menutup matanya.
"Maksudmu? kau menyuruhku memasukkan dia ke mulutku?" tanya Stev bingung sambil melirik ke arah sesuatu yang menjadi milik Nicho
"Ya? kau tidak mau, tak apa, aku memang menginginkan mu Stev tapi aku lelah bisa besok saja jika untuk hal yang lebih intim?"
"Lalu kau tidak akan memuaskanku?" tanya Stev dengan emosi yang sudah memuncak.
"Berhenti bicara Stev aku ingin tidur" ucap Nicho dengan nada meninggi.
"Oke, tidak apa kau tak memuaskanku, cukup kau saja yang terpuaskan honey" ucap Stev sambil membuka celana piyama Nicho dan memulai aksinya.
Nicho sengaja mendesah dengan erotis agar Stev merasa bangga. Dia ingin Stev merasa bahagia dahulu sebelum menemui kesengsaraan nya.
Stev dengan gaya j****gnya menciumi seluruh badan Nicho tanpa tertinggal sedikitpun, bahkan dia tidak segan membuat tanda di leher Nicho agar semua orang tahu jika Nicho terpuaskan olehnya.
"Shitttt... jangan coba coba mencium bibirku!" ucap Nicho memperingatkan Stev. "Dan berhenti membuat tanda, aku benci itu"
Padahal nyatanya ia takut jika Nasya akan melihat bekas kissmark di lehernya.
Stev yang mendapat perintah dari Nicho hanya bisa menurut saja, dia tidak ingin melepaskan sesuatu yang besar berurat itu lepas dari mulutnya, Karna baginya dari dulu Nicho adalah fantasi liarnya.
*
*
"Ahhhhhh"
Nasya mendesah Frustasi, di saat baru bangun tidur dia mendapati celananya basah bahkan seprai dikasurnya pun ikut basah.
"Nicho sialan!" Nasya berteriak mengumpati Nicho, Karna ulah Nicho yang datang pada mimpinya hingga berakhir dengan hal hal erotis
"Apa jangan jangan Nicho udah ngisi kecebong ke Stev?" tanya nya pada dirinya sendiri. "Nooo!!!!" bahkan Nasya menjambak rambutnya sendiri agar pikiran pikiran yang membuat hatinya semakin teriris menghilang
"Ya Nasya!! harusnya loh nyadar, dia udah nikah jadi terserah apa yang akan mereka lakukan jangan dipikirkan tetap Fokus pada karirmu" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Nasya membersihkan ranjangnya dengan bibir yang tak berhenti mengumpat. Entah Nicho salah apa, padahal jelas jelas itu hanya mimpi.
Pagi ini di kediaman keluarga Vernandes seluruh anggota keluarga sedang sarapan bersama. Mereka makan dengan Khidmat namun sesekali Nyonya Vernandes melayangkan pertanyaan pertanyaan yang menurut Nicho tidak pantas di bahas di meja makan.
"Apa putraku kuat sayang?" tanya Jessika atau Nyonya Vernandes.
"Ya, dia sangat kuat Mih, hampir hampir aku pingsan di tengah jalan" ucap Stev bangga. Padahal jelas jelas semalam Nicho hanya menggunakan jarinya saja untuk memuaskan Stev, mungkin Karna permainan tangan Nicho yang mahir membuat Stev mencapai ******* berkali kali.
"Apa dia berurat?" tanya Jesika lagi
"Sangat sangat mom" jawabnya dengan pipi merona. "Bahkan ukurannya hampir tidak masuk pada mulutku mom" lanjutnya gamblang tanpa tahu malu bahkan tangannya kini mengusap usap paha Nicho yang duduk disebelahnya.
"Waww? Kau pasti menikmatinya menantuku" tanyanya lagi entah mengapa Jesika seperti tidak suka akan penjelasan Stev yang seolah olah menikmati permainannya dengan putra tirinya. Nicho yang melihat air wajah di muka ibu tirinya berubah hanya sedikit menyunggingkan bibirnya. Bahkan dia sengaja mendesah saat tangan Stev dengan cabulnya menekann nekan milik Nicho.
"Sayang berhentilah" ucap Nicho dengan suara manja yang tertahan. "Aku harus bekerja" lanjutnya mencoba mengusap pucuk kepala Stev agar terlihat pasangan yang bahagia.
"Libur dulu saja Son, istrimu mungkin butuh honeymoon" ucap Tuan Vernandes yang sedari tadi hanya diam mendengar obrolan istri dan menantunya.
"Sayang benar kata papah, aku ingin kita honeymoon" pinta Stev manja sembari bergelayut manja di lengan Nicho.
"Untuk apa Honeymoon jauh jauh jika ujung ujungnya tetep ngamar?" tanya Nicho menggoda Stev. "Aku pergi dulu" pamitnya lalu mengecup dahi Stev.
Nicho pergi meninggalkan semua orang yang ada di dalam rumah bahkan Nicho yakin jika saat ini mamih tirinya pasti merasa kesal pada bibir Stev yang gamblang menceritakan kegagahannya. Dia pergi meninggalkan rumah yang sejak dulu di huni olehnya dan mendiang mamahnya bahkan Rumah inilah saksi bisu atas penderitaan sang mamah di masa lalu.
"Dasar para j****g" ucapnya sambil terus melaju dan mencoba menghidupkan rokoknya.
Nicho melajukan mobilnya bukan ke arah perusahaan, melainkan ia melajukan mobilnya ke kampus tempat Nasya menuntut ilmu.
"Bram, apa Nasya sudah masuk kelas?" tanyanya pada sang bodyguard yang sedang duduk di sebuah Cafe.
"Belum tuan, sepertinya Nona tidak masuk kelas" jawabnya sambil berdiri dan membungkukkan badannya.
"Tinggal dimana dia?" tanya Nicho lagi.
"Nona tinggal di apartemen sana tuan" jawab Bram sambil menunjuk ke salah satu bangunan yang menjulang tinggi.
"Mengapa dia tinggal di apartemen kumuh?" gerutunya kesal.
"what kumuh? apa anda tidak melihat jika bangunan itu masih berdiri dengan kokoh? apa mata anda rabun?" Bram hanya bisa mengumpati sifat Bos-nya yang menurutnya terlalu menyukai hal hal mewah.
"Apa dia ada di apartemennya?" tanyanya lagi
"Sepertinya ada tuan" jawab Bram tanpa ragu
"Kenapa kau masih disini jika tau Nona mu di sana?" tanya Nicho sebal Karna sang bodyguard hanya berdiri mematung.
"Maksud anda tuan?" Bram bingung bukankah dia hanya diperintahkan menunggu sang Nona masuk kampus dan tidak mengizinkan nya untuk memantau tau mengikutinya dari dekat. Lalu mengapa sekarang bosnya menyuruhnya pergi ke apartemen Nona nya.
"Cepat antar aku ke apartemennya, kau sungguh lamban" perintah Nicho menggerutu sambil berjalan cepat ke mobilnya.
Bram hanya bisa menurut ia segera mengantar sang Boss ke tempat tujuan, sesampainya di sana baru saja Nicho akan mengetuk pintu tiba-tiba pintu sudah terbuka dari dalam menampakkan sosok wanita cantik nan imut dengan memakai baju ala ootd Korean fashion dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya yang tidak terlalu mancung dan diikuti seorang wanita sebayanya dengan pakaian yang sedikit terbuka.
"Kau mau kemana?" tanyanya pada Nasya yang melewatinya begitu saja seakan akan mereka tidak saling mengenal.
"Anda siapa?" tanya Nasya yang seolah-oleh bingung sambil menurunkan sedikit kacamata matanya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kau akan pergi kemana? kenapa tidak pergi ke kampus?" tanya Nicho lagi dengan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Mulai sekarang aku hanya belajar daring saja" jawab Nasya sambil mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Nicho.
"Masuk!" titah Nicho dingin. Sebenarnya Nasya merasa takut namun dia mencoba pura pura tidak takut karna dia tidak ingin selalu di atur oleh Nicho.
"Kau siapa, hingga berani memerintahku?" tanya Nasya sinis.
"Ohhh, jadi sekarang kau mulai membantah perintahku? hm?" tanya nya sambil memojokkan tubuh Nasya ke dinding.
"Tidak usah berlagak seolah-olah kau adalah raja yang setiap ucapannya harus dipatuhi oleh siapapun itu" ucap Nasya lalu mendorong tubuh Nicho dan berlalu dari sana.
"Ikuti dia, dan terus awasi gerak geriknya" perintah Nicho pada Bram lalu pergi dari sana dengan emosi yang tertahan. Dia tidak suka di bantah apalagi di abaikan.