My Secret Bride

My Secret Bride
Bab25



Ayam berkokok matahari mulai menampakkan seluruh permukaannya. Mobil motor segera memenuhi padatnya lalu lintas untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.


Namun berbeda dengan seorang insan yang hanya memakai piyama berbahan sutra yang masih tertidur dengan posisi menyender ke balkon di lantai kamarnya.


Clek


Nicho masuk ke dalam kamar yang di tempati Nasya semalam, netra ambernya menelusuri ranjang yang seharusnya terdapat Nasya yang masih tertidur pulas. Tapi saat dia tak menemukan sosok yang di carinya dia langsung panik takut jika Nasya telah kabur dari genggaman nya dia tidak rela jika Nasya lepas darinya sebelum dendamnya terpuaskan.


Tapi saat manik amber itu menelusuri seluruh ruangan netranya langsung menangkap sosok wanita yang tidak lagi cantik sedang tertidur di lantai dengan posisi duduk dan menyender di kaca menuju balkon.


"Ohhh,,, bagusss jam segini masih belum bangun?" tanya Nicho mengejek saat melihat Nasya yang masih enjoy dalam dunia mimpinya.


Byurrr


Nicho menyiram Nasya dengan air di dalam teko yang ada di ruangannya, hingga membuat Nasya terpaksa membuka matanya. Ingin rasanya dia marah pada orang yang membangunkannya dengan cara tak sopan, tapi saat netranya terbuka ia menangkap sosok raja iblis yang sedang berdiri dengan gaya arogannya.


Nasya hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar saat Nicho menjambak rambutnya.


"Apa semalam kau lelah Botch?" tanya Nicho pada Nasya dengan tersenyum iblis. "Cepat bangun dan kerjakan pekerjaan rumah!" titahnya lalu menghempaskan tubuh Nasya hingga terbentur dengan keras.


Tanpa menjawab pertanyaan Nicho Nasya segera masuk ke dalam bilik kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Perihhhh,,,, itulah yang dirasakannya saat tubuhnya ia guyur dengan air dingin.


Setelahnya Nasya segera mengambil piyama sutra yang lain tanpa memakai dalaman. Tubuhnya masih perih jika harus bergesekan dengan kain kain yang cukup kasar. Ia turun ke bawah dengan keadaan fisik yang masih belum fit.


"Siapkan sarapan Botch!" titah Nicho sambil duduk di kursi makan. Tanpa memprotes Nasya segera mengambil dua helai roti dan mengoleskan selai coklat.


"Aku tidak ingin selai coklat gantilah" titahnya saat Nasya memberikannya roti selai coklat. Dengan terpaksa Nasya mengolesi roti lain dengan selai kacang.


"Ganti! aku tidak ingin selai kacang" titahnya lagi. Nasya segera mengganti dengan selai yang lain namun tetap salah dan salah.


Brakk


Nasya menggebrak meja dengan wajah menahan amarah.


"Baiklah, kau ingin makan apa yang mulia raja?" tanya Nasya sengaja menekankan kata yang mulia raja sebagai bentuk kekesalannya akan sifat Nicho yang menurutnya terlalu kekanak kanakkan.


"Buatkan aku makanan berat saja, aku pikir aku ingin itu" jawabnya sambil mengalihkan tatapannya ke arah luar.


"Kau ingin besi atau baja?" tanya Nasya


"hahh?" tanya Nicho bingung.


"Bukankah kau ingin makanan berat? kau ingin semur besi atau gulai baja?" tanyanya lagi yang sontak membuat Nicho tertawa.


"Hahahaha,,,, harusnya kau menjadi komika bukan aktor Botch,, kau cukup menghibur pantas saja klienmu tak pernah absen dari dataan" ucapnya menghina Nasya dengan bibir yang dulu tak pernah menyakiti Nasya sedikitpun.


"Jika kau tau lalu Mengapa kau mengurungku di sini? padahal kau jelas tau klienku pasti sudah menungguku dengan tak sabaran"


"Berapa tarifmu permalam?" tanya Nicho sambil berjalan mendekati Nasya. "Aku akan membayar mu 10x lipat dari klienmu yang lain" tawarnya sambil memeluk tubuh mungil milik Nasya.


"Tarifku hanya 2 M jika di lipat 10x maka 20M iya bukan?" tanya Nasya pada Nicho yang saat ini lidahnya sedang menjelajahi lehernya yang lecet.


"Baiklah, aku akan membayarmu 20M asalkan kau yang di atas Botch!" jawabnya sambil berbisik di belakang telinga Nasya.


"Itupun jika aku mau, aku cukup pemilih untuk tidur dengan pria" ucap Nasya sinis


"Betul,,, Kriteriaku adalah pria yang tidak mudah tergoda hanya dengan melihat tubuhku saja, aku ingin mereka menikmati belaian ku saat aku membangunkan miliknya" ucap Nasya dengan tatapan liar yang menerawang jauh seolah olah dia sedang masuk ke dalam imajinasi kebiasaannya.


"Aku akan membuat kau bersujud di hadapan pusaka ku Botch!!!" umpatnya dengan emosi yang sudah naik


"Aku tidak akan pernah bersujud di sana, bahkan bersujud di bawah kakimu saja aku Sudi melakukannya," jawab Nasya tanpa memikirkan konsekuensinya. "Memangnya kau siapa yang harus aku Sujudi? pemimpin negara kah? ayu pemimpin rumah tangga?" tanya Nasya dengan tertawa sumbang.


"Ooooo... aku lupa kau memang kepala rumah tangga, tapi kau salah sasaran Dude anggota mu bukan aku, jadi suruh lah anggota mu untuk bersujud di manapun yang kamu mau" ucap Nasya sambil menunjuk nunjuk dada Nicho.


Nicho hanya bisa pergi dengan tangan yang terkepal meninggalkan Nasya yang sedang terbahak-bahak puas membuat Nicho malu akan ulahnya sendiri. Seharusnya Nicho tau jika dia adalah tipikal orang yang tidak akan diam jika di rendahkan.


"Dasar pecundang!" umpat Nasya saat melihat mobil Nicho telah keluar dari halaman rumahnya.


"Bibi!!!!!!" teriak Nasya memanggil pelayan yang ada di rumahnya


"Iya Nona?" ucap kepala pelayan berlari tergopoh-gopoh menuju ke arah Nasya.


"Mana ponselmu?" tanya Nasya pada kepala pelayan sambil menengadahkan tangannya.


"Untuk apa Nona?" tanya kepala pelayan bingung saat Nasya tiba tiba menanyakan ponselnya.


"Cepat berikan aku ponselmu, ponselku tertinggal di Hotel" ucap Nasya memaksa kepada kepala pelayan.


"Maaf Nona tapi Tuan Muda melarang saya untuk memberi anda ponsel" tegas kepala pelayan.


"Ohhhh,,, jadi kau suka melihat aku di siksa oleh Tuan mu? apakah kau pikir aku sedang membuat sebuah film? hahh?" tanya Nasya dengan nada membentak.


"Tidak Nona.... jika boleh saya tahu untuk apa anda meminjam ponsel saya?" tanya kepala pelayan yang bername tag Inah.


"Heyy Inahh,,,, aku ingin menghubungi kekasihku... aku hanya ingin pulang lagipula aku harus menjalani pengobatan akibat ulah tuanmu" ucap Nasya kesal dengan tangan yang seolah olah akan memukul bi Inah.


"Cepat mana ponselnya?" tanya Nasya tak sabaran.


"Maaf Nona tapi saya tidak bisa memberikan ponsel hanya untuk menghubungi kekasih anda" jawab bi Inah dengan tertunduk. "Jika anda membutuhkan sesuatu, katakanlah Nona"


"Sampaikan pada Tuanmu jika aku ingin pulang, aku merindukan kekasihku.... dia tidak ber hak mengurungku di sini" ucap Nasya dengan nada tinggi.


"Tidak bisakah anda menurut saja pada kemauan Tuan Muda Nona?" tanya Bi Inah hati hati.


"Kau ingin aku di siksa setiap saat hah?"


"Tidak Nona, saya yakin jika anda berlemah lembut pada Tuan Muda saya yakin Tuan akan kembali baik seperti dulu Nona"


"Cihhhh,,,,, untuk apa aku berlemah lembut pada monster yang sudah merusak tubuhku?"


"Cukup menurut dengan perintahnya saya yakin Tuan tidak akan menyiksa anda Nona"


"Memang dia siapa yang patut aku turuti perintahnya bahkan dia hanya masa lalu yang pernah menemani malam malam gabutku"


"Dan kau siapa berani memerintahku sialan?!!!!" teriak Nasya pada Bi Inah


"Percayalah,,,, apapun yang anda lakukan Tuan tidak akan pernah melepaskan anda!" ucap Bi Inah dengan suara tinggi lalu berlalu dari sana.


"Ya!!!! bahkan dia bukan suamiku yang harus ada keputusannya untuk membiarkan aku pergi sialann!!!!!" teriak Nasya pada Bi Inah yang sudah pergi meninggalkannya.