My Secret Bride

My Secret Bride
Bab43



Di dalam ruangan bernuansa gelap dengan lampu tidur yang temaram Nicho memeluk istrinya dengan erat, sebenarnya dia tidak ingin jika malam malamnya harus berpisah dari istri keduanya. Jika biasanya Istri kedua akan melunjak dan ingin menguasai seluruh waktu suaminya, namun berbeda dengan Nasya yang mengerti posisinya jika dia bukan satu-satunya istri Nicho, sebisa mungkin dia mencoba untuk bersikap dewasa menyikapi keadaan yang sedang dijalani suaminya.


Flash back of


Sampai sore harinya Nasya tetap menunggu Nicho menyelesaikan pekerjaannya tanpa mengeluh bosan sedikitpun, bagaimana tidak bosan? seharian penuh dia tidak lepas dari pangkuan Nicho bahkan Nicho dengan sukarela pindah ke sofa panjang agar memudahkan Nasya tertidur di pangkuannya.


Sampai waktu pulang datang, Nasya tidak ingin mampir kemanapun dia hanya ingin cepat sampai di rumah,


"Tidak ingin mampir ke mana dulu gitu?" tanya Nicho pada istrinya


"Malas, langsung pulang saja, apa kamu ingin mampir ke suatu tempat?" tanya balik Nasya


"Tidak, aku takut kamu ingin mampir dulu" jawab Nicho dengan bibir tersenyum pada istrinya.


Sampai di rumah Nasya langsung makan dengan lahap Karna perutnya sangat lapar, bukan Nicho membuatnya kelaparan hanya saja perut Nasya yang selalu keroncongan meski sudah di beri asupan.


"Apa istri ku kelaparan? hm?" tanya Nicho menghujani Nasya dengan kecupan di pucuk kepalanya


"Sangat Dad," jawab Nasya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Baiklah, makan yang banyak. sepertinya malam ini kita akan menghabiskan banyak energi" goda Nicho dengan tangan yang sudah merayap kemana mana.


"Energi otak mu," ucap Nasya ketus, "Aku lagi haid dong,,, hari libur dinas,hahaha"


Nasya tertawa terbahak-bahak menertawakan wajah Nicho yang tadi semangat kini menjadi murung,


"Mengapa harus sekarang? tidak bisakah nanti saja" tawar Nicho


"Maaf mas, lagipula istrimu tidak satu jadi jangan sedih hanya Karna malam ini kedinginan" ejek Nasya


Sampai akhirnya Nicho harus merendam hasratnya yang sudah naik sedari tadi.


"Dad" ucap Nasya


"hmm?" tanya Nicho sambil memeluk tubuh ramping milik Nasya


"Bermalam lah di sini 3 malam dalam satu Minggu, 4 malamnya temani Stev, lagipula dia tetap istrimu yang wajib kamu nafkahi" ucap Nasya memulai pembicaraan


"Aku tidak bisa Sya, tidur ku tidak nyenyak jika tanpa kamu" jawab Nicho seadanya


"Bukankah sebelum menikah pun kamu hanya satu kali tidur bersamaku?" tanya Nasya lembut pada suaminya


"Kamu tau? aku memang bukan wanita baik baik, tapi aku tidak menyangka jika aku akan berakhir menjadi orang ketiga dalam rumah tangga pria yang sangat aku cintai" ucap Nasya dengan tersenyum miris


"Tapi aku harus bagaimana lagi bukan? ini semua sudah takdir, aku bisa apa?"


"Jangan katakan kamu perusak rumah tanggaku Baby, kamu kekasihku ini semua Karna Stev yang tidak tahu diri, bahkan dia memaksa pada papah agar segera menjodohkan kita padahal dia jelas tau jika aku sedang menjalin cinta dengan adiknya, jadi berhenti mengatai dirimu perusak dan segalanya" ucap Nicho dengan dada naik turun, dia benci Nasya men cap dirinya pelakor, padahal kemarin Nicho menghinanya habis habisan.


"Aku tau itu? tapi pacaran bukan hal sakral bukan? jadi salah siapa mencintai jodoh orang, tapi apa kamu mencintaiku?" tanya Nasya pada suaminya


"Apa perlu aku jawab lagi?" tanya Nicho dengan menaik turunkan alis.


"Biasanya, kamu akan menjawab 'aku lebih mencintai mu lebih dari siapapun ' begitu bukan?" tanya balik Nasya


"Itu kamu tau jawabannya"


"Karna kamu mencintaiku, bisakah kamu memperbaiki Marwah ku kembali?" tanya Nasya sungguh sungguh


"Maksud kamu?" tanya Nicho bingung


"Tidak mungkin, aku akan menutup mulut publik dengan kekuasaan ku" ucap Nicho mencoba meyakinkan.


"Hahahah,,, kamu hanya bisa menutup komentar di medsos saja, atau memenjarakan 5 sampai 10 orang yang menghinaku, tapi kamu tidak bisa menutup pemikiran buruk mereka terhadapku"


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Nicho pada istrinya


"Seperti ucapanku tadi, tidur denganku tiga malam lalu kamu akan tidur dengan maduku 4 malam" ucap Nasya.


"Itu tidak adil bagaimana bisa aku lebih lama tidur dengan Stev?" protes Nicho


"Adil Nich, istri Pertama mu sedang mengandung buah cinta kalian, jadi kamu harus lebih memperhatikan nya dengan ekstrak," ucap Nasya mencoba menjelaskan pada Nicho agar Nicho mengerti tujuannya.


"Lalu, kau akan tidur dengan ku tiga malam sebagai imbalannya tinggallah di sini malam Sabtu sampai hari Senin, jadi kamu pulang ke rumah ku Jum'at sore dan pulang dari sini Senin pagi"


"Oh jadi maksud mu tiga hari, menghabiskan hari weekend bersamamu Karna jatahmu hanya tiga malam? Senin pagi kenapa tidak Senin sore?" tanya Nicho mencoba bernegosiasi


"Bukankah hari Senin kamu bekerja setelah Bekerja tidak mungkin bukan jika kamu pulang dulu kemari? kamu pulang bekerja saja pukul 6 Maghrib waktumu berkunjung ke rumahku sudah habis dad" ucap Nasya kesal karena Nicho seperti tidak benar-benar mendengarkannya.


"Okey, aku akan melakukan perintahmu, tapi untuk apa kamu melakukan itu?" tanya Nicho Karna tidak mungkin Nasya menawarkan penawaran tanpa ada keuntungan


"Dasar suami lemot, yah agar semua orang tidak terlalu mengkritik ku, orang orang akan berpikir wajar jika Nicho mendua dengan Nasya orang mereka sedang menjalin hubungan, dan orang orang juga akan berpikir ternyata Nasya tidak serakah, begitulah maka aku tidak akan terlalu di pandang buruk oleh orang orang"


"Hahaha jadi di sini kamu korban?" tanya Nicho dengan tawa yang menggema.


"Bukan sih, tapi zaman sekarang terkadang pelaku berlaga menjadi korban agar terhindar dari kritikan" ucap Nasya dengan bibir tersenyum bahagia


"Hahah, baiklah yang mulia ratu aku akan melakukan semuanya untuk mu, tapi apa kamu tidak takut aku akan jatuh cinta pada kakak mu?" tanya Nicho berharap Nasya membatalkan tawarannya.


"Tidak, Karna aku yakin cinta tau kemana dia harus pulang, tidak apa jika kamu mencintai Stev dia juga pantas di cintai dia istrimu dan calon ibu dari anakmu jadi aku tidak perlu takut, aku hanya pasrah dan berdoa semoga kamu tidak menyingkirkan namaku di lubuk hatimu" jawab Nasya skakmat yang mampu membuat Nicho menganga dengan jawaban Nasya yang tidak biasa.


"Oh ya satu lagi, apa kamu lupa memberiku nafkah uang? mengapa kamu tidak memberiku uang resiko?" tanya Nasya manja sebal dengan kelakuan suaminya.


"Ada Bi Inah yang mengurus keuangan makan di rumah, jadi mintalah pada Bi Inah jika kamu ingin membeli bahan makanan seleramu" ucap Nicho gamblang


"Suami pelit, itu beda lagi kamu pikir aku tidak butuh jajan hah?!" pekik Nasya memukul mukul tubuh Nicho dengan bantalnya.


"Hahah baiklah, sudah lama aku menunggu bibirmu meminta nafkah lahir padaku, apa mau sekalian dengan nafkah batinnya istriku?" goda Nicho dengan ekspresi gemulay nya,


"Nicho Jijik, kamu sangat cocok menjadi kembaran kucinta Luna" teriak Nasya yang jijik pada Nicho yang sedang berjalan dengan gaya gemulay nya.


"Yang mulia ratu ini yang anda pinta" ucap Nicho dengan membungkukkan badannya sambil memberikan black Card di tangannya.


"Kirim saja uangnya pada rekening ku, kau harus memperlakukan istrimu sama tidak boleh berbeda" ucap Nasya menolak black card yang Nicho berikan.


"Apa kamu benar tidak mau?" tanya Nicho keheranan.


"Tidak, berikan aku uang dengan jumlah yang kamu kirim pada Stev, tapi untuk bulanan beda Karna yang kamu kirim pada kakak ku pun hanya untuk shopping" ucap Nasya tanpa menatap Nicho yang melotot tak percaya.


"Lalu bedakan untuk jatah calon bayimu, susu hamil beda, berobat kehamilan juga beda, intinya harus adil," lanjutnya sambil menguap lalu merangkul leher Nicho.


cup


"***Ayo tidur ini sudah malam" ajaknya sambil menuntun tubuh Nicho agar berbaring sambil memeluknya.


"Good Night Dad" ucap Nasya lalu tidur tanpa menerima jawaban dari Nicho yang pikirannya sedang berantakan***.