My Secret Bride

My Secret Bride
Bab52



Benar saja malam harinya Nicho pulang ke rumah Stev tanpa menyimpang kemana mana dahulu, tanpa mengetuk pintu Nicho langsung masuk ke dalam kamar, tanpa tahu ada duyung yang sedang duduk menggoda dengan memakai baju jaring ikan. Nicho pria normal apalagi duyung dihadapannya adalah istri sah nya juga, Nicho memang tergoda tapi mau bagaimana lagi di hati dan pikirannya hanya ada Nasya saja.


"Apa kamu sedang menggodaku Stev?" tanya Nicho tanpa menatap Stev yang membuka lebar pahanya dengan posisi di tekuk.


"Aku yakin, kamu tidak akan menolak ku malam ini" ucap Stev tersenyum sinis.


"Benarkah?" tanya Nicho melempar jas serta dasinya ke sofa lalu berjalan menghampiri Stev sembari membuka jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Stev yang awalnya bibirnya sumringah tersenyum lebar kini harus menahan kekesalan yang membuncah di dadanya saat Nicho menutupi tubuhnya dengan selimut tebal di sampingnya.


"Aku tidak ingin putraku kedinginan" ucap Nicho sambil mengelus perut Stev dan menghujaninya dengan ciuman kasih sayang. Stev luluh yang awalnya ingin memberontak karena tidak terima dengan ulah Nicho namun saat Nicho mengelus dan menciumi perutnya hatinya menghangat dan jantung nya berdebar, ada rasa haru di sana saat Nicho sedikit menghargainya meskipun dia tau jika yang Nicho hujani dengan ciuman adalah putranya bukan dirinya sendiri.


"Jangan bandel son" ujar Nicho pada putranya yang menendang nendang tangannya yang sedang mengelus perut Stev dengan keras.


"Kamu tau Nich? putramu selalu bergerak gerak, bahkan dia selalu menendang nendang dengan keras di setiap malam," cerita Stev pada suaminya.


"Sorry, jika putraku membebani mu"


"Dia juga putraku Nich, aku tidak merasa terbebani, malah aku bangga bisa menjadi seorang ibu dari keturunan mu, karna dia kamu bisa memberiku sedikit perhatian tidak seperti dulu, menganggapku pemuas nafsumu, karna dia juga kamu lebih menghargai ku, mengabulkan keinginanku bahkan kamu tau apapun yang aku inginkan" ucap Stev membelai wajah tampan suaminya sambil membayangkan saat saat Nicho membelikannya makanan yang diinginkannya saat itu, tanpa harus capek capek Stev pinta.


Tapi beda halnya dengan Nicho, perasaan Nicho tidak pernah mengabulkan keinginannya? Nicho selalu mengabulkan keinginan Nasya namun sialnya Stev selalu mengambil milik Nasya, "Mmm, benarkah?" tanya Nicho mencoba untuk tidak membuat ibu putranya kecewa.


"Yes, kamu tau? aku selalu menginginkan pancake dan jajanan yang berjejer di jalan, tapi saat aku datang ke kantor, semuanya sudah selalu siap di sana" ucap Stev dengan bibir mengembang.


Benar feeling Nicho, Stev pasti baper karna makanan yang disiapkan nya untuk Nasya, dia juga cukup heran dengan hormon kehamilan Stev, seolah putranya yang bersemayam di rahim istri pertamanya memiliki ikatan batin yang kuat dengan istri mudanya, dia juga tau, kedua istrinya adalah kakak beradik yang berbeda ayah, namun mengapa ikatan putranya seolah lebih dekat dengan bibinya.


Stev sedari tadi diam melamun memikirkan berbagai rencana, kini dia tahu alasan suaminya jarang pulang ke rumahnya karena suaminya telah menikahi adik tirinya sendiri. Ya, baru saja Stev menerima panggilan telepon dari seseorang yang mengintai gerak gerik sahabat Nasya, suruhannya mendapat informasi jika Alana dan Nasya akan memberikan kejutan kehamilannya pada Nicho, saat ini adiknya sekaligus madunya sedang mengandung benih Nicho yang sudah berumur 9 Minggu, mereka mengetahuinya saat Alana dan Nasya pergi ke dokter kandungan.


"Aku tidak akan membiarkan mu merasakan bagaimana rasanya mengandung bahkan melahirkan, hanya aku yang menjadi ibu dari keturunan Nicho, bukan kamu j****g" ucap Stev tersenyum smirk dengan berbagai rencana jahat yang sudah di rencanakan nya.


"Sudah selesai?" tanya Stev saat melihat Nicho keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.


"Hmm" Nicho hanya berdehem tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia bergegas menuju ruang ganti untuk mengambil pakaiannya.


Grep


Stev memeluk Nicho dari belakang dengan erat, bibir ya tidak tinggal diam, dia menciumi punggung Nicho bahkan sedikit meninggalkan bekas di sana.


"Hentikan Stev aku lelah" ucap Nicho melerai pelukan Stev di perutnya, namun Stev tidak hanya melepaskan pelukannya dia juga melepaskan handuk yang melilit di pinggang Nicho hingga saat ini Nicho telanjang bulat tanpa mengenakan apapun.


"Come on Honey, aku tau saat ini kamu menginginkan kehangatan ku" goda stev dengan menaik turunkan tangannya di milik Nicho yang sialnya sudah berdiri tegak entah sejak kapan.


"Jangan salahkan aku Stev" ucap Nicho lalu membopong tubuh Seksi milik Stev dan membaringkannya di atas ranjang.


Shittttt