My Secret Bride

My Secret Bride
Bab42



Ternyata benar, tidak mudah ketika kita akan keluar dari lingkaran hitam, penuh rintangan dan tantangan. Entah harus bagaimana Nasya merespon tindakan papah tirinya.


"Mana janjimu?" tanya Nasya tanpa menatap Tuan Orlando di belakangnya.


"Tenang Baby, aku tidak akan membohongi mu" jawab Tuan Orlando sambil mengecupi pundak polos Nasya.


"Menyingkirlah!" bentak Nasya mendorong Tuan Orlando


"Kau penipu, bahkan setelah apa yang kamu lakukan malam itu, kamu tidak mentransfer ku uang sepeserpun" ucapnya dengan mengubah mimik wajahnya menjadi sedih.


"Maaf Honey, aku tidak berniat menipumu, hanya saja perusahaan ku sedang mengalami masalah" jawab Tuan Orlando sambil menangkup tangan Nasya.


"Aku tidak menanyakan itu, tapi mana janjimu yang akan memberiku 15% saham milikmu?" tagih Nasya dengan manjanya.


"Aku berjanji akan menepati janjiku, tapi tidak sekarang, tapi aku akan mentransfer mu uang sekarang, kamu butuh berapa?" tanya Tuan Orlando sungguh sungguh.


"200" ucap Nasya dengan wajah sumringah


"Baiklah aku akan memberimu 200 juta sekarang juga" jawabnya sambil menekan aplikasi di ponselnya.


"200juta? kamu pikir aku bekas hah?!" tanya Nasya dengan penuh amarah.


"Lalu berapa? tidak mungkin bukan jika kamu meminta 200 ribu?" tanya Tuan Orlando dengan bodohnya.


"Sialan!!!" pekik Nasya. "Cepat kirim aku 200 miliar!"


"Apa? 200 miliar? jangan gila kamu" jawab Tuan Orlando kaget Karna permintaan Nasya yang menurutnya terlalu besar.


"Kenapa? kau tidak bisa membayar ku 200 miliar? bukankah kau pengusaha sukses? hah?"


"Bukan tidak bisa, hanya saja perusahaan ku di bobol orang luar, jadi mana mungkin aku memegang uang 200 miliar? itu sama saja dengan 0,8% saham di perusahaan ku"


"Tidak sampai 1% bukan? jadi tidak masalah jika aku meminta mu 200 miliar dulu?" tanya Nasya penuh kekecewaan.


"Bagaimana jika aku beri 100 dulu?" Nego Tuan Orlando


"Cepat kirim!" bentak Nasya, buru buru Tuan Orlando mengirim uang ke rekening milik Alana yang sudah di janjikan sebelumnya.


"Aku sudah mengirimnya Honey, jadi tersenyum lah untukku" goda Tuan Orlando membelai wajah mungil milik Nasya.


"Pergilah, jangan pernah temui aku sebelum hutangmu lunas" ucap Nasya pada Tuan Orlando lalu memakai outer nya.


"Hahah, sekarang kau persis wanita rentenir honey" ucapnya lalu memeluk tubuh Nasya dengan erat.


"Lepaskan aku sialan!" pekik Nasya memukul pundak Tuan Orlando


"Dia merindukanmu" ucap Tuan Orlando sengaja menggesekkan miliknya yang sudah on entah sejak kapan pada milik Nasya yang tertutup bahan.


"Enyahlah! aku tidak ingin meladeni penipu seperti mu" ucap Nasya lalu berlalu dari sana meninggalkan Tuan Orlando.


"Ah sial, hanya melihat lekukan tubuhnya saja sudah membuat mu bangun?" tanya Tuan Orlando meremas miliknya sendiri sambil membayangkan gerakan erotis Nasya di bawahnya. Tanpa membuang waktu Tuan Orlando segera masuk ke dalam Toilet untuk menuntaskan hasratnya sambil melihat Foto Nasya yang hanya mengenakan lingerie saja saat pemotretan dulu.


"Ahhh Honey,,, lebih cepat" ucapnya sambil mempercepat ritme permainan tangannya namun matanya tidak luput dari foto Nasya,


*


*


*


"Ada apa kemari?" tanya Nicho saat baru memasuki ruangan nya namun di sana sudah ada istri dan orang tuanya beserta mertuanya.


"Honey, aku tidak bisa tidur" ucap Stev manja sambil bergelayut di lengan Nicho.


"Istrimu muntah muntah terus sedari kemarin, mungkin itu bawaan bayi yang tidak ingin jauh jauh darimu" ucap Nyonya Rita


"Mustahil, namanya juga hamil pasti ada gejalanya" ucap Nicho sambil mendudukkan bokongnya di sofa dekat papahnya.


"Ayolah Nich, apa kamu tidak kasian dengan wajah pucatku hm?" tanya Stev pada suaminya tanpa malu dia duduk dipangkuan suaminya sendiri.


"Wajahmu tidak pucat bahkan sangat belepotan dengan cat cat yang berwarna warni" jawab Nicho santai yang sontak membuat Jessica tertawa.


"Hahah, Nich belajarlah menghargai istrimu" ucap Jessica rasanya dia puas saat Nicho tidak peduli pada Stev


"Aku menghargainya, apa aku kurang menghargai istriku?" tanya Nicho pada mamih tirinya


"Kau sama sekali tidak menghargainya, dari mulai kau menyebutnya cat di wajahnya, akhir akhir ini juga kamu tidak pernah tidur di rumah, kamu selalu pergi saat tengah malam meskipun itu jam 4 pagi?" ucap Jessica keceplosan.


"Mengapa mamih sangat teliti? apa mamih mempunyai banyak waktu luang sampai mamih tahu kapan aku pergi meninggalkan rumah?" tanya Nicho yang langsung membuat Jessica gugup.


"hahahahah" tawa Jessica mencoba menghilangkan kegugupannya. "Namanya juga seorang ibu, pasti tahu kapan anaknya datang dan pergi, benar bukan pah?"


"Apa nanti malam kamu akan meninggalkan ku lagi?" tanya Stev pada Nicho.


"Kupikir kamu kurang shopping?" tanya Nicho mengabaikan pertanyaan Stev yang tadi.


"Sayang,,,, jangan menghindar dari pertanyaan ku" ucap Stev dengan nada tinggi


"Lalu haruskah aku menjawab tidak, agar kamu merasa bahagia padahal nyatanya nanti malam aku memang tidak bisa tinggal di rumah" jawab Nicho.


"Nichh,,, aku sedang mengandung anakmu, tidak bisakah temani aku tidur hanya semalam? bagaimana jika aku ingin apa apa malam malam? kamu pasti tahu bagaimana ibu hamil saat ngidam?" tanya Stev beruntun.


"Kamu bisa menyuruh pembantu di sana" jawab Nicho


"Tapi kamu tau kan? kadang si bayi selalu ingin makanan yang dibelikan papahnya" Stev terus menerus mencari alasan agar Nicho mau menemaninya tidur


"Jangan selalu bawa bawa anak, dia belum lahir saja sudah menyusahkan ku, apalagi nanti?" tanya Nicho lalu beranjak dari duduknya naluri ke bapak an nya hadir begitu saja, saat bangun dari duduknya dia juga memegang pinggang Stev agar ikut berdiri hingga tidak jatuh ke bawah.


"Setiap malam kamu pergi kemana?" tanya Stev yang kesal pada Nicho


"Aku pulang ke rumah ku, lagi pula aku tidak perlu berpura-pura lagi, kita menikah hanya Karna bisnis papahku yang aku tidak tahu bisnis apa hingga mengorbankan aku" jawab Nicho santai mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya.


"Pergilah ke Mall xxx aku dengar baju Paris fashion week yang kemarin sudah ada di sana, itu termasuk limited edition Karna hanya ada 5 saja yang asli, jika mau aku akan mentransfer mu uangnya" ucap Nicho


"Tidak bisakah kamu memberiku black card mu saja?" tanya Stev lagi, dia kesal Karna Nicho tidak memberinya kartu limit.


"Untuk apa? lagi pula aku selalu memberimu uang ke rekening mu" jawab Nicho santai


"Kirim aku uangnya, jangan pas harus lebih" pintanya kesal lalu berlalu dari sana tanpa berpamitan.


"Lihatlah anakmu Nyonya, bahkan dia tidak berpamitan pada suaminya sendiri" sindir Nicho pada Nyonya Rita


"Ver, ajari putramu sopan santun, bagaimana putriku mau menghormatinya jika dia sama sekali tidak menghargai putriku" ucap Nyonya Rita lalu berlalu keluar menyusul Stev.


"Rubah Sifatmu Nich, aku bilang berikan aku cucu, Stev masih hamil belum lahiran, jadi jika Stev keguguran maka perjanjian diundurkan" tegur Tuan Vernandes lalu bangun dari duduknya. "Ayo Mih kita pulang"


Sepeninggal nya semua orang Nicho diam melamun memikirkan langkah yang tepat untuk membuat dirinya keluar dari kekangan papahnya tanpa harus mengorbankan Nasya istri keduanya.


Bisa saja dia menjaga Stev dengan ekstrak namun bagaimana perasaan Nasya nanti saat dirinya harus tinggal bersama Stev, jika dia memilih tinggal dengan Nasya bagaimana nanti Stev, ia takut Stev menggugurkan atau keguguran kandungannya, jika itu terjadi papahnya akan semakin mengekang kehidupannya.


Cup


Kecupan hangat di pipinya langsung membuatnya sadar dari lamunannya, saat tahu siapa orang yang mengecupnya Nicho langsung melebarkan senyumannya lalu meraih tubuh mungil istri keduanya dan mendudukkannya di pangkuannya


"Kau sedang memikirkan apa dad?" tanya Nasya pada Nicho sambil mengelus jambang yang mulai tumbuh di pipi Nicho


"Tidak apa-apa" jawabnya dengan tangan yang merapikan rambut Nasya yang acak acakan.


"Jangan menyembunyikan apapun dariku" ucap Nasya dengan mata yang melotot,


"Tidak baby, hanya saja aku terlalu bingung" jawab Nicho lalu mengecupi wajah Nasya.


"Tidak apa, kita bicarakan membagi waktu nanti di rumah" ucap Nasya tiba tiba yang langsung membuat Nicho kebingungan. "Kenapa? kau nampak bingung, aku tadi sedikit mendengar obrolan mu dad, I'M sorry"


"Apa tidak masalah jika harus berbagi?" tanya Nicho


"No problem, aku ngerti bagaimana harusnya menjadi suami bagi dua istri" ucap Nasya mencoba bijaksana diusianya yang masih muda.


"Oh ya, berikan ini pada Stev, ini obat penguat janin agar janin tidak bisa digugurkan" ucap Nasya memberikan butiran obat dalam botol kecil pada Nicho.


"Kapan kamu membelinya?" tanya Nicho


"Tadi pagi," jawab Nasya.


"Apa kau bertemu dengan si Tua tadi?" tanya Nicho yang mendengar jika ayah mertuanya sebelumnya memang datang ke sini


"Yes, kamu tau? dia memelukku lalu mengecupi pundakku, menjijikkan sekali" ucap Nasya dengan ekspresi jijik


"Lalu kau tetap diam tanpa menolak?"


"Lalu aku harus bagaimana? haruskah aku menolak nya dengan kasar? bukankah kita sedang bertarung? jadi belajarlah bersabar agar semuanya terlihat elegan"


"Aku tidak menyalahkan mu, tapi jangan sampai dia mencium bibir milikku atau bahkan berlebihan, camkan itu" ancam Nicho yang sebenarnya tidak terima namun demi kelangsungan rencananya dia harus sedikit rela berbagi istri ke duanya dengan ayah mertuanya


"Apa kau tidak ingin menghilangkan jejaknya di pundakku?" tanya Nasya yang langsung membuat Nicho mengerutkan keningnya.


"Biasanya kau akan membersihkan ku dengan air panas?" tanya Nasya


"Jangan mengungkit masa kemarin aku malu baby" ucap Nicho yang langsung menjilati pundak Nasya bahkan sesekali meninggalkan bekas di sana, dia tidak segan untuk menggelitik perut Nasya agar menghilangkan sedikit rasa bersalahnya hingga Nasya tertawa terbahak-bahak