My Secret Bride

My Secret Bride
Bab48



Masih sama dengan malam malam kemarin, saat ini Nicho masih uring-uringan tidak bisa tidur Karna rasa rindu yang membelenggu di hati dan pikirannya. Jika memang nyata adanya saat Nicho benar benar menginginkan putaran waktu Doraemon.


"Ahhh Shittt,,," umpat Nicho saat Stev memeluknya dengan erat, ingin sekali Nicho menendang istri pertamanya yang berani memeluknya.


"Sabar Nich,," lirihnya menyemangati dirinya sendiri.


Seperti biasa Nicho akan bangun lebih awal dari Stev, dia tidak ingin ketahuan jika semalam dirinya tidak tidur di ranjang yang sama dengannya.


"Kau sudah bangun Nich?" tanya Stev mencoba membuka matanya.


"Hm,"Nicho hanya berdehem saja tanpa menghentikan aksinya yang sedang memakai dasi. "Aku berangkat"


"Tidak ingin sarapan dulu?" tanya Stev melingkar kan tangannya di perut Nicho,


"Bagaimana aku bisa sarapan lebih dulu, jika orang yang seharusnya melayaniku baru bangun, padahal waktu sudah menunjukkan jam tujuh lewat 15 menit," jawabnya melepaskan dekapan tangan Stev


"Aku mencintaimu" Stev mencium bibir Nicho dengan nafsu, lain dengan Nicho, jika tidak ingat bahwa saat ini Stev sedang mengandung benihnya dia tidak akan segan menendang Stev Karna berani mencium bibir milik Nasya, apalagi apa ini? Stev menciumnya saat pertama kali membuka matanya apa dia tidak merasa jijik dengan mulutnya yang belum terbersihkan meski hanya dengan segelas air.


"Siapa yang mengizinkan mu mencium bibirku?" tanya Nicho dingin dengan tatapan menusuk, yang langsung membuat Stev bergidik ngeri.


"Hahaha, lalu aku harus mencium apanya jika bukan bibir?" Stev mencoba menghilangkan ketakutannya dengan tertawa.


"Sekarang kamu aku bebaskan, jika berani sekali lagi jangan harap kamu masih bisa melihat langit yang menemani langkahmu" ancam Nicho lalu berlalu keluar menggosok bibirnya dengan tangan jas yang dipakainya.


"Sarapan dulu Nichh," teriak Jessica saat melihat putra tirinya melewati ruang makan, namun Nicho sedikitpun tidak menghiraukannya sama sekali bahkan menghentikan pergerakannya saja tidak.


Di sepanjang jalan bibir Nicho tidak berhenti mengumpat pada mobil mobil yang menghalangi jalannya, bahkan dia menurunkan kaca mobilnya lalu mengumpat pada mobil yang ada di depannya atau di sampingnya.


"Hey! apa kau tidak bisa menyetir hah?!" umpat Nicho pada pengemudi yang lain, membuat seseorang di sebrang sana menahan tawanya melihat ekspresi sang kekasih yang bak ke syetanan, entah apa yang terjadi dengan istri pertamanya hingga membuat kekasihnya gila di jalanan.


Tut tit tit


"Cepat jalankan mobilnya bodoh!" teriak Nicho yang terdengar bodoh, mana bisa menjalankan mobilnya sedangkan di depan sana lampu sedang menunjukkan warna merah, apalagi di depan sana berjejer para polisi yang sedang berpatroli di lalu lintas.


"Hey Pria gila! bahkan kamu lebih bodoh dari orang yang kau cap bodoh!" emosi pengemudi yang lain, mereka sungguh tidak menyukai gaya arogan Nicho yang ingin menguasai jalannya untuk sendiri


"Apa kamu bilang?!" emosi Nicho keluar saat ada orang lain yang menghinanya bahkan dia sampai keluar mobil menghampiri orang yang menghinanya.


"Apa? tidak terima?" tanya pengemudi tadi yang tak kalah emosi dari Nicho bahkan saat ini mereka sudah menggulung lengan bajunya seolah akan memulai pertarungan.


Bughhh


Nicho tidak tahan untuk tidak meninju pria di hadapannya, dia bahkan memukul dengan membabi buta orang yang telah menghinanya, hingga pengemudi yang lain terpaksa keluar dari mobilnya guna melerai perkelahian Nicho lebih tepatnya menghentikan aksi gila Nicho yang di tonton banyak orang.


"Jangan menyentuh ku sialan!" teriak Nicho menghempaskan seluruh tangan yang menahannya dia benar-benar sedang emosi saat ini, hingga akhirnya sebuah tangan mungil melingkar di lengannya dan benda kenyal menempel di pipinya, emosi Nicho sempat menaik beribu ribu kali lipat saat ada orang yang berani menyentuhnya sembarangan namun saat melihat kebelakang emosinya langsung mereda seketika sat melihat bibir mengerucut milik kekasihnya.


"Baby" ucap Nicho mendekap erat tubuh Nasya yang sudah di rindukannya.


"Ada apa ini?" tanya seorang polisi yang melihat ada keributan,


"Ini pak, pria sombong dan arogan yang membuat ulah ini" adu seorang pengemudi yang membantu korban pukulan Nicho.


"Apa kau bilang?" tanya Nicho tidak terima dengan ucapan seorang pengemudi yang mengadukannya, bahkan Nicho melepaskan tangan Nasya dan berjalan menghampiri orang yang mengadukannya.


"Hentikan Nich," rengak Nasya dengan mata berkaca-kaca, dia tidak ingin Nicho berurusan dengan hukum apalagi ada polisi sudah dipastikan Nicho akan menerima sangsi dan surat panggilan penahanan, meskipun Nasya pun yakin tidak sulit bagi Nicgo untuk terbebas dari hukumannya tapi tetap saja reputasi Nicho bisa bisa akan buruk di mata masyarakat lain.


"Hey baby, tidak usah menangis," ucap Nicho menenangkan kekasihnya yang sudah membendung air matanya, "Aku tidak akan menghiraukan ucapan mereka aku juga tidak akan emosi lagi. So, please don't cry baby"


"Maaf pak, silahkan ikut kami ke kantor polisi" ucap salah seorang polisi dengan lembut.


"Tolong panggilkan ambulance dan ini KTP ku, silahkan hubungi aku nanti dan ini kartu nama saya anda bisa datang ke perusahaan, saya tidak bisa memenuhi panggilan sekarang, istri saya bisa menangis kejer jika melihat saya di bawa di mobil patroli" ucap Nicho dengan senyum melebar memberikan kartu nama dan KTP miliknya.


Awalnya polisi akan melarang nya yang meminta bernegosiasi dengannya, namun saat melihat kartu nama dan KTP nya mereka segera menggangguk hormat dan mempersilahkannya kembali berkendara.


"Ayo masuklah baby" ucap Nicho membuka pintu mobil di samping kemudi untuk istrinya, tanpa memberi jawaban Nasya langsung duduk di kursi samping kemudi dengan bibit yang masih mengerucut ke depan.


Sepanjang perjalanan Nasya hanya diam tanpa bertanya atau menjawab pertanyaan Nicho.


"Baby, bicaralah jangan terus diam, apa kamu tidak takut jika kamu benar benar tidak bisa berbicara? hm?" tanya Nicho mencium tangan Nasya yang di genggam nya.


"Bisa tidak Nich, jangan lakukan itu lagi? kasihan tau orangnya nyampe babak belur gitu?" ucap Nasya tanpa menatap Nicho, namun Nasya langsung melirik ke arah Nicho saat tangannya di hempas oleh Nicho dengan sedikit kasar.


"Why? apa aku salah?" tanya Nasya saat melihat tatapan Nicho yang mengkilatkan kemarahan dengan tanga yang mencengkeram setir mobilnya,


"Nich, aku harus bagaimana? bukankah benar bagaimana jika dia mati Karna ulahmu hah?" tanya Nasya, lagi lagi ucapan Nasya salah menurut Nicho, hingga Nicho menaikkan kecepatan mobilnya.


"Ahhh sialll!" umpat Nasya memijat kepalanya lalu beranjak pindah ke pangkuan Nicho yang sedang menyetir.


"Hahah lagi marah kok bisa sih gak ngelarang istrinya duduk di pangkuan? hm?" tanya Nasya membelai wajah Nicho namun Nicho tetap tidak ingin menatapnya sama sekali Nicho juga tidak menurunkan kecepatan mobilnya.


"Baiklah kita mati bersama saja" ucap Nasya langsung mencum*Bu bibir Nicho yang tebal, Nasya sengaja memperdalam ciumannya menahan kepala Nicho agar dia bisa menikmati lebih dalam bibir yang selalu membuatnya mende*sah, pinggulnya pun tidak tinggal diam Nasya dengan sengaja memepetkan tubuhnya pada Nicho hingga tidak berjarak.


Cittttt


Nicho menepikan mobilnya ke pinggir jalan, tanpa membuang waktu Nicho langsung membalas cium*an Nasya yang panas dengan menggebu gebu,


"Apa kita harus melakukannya di sini? hm?" tanya Nicho dengan senyuman melebar.


"Are you crazy dude?" ucap Nasya dengan tersenyum mengembang melihat perubahan ekspresi wajah suaminya yang berubah 180 derajat dari sebelumnya.


Sebenarnya membuat suami bahagia itu mudah, kita hanya harus bisa mengerti apa yang di butuhkan nya saat ini, terkadang suami akan sangat bahagia jika istrinya dengan sukarela menawarkan tubuhnya, meski terdengar seperti j****g namun faktanya memang begitu, jika kita tidak melakukannya jangan salahkan jika sang suami berpindah dari rumah menuju rumah malam.